Laporan Khusus Jokowi-JK (Part 4): Wajah Indonesia di bawah Jokowi-JK

Oleh: Benny Kumbang (Editor) - 16 June 2014 | telah dibaca 5059 kali
Naskah: Andi Nursaiful, Foto: Istimewa

Seperti apa wajah Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi-JK kelak? Masihkah rupa Ibu Pertiwi terus diselimuti kesedihan mendalam di usianya yang sebentar lagi menginjak 69 tahun? Jika Jokowi-JK mendapat amanat rakyat untuk memimpin Indonesia, dan segera melaksanakan “Jalan Perubahan untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian,” insya Allah, republik tercinta ini akan tiba pada masa kejayaannya.

“Jalan Perubahan untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian” adalah judul visi dan misi Jokowi-JK setebal 41 halaman yang disampaikan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan sudah dipublikasikan secara terbuka kepada publik luas.

Dengan kalimat yang mudah dimengerti oleh rakyat kebanyakan, visi misi Jokowi-JK terlihat memenuhi kriteria yang jelas, rasional/logis, konkret, serta mampu merespon kebutuhan mendesak masyarakat maupun kebutuhan nasional.

Jokowi-JK menilai reformasi 1998, yang awalnya diharapkan bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih demokratis, sejahtera, berkeadilan dan bermartabat, akhirnya gagal memenuhi harapan-harapan tersebut.
Jokowi-JK mengidentifikasi ada tiga problem pokok bangsa yang dihadapi saat ini, yaitu, merosotnya kewibawaan negara, melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional, dan merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa. 


Oleh sebab itu, tak ada kata lain selain segera melakukan perubahan. Perubahan nyata yang ditawarkan harus kembali dan bersumber pada Proklamasi 17 Agustus 1945, Pancasila 1 Juni 1945, dan Pembukaan UUD 1945. Jokowi-JK haqqul yaqin bahwa melalui jalan ideologis itu, maka ketiga penyakit akut bangsa tadi, insya Allah, bisa teratasi.

Selain berpegang pada ideologi, Jokowi-JK memilih mengusung konsep Trisakti yang pernah diperjuangkan oleh Proklamator RI Ir Soekarno, yaitu berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Selanjutnya, Jokowi-JK menjabarkan visi dan misi mereka secara tegas dan rinci, yang pada intinya adalah Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian, Berlandaskan Gotong Royong.
Untuk mewujudkan visi itu, disusunlah misi tegas dalam tujuh poin:
  1. Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.
  2. Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan, dan demokratis, berlandaskan negara hukum.
  3. Mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.
  4. Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju, dan sejahtera.
  5. Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing.
  6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional.
  7.  Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Ke-7 misi mulia yang berlatar semangat Trisakti Bung Karno itu kemudian diterjemahkan dalam 12 agenda strategis dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat di bidang politik, 16 agenda strategis untuk menuju Indonesia yang berdikari dalam bidang ekonomi, dan 3 agenda strategis untuk Indonesia berkepribadian dalam kebudayaan.

Dari ke-31 agenda itu, kemudian diperas lagi menjadi 9 agenda prioritas dalam pemerintahan ke depan. Kesembilan Agenda Prioritas inilah yang disebut dengan nama indah “Nawa Cita”, yaitu:
  1. Menghadirkan kembali Negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara.
  2. Memastikan pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya.
  3. Membangun Indonesia dari pinggiran, dengan memperkuat daaerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
  4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
  5. Meningkatkankualitas hidup manusia Indonesia.
  6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.
  7. Mewujudkan kemandirian ekonomi, dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
  8. Melakukan revolusi karakter bangsa.
  9. Memperteguh ke-bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Esensi Nawa Cita sesungguhnya sudah sering diungkapkan Jokow-JK dalam berbagai kesempatan bertemu rakyat, meskipun saat itu belum diperkenalkan istilah Nawa Cita. Program-program aksi yang mencerminkan isi Nawa Cita sudah kerap dilontarkan dalam sejumlah pernyataan, baik itu dalam pidato, diskusi dengan rakyat, ataupun dalam menjawab pertanyaaan pers.

Jokowi-JK secara tegas dan terang benderang sudah sering menyampaikan rencana program aksi jika kelak terpilih, mulai dari bidang ekonomi, politik, hankam, luar negeri, sosial budaya, pendidikan, lingkungan hidup, energi, hingga dunia birokrasi dan pemerintahan.

Jokowinomics

Masih tingginya angka kemiskinan, kesenjangan sosial, kesenjangan antarwilayah, kerusakan lingkungan hidup, serta ketergantungan akan pangan dan energi dari negara lain, menjadi bukti bahwa ada sesuatu yang kurang tepat dalam pembangunan ekonomi Indonesia selama ini.

Negeri ini dinilai belum juga mampu memanfaatkan kandungan kekayaan alam karunia Allah SWT yang begitu besar. Harapan penguatan sendi-sendi ekonomi, faktanya, justru menjadi semakin jauh, dan Negara tidak juga mampu memberikan jaminan kualitas hidup bagi rakyat. Pemerintah pun dinilai hanya mampu melanggengkan ketergantungan atas utang luar negeri dan penyediaan pangan.

Dalam konteks itulah, konsep Tri Sakti Bung Karno menjadi sangat urgent, khususnya berdikari dalam bidang ekonomi. Untuk mewujudkan konsep pertama itu, Jokowi-JK memilih menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan dalam pengelolaan keuangan negara, sekaligus pelaku utama dalam produksi serta distribusi nasional.

Negara kelak memiliki karakter kuat dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi melalui penggunaan sumber daya ekonomi nasional dan anggaran negara untuk memenuhi hak dasar warga negara.

