Rektor Inspiratif

Oleh: Iqbal Ramdani () - 24 May 2018

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto & Dok. Humas UMY

Di bawah kepemimpinan Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., keberadaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) semakin eksis di dunia internasional. Beberapa program yang bekerjasama dengan banyak Universitas di mancanegara digulirkan, seperti Express Learning dan akulturasi budaya. Belum lagi segudang prestasi yang diraih, baik oleh UMY sendiri maupun para mahasiswanya.

 

Ketika ditemui Men’s Obsession di kampus UMY beberapa waktu lalu, Gunawan tampil sederhana. Mengenakan polo shirt putih dengan gayanya yang santai, sungguh jauh dari kesan pemimpin yang bossy. Ya begitulah kesehariannya, ia tampil apa adanya, pembawaannya juga ramah dan terbuka kepada siapapun di lingkungan UMY, baik kepada seluruh staf dan dosen, maupun mahasiswa. Candaan dan tawa ringan pun kerapkali terlontar saat sesi pemotretan berkonsep casual sporty berlangsung. “Saya ini orangnya memang senang guyon,” ucapnya sembari tersenyum. Meski demikian, Gunawan tetaplah seorang pemimpin yang disegani. Kinerja dan kepiawaiannya dalam memimpin pun telah terbukti. Sejak menjabat rektor UMY pada 2016 silam, banyak hal dan prestasi yang ditorehkan UMY. Antara lain, UMY yang mengikuti perkembangan zaman selalu melakukan pemanfaatan Teknologi Informasi dalam proses belajar mengajar, ini masuk dalam 5 besar Perguruan Tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan Electronic Distance Learning.

 

Kemudian tercatat banyak prestasi mahasiswa yang berhasil diraih, baik skala nasional maupun internasional, seperti, juara untuk ajang English Debate Contest di Singapura, serta beberapa mahasiswa yang berhasil mendapatkan beasiswa luar negeri. Sementara untuk prestasi non akademik, mahasiswa UMY pernah meraih penghargaan rekor MURI sebagai pemakaian busana batik tertinggi di dunia yang dikenakan saat mendaki puncak Gunung Everest, serta dalang tertinggi di dunia yaitu mendalang pada saat pendakian puncak Gunung Kilimanjaro. Memiliki visi dan target jangka panjang ingin menjadikan UMY sebagai Entrepreneur University yang sejajar dengan Perguruan Tinggi yang ada di Asia, Gunawan memulainya dengan melakukan kerjasama dengan beberapa Universitas di mancanegara, khususnya di Asia, dengan tujuan agar UMY memiliki reputasi baik di dunia internasional. Antara lain dengan mendatangkan sebanyak mungkin visiting profesor, visiting lecturer dan visiting researcher dari luar negeri, termasuk menarik minat mahasiswa asing. 

Selain itu, UMY juga mengirimkan beberapa mahasiswanya untuk melakukan KKN atau yang disebut Express Learning tak hanya di pelosok nusantara namun juga ke mancanegara yang terfokus pada Kawasan 3T (Terjauh, Terdepan dan Tertinggal). Misalnya ke Nusa Tenggara Barat (NTB) di kaki gunung Rinjani, yang bertugas mendampingi masyarakat setempat untuk meningkatkan produksi pertanian. Sementara contoh KKN di dunia internasional adalah kerjasama dengan Politeknik Singapura. “Nah mereka yang dari Singapura juga kita kirim ke beberapa desa di Indonesia untuk melihat dan mempelajari home industry. Mereka senang sekali mendapat wawasan dan budaya baru dari masyarakat pedesaan kita,” pungkas pemimpin egaliter ini. Di lingkungan UMY sendiri, pria yang hobi tenis dan bersepeda ini telah mempersiapkan fasilitas bagi para mahasiswa yang ingin mempelajari bahasa asing lainnya selain Bahasa Inggris, seperti Bahasa Mandarin yang telah ada di UMY sejak 2003 dan Bahasa Perancis. UMY juga menggelar acara culinary festival setiap tahunnya yang menyajikan aneka masakan dari seluruh dunia dengan mendatangkan juru masak dari mancanegara. “Sehingga ini bukan lagi kampus khusus Islam seperti yang mereka pikir, tapi kita terbuka. Nah, dengan adanya akulturasi budaya yang seperti ini, saya berharap bisa meluruskan citra Islam di mata bangsa barat bahwa Islam tidak seperti yang mereka bayangkan. Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin,” Gunawan berkata serius. 

 

Di samping itu, UMY juga dikenal sebagai kampus yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitar. UMY memiliki Lembaga penanggulangan bencana yang aktif bergerak dan menolong mereka yang terkena bencana alam, seperti pada kejadian Merapi tahun 2010 lalu, UMY menempatkan mahasiswanya di puncak Merapi untuk waktu yang cukup lama, mulai dari pendampingan hingga recovery. Untuk itu, bekerjasama dengan beberapa lembaga internasional, UMY juga memiliki suatu pelatihan khusus penanganan bencana yang dinamakan Disaster Summer School, yang terbagi menjadi beberapa bidang keahlian khusus, seperti medicine, dentist, nursing camp, pertanian, Ekonomi Syariah, bencana alam, hingga resolusi konflik dan perdamaian. Selain itu, UMY juga memiliki JK School of Government yang mengelaborasi bukan hanya ilmu tapi juga praktek-praktek kenegaraan yang dilakukan oleh Pak Jusuf Kalla (JK), serta Syafii Maarif Political Thought and Humanity yang mengajarkan konsep-konsep kemanusiaan, budaya, dan moral.

 

“Nah, sekolah inilah yang kemudian juga ikut mendorong trust teman-teman dari luar negeri untuk datang ke Indonesia. Dan kita berharap dengan sekolah-sekolah perdamaian, sekolah persamaan hak dan kemanusiaan, kita bisa membuktikan bahwa citra Islam tidak seperti apa yang diterima media massa barat, tapi kita juga concern terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kesamarataan,” tegas pemimpin yang mengidolakan Nabi besar Muhammad SAW tersebut. Tak hanya sampai di situ, UMY juga memiliki program beasiswa Pendidikan untuk masyarakat tidak mampu, seperti program ‘dokter Muhammadiyah’ yang diperuntukan untuk yatim piatu berprestasi. Kelak, dokter tersebut akan membantu UMY mengembangkan klinik apung yang tersebar di pelosok perairan nusantara seperti di Ambon. UMY juga menggagas sekolah Muhammadiyah yang diperuntukan bagi para TKI di negeri orang, seperti di Taiwan dan Korea. Selain mengajarkan Kejar Paket untuk mereka yang putus sekolah, sekolah ini juga mengajarkan tentang kewirausahaan dengan harapan kelak jika kembali ke tanah air, mereka bisa memanfaatkan uangnya dengan baik.