Kiprah Kabinet Kerja Di 73 Tahun kemerdekaan Sebuah Pencapaian

Oleh: Andi Nursaiful (Administrator) - 31 October 2014

Naskah: Arif Rahman Hakim Foto: Dok. Pribadi

Integritas, loyalitas, dan dedikasi, tiga prinsip itulah yang selalu menjadi pegangan Mayjen (Purn) Dr. Ahmad Yani Basuki., M.Si dalam menjalankan setiap tugas yang diberikan negara kepadanya. Sejak masih aktif di militer hingga sekarang menjabat Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), prinsip-prinsip tersebut tak lepas dari keseharian pria kelahiran Blitar, 5 Maret 1956 ini.

 

Meski berlatar belakang militer dan pengajar di beberapa universitas, Ahmad Yani Basuki tak menolak saat negara menugasinya untuk mengurusi masalah sensor film. Karena, bagi alumni Sekolah Perwira Prajurit Karir (SEPAPK) lulusan tahun 1984, ini Lembaga Sensor Film (LSF) saat ini adalah ‘benteng’ dan pelindung masyarakat dari pengaruh negatif film, sekaligus pendorong berkembangnya perfilman nasional yang berdaya saing sesuai tata nilai budaya bangsa “Film sebagai karya seni budaya memiliki peran strategis dalam peningkatan ketahanan budaya bangsa dan kesejahteraan masyarakat lahir batin untuk memperkuat ketahanan nasional,” tegas purnawirawan jenderal bintang dua ini.

 

Peraih S-3 Sosiologi Militer dengan predikat sangat memuaskan di Universitas Indonesia, ini juga mencermati bahwa dalam era globalisasi, film dapat menjadi alat penetrasi kebudayaan sehingga perlu dijaga dari pengaruh negatif yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila dan jati diri bangsa Indonesia. “Sejalan dengan itu, film sebagai media komunikasi massa juga merupakan sarana penting bagi pencerdasan kehidupan bangsa, pengembangan potensi diri, pembinaan akhlak mulia dan pemajuan kesejahteraan masyarakat serta promosi Indonesia di dunia internasional. Oleh karena itu negara bertanggung jawab dalam memajukan, mengembangkan dan melindunginya,” tegas suami dari Nurul Fauzah tersebut. 

 

Dalam perjalanan kepemimpinannya, Ketua LSF periode 2015-2019 ini telah melaksanakan tugasnya untuk mengimplementasikan paradigma sensor film sesuai tuntutan kekinian, sekaligus mengakomodasi dan mengelola dinamika lingkungan yang terus berkembang. Misalnya, dengan tidak menempatkan LSF sebagai lembaga penyensoran semata tapi juga melaksanakan literasi dan pemberdayaan serta selalu mengedepankan prinsip dialogis dalam tugas-tugasnya. “LSF saat ini bukan hanya sebagai tukang ‘potong’ film. LSF siap berdiskusi sekiranya ada revisi terhadap film dan iklan film yang disensor dan perbaikannya dikembalikan kepada pemilik film tersebut. 

 

Dengan dialog akan terbangun rasa tanggung jawab bersama dalam mewujudkan film yang lebih tepat dan edukatif sesuai peruntukan dan klasifikasi usianya,” papar mantan Staf Khusus Presiden RI ini. LSF di bawah kepemimpinan Ahmad Yani Basuki adalah garda budaya bangsa dan mercu suar di dunia perfilman yang juga memberikan literasi kepada masyarakat bagaimana mengapresiasi film yang baik. Sejalan dengan itulah LSF terus mendorong masyarakat dalam membangun budaya sensor mandiri yaitu budaya cerdas masyarakat dalam memilah dan memilih film yang tepat sesuai peruntukan dan klasifikasi usianya, baik di kalangan film maker saat memproduksi, eksibitor saat mempertunjukkannya dan masyarakat ketika menontonnya.

 

“LSF sudah menentukan kategori tayangan dan masyarakat menentukan sendiri mana yang layak dan mana yang tidak layak untuk ditonton,” pungkasnya. Alumni IAIN Sunan Ampel, Surabaya ini tidak dapat menutupi rasa bangga dan bersyukurnya karena respon masyarakat terhadap kampanye sensor mandiri di berbagai daerah yang ia kunjungi sangat tinggi dan membuktikan apresiasi yang besar dari masyarakat kepada LSF