Rektor Inspiratif

Oleh: Iqbal Ramdani () - 24 May 2018

Naskah: Sahrudi Foto: Dok. Pribadi

Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya" dipegang betul oleh Dr. H. Hidayatulloh, M.Si. Karena itulah, Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) ini bertekad menjadikan kampusnya sebagai agen pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni yang berlandaskan pada nilai-nilai islami.

 

Salah satu faktor kesuksesan sebuah organisasi, tak terkecuali lembaga pendidikan tinggi, adalah faktor leadership alias kepemimpinan. Begitu juga yang ada di UMSIDA. Kepemimpinan Hidayatulloh sebagai rektor yang andal dan profesional telah membawa UMSIDA menjadi kampus yang diperhitungkan. Memang, di UMSIDA konsep kepemimpinan yang diterapkan tidak terlalu njlimet tapi mumpuni dalam menata manajemen universitas tersebut. “Kami mengusung kepemimpinan berbasis nilai dan prinsip-prinsip yang dirumuskan dalam satu kata “TORSIE” yang merupakan akronim dari kata “Trust, Openness, Responsibility, Sinergy, Interdependence, and Empowering,” ungkap Hidayatulloh. Maknanya, harus ada kepercayaan (trust) antara pimpinan dan yang dipimpin dan sebaliknya. Trust ini dikembangkan di semua level kepemimpinan, mulai rektorat, dekanat, biro, lembaga, dan unit -unit lain yang ada di UMSIDA. Jadi, antara yang satu dengan lainnya terbentuk suasana saling percaya dan dipercaya,” terang dosen S-2 Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam di UMSIDA ini.

 

Sementara itu, keterbukaan (openness) akan menopang dan memperkuat kepercayaan sehingga melahirkan tanggungjawab (responsibility) kepemimpinan dan tugas yang diberikan oleh lembaga. Dengan demikian, kerjasama (synergy) akan mudah terjalin dalam meringankan beban pekerjaan, dan mempercepat penyelesaiaan pekerjaan serta keberhasilan tim. Karena itulah, keberhasilan dalam sebuah kepemimpinan itu tak lepas dari sikap interdependence atau saling tergantung. “Artinya, keberhasilan UMSIDA bukan karena pimpinan semata, tetapi karena peran luar biasa dari semua bagian yang ada. Keberhasilan yang dicapai ini adalah keberhasilan bersama mulai dari rektorat sampai dengan staf yang paling bawah,” ungkap Hidayatulloh menambahkan. Sementara untuk empowering atau pemberdayaan, adalah faktor yang tak kalah penting. ”Karena seseorang tidak selamanya menduduki jabatan, yang mana dalam kepemimpinan itu ada batas waktunya. Oleh karenanya, supaya keberlangsungan kepemimpinan dan kegiatan di UMSIDA ini terjamin, maka harus bisa dipastikan terjadinya pemberdayaan (empowering). Ini memberikan ruang kepada semua warga kampus untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensinya, agar kaderisasi bisa terjamin dan keberlangsungan kehidupan kampus di masa depan juga aman,” papar pria kelahiran Sidoarjo, 16 Juli 1969 ini. 

Dengan prinsip kepemimpinan itulah, Hidayatulloh mengakui mampu merumuskan sejumlah langkah strategis UMSIDA untuk mendukung kualitas pendidikan di Indonesia, mulai dari melakukan Analisis SWOT, penyusunan dokumen induk sebagai dasar pengembangan dan pelaksanaan kegiatan seperti menetapkan Visi UMSIDA, yaitu “Menjadi perguruan tinggi unggul dan inovatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berdasarkan nilai-nilai Islam untuk kesejahteraan masyarakat”, sampai dengan menetapkan Rencana Induk Pengembangan (RIP) UMSIDA. Dengan konsep yang matang dan terukur, UMSIDA kini tengah menuju menjadi kampus berkualitas dan berdaya saing internasional dengan memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana kampus mulai dari gedung perkuliahan, perkantoran, perpustakaan dengan kelengkapan buku dan referensi lainnya, laboratorium dengan kelengkapan alat dan bahan praktikum, sampai dengan sarana pendukung kegiatan kemahasiswaan yang ada di Kampus I, Kampus II, Kampus III, dan Kampus IV. 

 

Kini UMSIDA juga tengah membangun dan mengembangkan SIM (Sistem Informasi Manajemen) yang terintegrasi, yang memudahkan dan mempercepat semua proses di UMSIDA. Sementara itu untuk pemenuhan kebutuhan dosen disesuaikan dengan rasio dosen dengan mahasiswa. “Saat ini UMSIDA memiliki 207 dosen tetap dengan jumlah mahasiswa sebanyak 8.862 yang tersebar di 9 Fakultas dan 26 Program Studi. Dari 207 dosen tetap tersebut, yang mempunyai jabatan fungsional akademik Guru Besar 2 orang, Lektor Kepala 7 orang, Lektor 36 orang, Asisten Ahli 68 orang, dan yang sedang mengurus kepangkatan ada 94 orang. Jabatan fungsional akademik ini akan meningkat terus, seiring dengan kebijakan dalam masa 2 – 3 tahun dosen harus mengurus kenaikan kepangkatan akademik. UMSIDA juga mendorong para dosen untuk meningkatkan kualifikasi akademiknya. Saat ini ada 30 Dosen Tetap yang sedang menempuh studi Program Doktor (S3) di dalam dan luar negeri.

 

Sejalan dengan pertumbuhan mahasiswa, UMSIDA terus menambah jumlah dosen secara proporsional, dan ke depan diproyeksikan 50% dari jumlah dosen yang ada bergelar Doktor,” ungkap Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur ini yang seraya menambahkan juga bahwa UMSIDA kini mengembangkan kerjasama dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga lain di dalam dan luar negeri untuk penguatan pelaksanaan Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Di sisi lain, sederet prestasi pernah ditorehkan UMSIDA antara lain UMSIDA telah Terakreditasi B (Sangat Baik) sejak tahun 2015. Pada pemeringkatan Perguruan Tinggi Swasta di Wilayah Kopertis 7 dalam Anugerah Kampus Unggul (AKU) 2017, UMSIDA meraih Predikat Utama dalam urutan ke-12 dari 380 an PTS se-Jawa Timur. Di tingkat nasional, dari 4.500-an PTN dan PTS se-Indonesia, pada penilaian Kemenristek Dikti RI tahun 2017, UMSIDA berada pada Peringkat 149. Sementara pada Pemeringkatan versi 4ICU pada Januari 2018, UMSIDA berada pada peringkat 81 dari 4.500-an PTN dan PTS di Indonesia.

 

Prestasi lainnya, pada pemeringkatan bidang penelitian dari Kementerian Ristek Dikti, UMSIDA telah masuk kategori utama dan pada bidang pengabdian masyarakat, masuk kategori Memuaskan. Tentunya prestasi tersebut tak akan pernah berhenti dan akan terus ditingkatkan sebagai sebuah ikhtiar untuk ikut mengambil peran dalam membangun sumberdaya manusia Indonesia yang unggul.