Berdikari dalam hal ekonomi, lanjut Jokowi-JK, bukan berarti defensif atau menutup diri dari dunia luar. Kemandirian merupakan konsep yang dinamis karena Jokowi-JK mahfum bahwa kehidupan dan kondisi saling bergantung senantiasa berubah, baik konstelasinya, perkembangannya, maupun nilai-nilai dasar yang mempengaruhinya.

Jauh sebelum penyampaian visi misi Jokowi-JK secara resmi ke KPU, berbagai pihak masih meraba seperti apa sebetulnya konsep kebijakan ekonomi yang ditawarkan. Tak kurang sebuah harian asing berpengaruh di AS, The Wall Street Journal (WSJ), pernah menurunkan sebuah tulisan khusus untuk menganalisa konsep ekonomi Jokowi-JK yang mereka sebut Jokowinomics.

WSJ, koran dengan oplah terbesar di AS, menurunkan tulisan pada 14 April 2014, dengan judul: Indonesia’s Next President. WSJ mencoba menelisik seperti apa Jokowinomics yang saat itu masih dalam penggodokan, dengan meneliti apa yang dilakukan dan dikatakan Jokowi selama ini.

WSJ menggambarkan Jokowi sebagai sebuah fenomena yang sama sekali baru dalam politik Indonesia. Ia disebut memiliki keunggulan dalam reputasi dan integritas, serta kharisma dan vitalitas.

Dalam hanya beberapa tahun, tulis WSJ, Jokowi telah menanjak dari seorang pengusaha mebel menjadi walikota berprestasi di Solo, lalu berlanjut ke posisi Gubernur DKI Jakarta. “Popularitas personalnya sejauh ini telah mampu melampaui pengaruh oligarki Indonesia,” tulis WSJ.

WSJ mencatat adanya sejumlah kritik terhadap Jokowi dari para investor, yaitu bahwa Jokowinomics kelak akan cenderung proteksinostis dan kental dengan nasionalisme ekonomi. Rupanya mereka menerjemahkan kemandirian ekonomi dengan istilah proteksinostis dan nasionalisme ekonomi.

Meski demikian, WSJ mengakui bahwa Jokowi berhasil memotong inefisiensi birokrasi saat menjabat sebagai walikota. Jokowi dinilai berhasil meningkatkan pendapatan daerah melalui peningkatan efektivitas penghimpunannya tanpa menaikkan tarif pajak. Pada saat yang sama, Jokowi sukses memajukan UKM, dan telah menunjukkan tanggung jawab pemerintahannya dalam menolong masyarakat miskin.

WSJ mencatat bahwa kebijakan-kebijakan populis Jokowi selama ini memberikan optimisme bahwa kehadiran Jokowi merupakan hal positif bagi Indonesia. Menurut WSJ, apabila Jokowi memegang janjinya untuk memberantas korupsi, hal itu akan memberi sumbangan yang sangat besar bagi dunia bisnis dan menjadi peninggalan (legacy) berharga darinya.

WSJ secara jujur memberi kredit positif pada Jokowi karena bersikap tidak terikat pada kelompok kepentingan tertentu. Dengan demikian ia memiliki kebebasan dalam melakukan reformasi birokrasi dan ekonomi yang sedikit melambat dalam lima tahun terakhir.

WSJ membandingkan Jokowi dengan Presiden AS, Ronald Reagan, dan menyarankan Jokowi mengikuti gayanya. Menurut WSJ, Jokowi diyakini akan mampu meraih kepercayaan atas pencalonannya jika ia mampu mengartikulasikan platform ekonominya langsung kepada rakyat, sebagaimana dilakukan Ronald Reagan.

Yang terang, pasar saham dan valuta asing kontan merespon positif saat Jokowi-JK resmi dideklarasikan. Setelah deklarasi, indeks harga saham gabungan (IHSG) naik 3,2% menjadi 4.878, level tertinggi tahun ini. Rupiah pun menguat menjadi Rp 11.355 per dolar AS.

Malayan Banking BHD membuat skenario, andai Jokowi menjadi presiden maka kurs rupiah/dolar AS bisa mencapai Rp 11.300, Tapi jika bukan Jokowi, maka rupiah mencapai Rp 11.700. Bank OCBC memprediksi andai Jokowi presiden maka kurs rupiah/dolar AS adalah Rp 12.000, dan andai bukan Jokowi Rp 12.600.
Sementara itu, Rabbo Bank Internasional memprediksi kurs rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp. 11.750 dan jika bukan Rp 11.800. Tak ketinggalan, lembaga pemeringkat utang dan ekonomi internasional Morgan Stanley memprediksi andai Jokowi menjadi RI 1 maka kurs rupiah/ dolar AS Rp 11.800.

Ketimpangan pembangunan ekonomi yang kian menjauhkan rakyat dari kesejahteraan, dalam konsep Jokowinomics, akan diatasi melalui delapan terobosan ekonomi. Yaitu, memantapkan kelas menengah sebagai lokomotif pembangunan, menumbuhkan pendapatan ganda rakyat berbasis gender, mengembangkan industri pelayanan dasar pendidikan dan kesehatan, mewujudkan kedaulatan pangan agar ketahanan pangan bisa terwujud, memisahkan pemanfaatan energi bersumber gas untuk rumah tangga dan transportasi, meningkatkan pemanfaatan industri keuangan sebagai sumber pembiayaan sektor riil, mengembangkan ekspor berbasis nilai tambah, dan peningkatan peran industri keuangan pada sektor riil.

Dengan mewujudkan delapan terobosan ekonomi ala Jokowinomics ini, maka Indonesia mampu keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah bawah, sementara di sisi lain, mimpi Indonesia menjadi 11 negara besar dunia pada 2030, insya Allah, bisa terealisasi.