Kiprah Kabinet Kerja Di 73 Tahun kemerdekaan Sebuah Pencapaian

Oleh: Andi Nursaiful (Administrator) - 31 October 2014

Naskah: Sahrudi Foto: Sutanto

Jika pada pukul 06.00 WIB ada mobil sedan warna hitam terparkir di depan lobi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pastilah itu mobil Bambang Hendroyono, Sekretaris Jenderal (Sekjen) KLHK. Ya, di ‘pagi buta’ yang masih menyisakan dingin malam, Bambang sudah ada di kantor. Menjalankan tugas sembari ditemani segelas teh hangat dengan sedikit penganan di ruangan kerjanya yang tertata asri, begitulah kesehariannya. Padahal, jarak antara rumahnya di Cibubur, Jawa Barat dengan kantor KLHK di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, kurang lebih 25 kilometer!

 

Apa yang dilakukan Bambang itu merupakan kebiasaannya sejak masih jadi pegawai honorer tahun 1987 lalu. Hanya saja, sejak menjadi Sekjen, ia harus lomba datang subuh dengan atasannya, Menteri KLHK, Siti Nurbaya yang tak kalah gesit. Datang sebelum jam kerja, bagi alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini bukan sekadar kebiasaan, tapi sebuah keharusan karena menyangkut kedisiplinan. Dan disiplin itu sendiri adalah bagian dari integritas seseorang apakah dia itu pimpinan atau bawahan. Sebagai Sekjen yang tugasnya, antara lain berkaitan dengan eksistensi sumber daya manusia di lingkungan kementeriannya, Bambang mengakui bahwa ‘integritas’ adalah kata kunci bagi seorang pelayan publik. Sikap membangun dan meningkatkan integritas itulah yang ia implementasikan kepada seluruh jajaran KLHK sebagai upaya mewujudkan tekad pemerintah dalam melakukan revolusi mental. 

 

Integritas moral itu, tutur suami dari drg. Ambarwati Diah Kusumaningrum, ini adalah ikhlas tanpa pamrih, jujur dalam segala hal, dan bertanggung jawab. “Artinya, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) harus mengerjakan apa yang harus dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan penuh kejujuran,” tegas ayah dari Indriyani Sekarputri ini. Bambang selalu mengingatkan bahwa seseorang yang memiliki integritas moral dapat dilihat dari satunya antara kata dan perbuatan. “Satu kata yang keluar dari sebuah integritas, keikhlasan, dan pikiran positif, akan mempunyai nilai,” tutur pria kelahiran Tanjung Pinang, 30 September 1964 ini sembari mengingatkan bahwa selama kita melaksanakan prinsip integritas maka kita akan kokoh meski dihadang oleh badai.

 

Tapi ia juga mengingatkan bahwa kedisiplinan seorang ASN harus ditopang oleh sikap profesional. “Makna profesional itu adalah ia harus menguasai bidang, menguasai substansi, menguasai regulasi, dan melaksanakan tugasnya secara efektif, efisien dan menggunakan kecerdasan serta spiritualnya. Untuk itu kita harus belajar, banyak baca, cari pengalaman, banyak diskusi pada staff profesional,” pesan pria yang sempat mengejutkan KLHK karena pernah menjabat sebagai Dirjen Bina Usaha Kehutanan di usia yang masih relatif muda, yakni 48 tahun. Bambang juga memiliki pemikiran bahwa setiap ASN di KLHK harus mampu meningkatkan kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient), kecerdasan emosi (Emotional Quotient), dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) ditambah inteligensia global, bisnis dan sosial budaya, sehingga mampu meningkatkan produktivitas. Sebagai ASN yang mengurusi antara lain soal kehutanan, katanya, ketiga kecerdasan itu sangat penting dimiliki untuk bisa meningkatkan produktivitas hutan secara ekonomis, efektif dan efisien. 

 

Pemikirannya itulah yang kemudian ia tuangkan dalam disertasi doktornya yang berjudul “Kepemimpinan Transglobal Sebagai Penggerak Produktivitas Hutan Produksi Pada Hutan Tanaman Rakyat (HTR) di Indonesia” dan mengantarkannya meraih gelar doktor Ilmu Administrasi dengan predikat Cumlaude dari Universitas Brawijaya, Malang. Pria yang memanfaatkan waktu libur untuk berolahraga ini ternyata tak hanya mampu menuangkan ide, pemikiran dan penelitiannya dalam sebuah disertasi, tapi juga dalam karya dan inovasi. Sebut saja inovasi proyek perubahan yang ia buat untuk melengkapi pendidikan latihan pimpinan (Diklatpim) Tingkat I. Ketika itu Bambang menyusun sistem penerapan kebijakan self assessment berbasis teknologi informasi dan post audit dalam rangka peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan hutan produksi melalui “Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan” (SIPUHH Online). Karyanya itu mendapat penghargaan sebagai peserta terbaik dalam lomba inovasi pelayanan publik di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan masuk dalam “40 Top”.

 

Kiprahnya yang luar biasa dalam membangun kinerja ASN di KLHK ini diganjar dengan banyak prestasi. Setidaknya, di tahun 2017 ini ada tiga penghargaan yang diterimanya. Pertama, apresiasi negara berupa anugerah “Satyalancana Wira Karya” karena jasa-jasanya dalam upaya mendukung reformasi birokrasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang terbaik yang bersifat akuntabilitas dan transparansi, efisien dan efektif, melalui kegiatan dan inovasi. Anugerah ini diserahkan secara langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo. Kemudian, piagam penghargaan “BKN Award” sebagai pengelola kepegawaian terbaik tingkat kementerian kecil. Dan, ketiga penghargaan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara/Reformasi Birokrasi RI yang memasukan Bambang dalam “Top 9 Pejabat Pimpinan Tinggi Madya Tingkat Nasional Tahun 2017”.

 

Namun begitu, pria yang tak mau mencantumkan gelar bangsawan Solo di depan namanya ini, selalu menghindar untuk menonjolkan diri. Tapi kalau apa yang ia lakukan menjadi inspirasi bagi masyarakat maka hal itu ia anggap sebagai ibadah. Seperti misalnya ketika ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Nurul A’Jam di lingkungan kerjanya, baginya itu adalah ibadah yang ia kerjakan dengan sepenuh hati. Harapannya hanya satu, yakni ASN di lingkungannya mampu menjadi yang terbaik tidak hanya bagi lembaga tapi juga bagi negara dan bangsa. Ia ingat betul, sebelum dirinya dianugerahi penghargaan “Top 9 Pejabat Pimpinan Tinggi Madya Tingkat Nasional Tahun 2017” ada moto yang wajib dilaksanakan yakni “melayani dengan sepenuh hati” sebagai prinsip luhur seorang aparatur negara.