Obsession Awards 2020; Best Institution Leaders

Oleh: Syulianita (Editor) - 01 April 2020 | telah dibaca 1030 kali

 

Naskah: Arief Sofiyanto Foto: Istimewa

 

Awal tahun 2020 menjadi ujian hebat bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bencana banjir dan longsor akibat hujan deras terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Hal ini menjadi tugas tambahan setelah sebelumnya BNPB juga ‘kerja bakti’ menanggulangi bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu dan Donggala. Dan, tugas ini nyatanya sukses dilewati BNPB di bawah kepemimpinan Letjen TNI Doni Monardo.

 

Ya, apresiasi tinggi patut disematkan kepadanya. Dilantik sebagai Kepala BNPB oleh Presiden Joko Widodo pada Januari 2019, Doni dinilai sukses menanggulangi bencana, termasuk yang terjadi pada awal tahun 2020.

 

Lelaki Sunda kelahiran Cimahi, 10 Mei 1963 ini memiliki karier yang cemerlang. Usai lulus dari Akademi Militer (Akmil) di Magelang pada 1985, Doni tercatat pernah menyandang jabatan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada 2014-2015 dan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) pada tahun 2012-2014.

 

Sebelumnya, ia bahkan pernah menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer dua daerah, yaitu Pangdam Pattimura dan Pangdam Siliwangi. Di Kodam III/Siliwangi, Doni berhasil mencetuskan sebuah program berbasis pelestarian lingkungan bertajuk 'Citarum Harum' yang fokus pada upaya pembersihan Sungai Citarum. Lewat program ini, lapisan masyarakat Jawa Barat saat itu bisa diajak terlibat dalam kesadaran bersih lingkungan bersama Prajurit TNI.

 

Doni mampu terjun langsung memimpin para prajurit dan ia sanggup bekerja hampir 24 jam sehari selama berminggu-minggu. Sungai yang sebelumnya kotor dan tercemar disebabkan banyak sampah rumah tangga ini berubah menjadi bersih. Gagasannya ini menjadikan Sungai Citarum bukan sebagai halaman belakang, tetapi halaman depan rumah warga. Dengan demikian, kebersihannya akan selalu diperhatikan dan dijaga.

 

Doni terlibat dalam program pembersihan Sungai Citarum di mana air Citarum dikonsumsi 80 persen warga DKI Jakarta dan penduduk di sekitar aliran sungai. Citarum juga menjadi sumber irigasi 420 ribu hektare sawah di Jawa Barat. Sungai sepanjang 269 kilometer itu juga menjadi pemasok listrik sebanyak 1.888 megawatt untuk Jawa dan Bali.

 

Doni juga menyoroti program penyelamatan Sungai Citarum yang dinilainya sebagai sungai yang sangat strategis, lebih dari 35 juta jiwa hidupnya tergantung pada Sungai Citarum. Doni tampaknya paham benar posisinya kini sebagai Kepala BNPB. Usai sukses menyelesaikan penanggulangan bencana di sejumlah daerah, ia pun bersiap melanjutkan program besar lainnya, yakni menyiapkan mitigasi bencana agar bisa masuk ke dalam kurikulum di sekolah mulai TK hingga SMA. Doni rajin melakukan sosialisasi pencegahan dan mitigasi bencana di Indonesia. Dengan tagline ‘Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita’ Doni mengajak media lebih menyoroti permasalahan lingkungan dan alam.

 

Doni sebagai sosok mampu merangkul elemen masyarakat. Prestasinya ketika bertugas menjadi Pangdam Pattimura di Maluku, Doni piawai merangkul seluruh lapisan masyarakat hingga terwujud kondisi keamanan yang stabil pasca dilanda konflik. Bahkan, ia berhasil memajukan Maluku melalui program Emas Biru (Blue Gold) dan Emas Hijau (Green Gold). Emas Biru merupakan program yang berkaitan dengan kekayaan laut dan budidaya ikan dalam bentuk keramba.

 

Sedangkan, Emas Hijau program darat yang bertumpu pada pelestarian lingkungan, yaitu menanam pohon dan tumbuhan. Kedua program itu adalah pola pendekatan keamanan melalui kesejahteraan. Pola ini dinilai sangat efektif dilakukan untuk memutus
mata rantai konflik hingga ke akarnya. Kemudian, disusul Program Emas Putih maka Doni Munardo banyak mendapat pujian dari banyak pengamat militer di dalam negeri dan di luar negeri.

 

Saat bertugas di Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad). di Makassar, Doni Monardo terkenal dengan program penghijauan beberapa kawasan tandus di Sulawesi Selatan, termasuk di sekitar Bandara Hasanuddin. Di bawah kepemimpinan Doni Monardo, BNPB menorehkan prestasi di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa). BNPB berhasil mendapatkan prestasi yang membanggakan dari United Nations Public Awards (UNPSA) 2019.

 

Gelar juara pertama berhasil diraih atas inovasi PetaBencana.id yang masuk dalam kategori Memastikan Pendekatan Terintegrasi Dalam Lembaga Sektor Publik. Dengan adanya penghargaan tersebut juga diharapkan Indonesia bisa lebih dihargai oleh negara-negara lain. Momentum Indonesia sebagai juara karena inovasi tersebut seharusnya sudah bisa untuk menjadikannya dikenal lebih dalam. Inovasi BNPB yang diberi nama PetaBencana.id, berhasil meraih juara pertama dalam kategori Memastikan Pendekatan Terintegrasi dalam Lembaga Sektor Publik pada UNPSA 2019 yang diselenggarakan PBB.

 

Platform yang sebelumnya bernama PetaJakarta.org, dikembangkan BNPB bersama Massachusetts Institute of Technology (MIT), USAID, Pacific Disaster Center (PDC), Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) dan BPBD DKI Jakarta. Saat terjadi banjir di Jakarta 2017 lalu, platform ini secara cepat dapat menghimpun data dan informasi banjir secara cepat dan real time.

 

Ribuan masyarakat melaporkan banjir dan PetaBencana.id diakses lebih dari 500 ribu pengguna dalam waktu kurang dari 12 jam, sehingga dampak bencana terpetakan secara cepat. Ketika pola cuaca menjadi semakin tidak dapat diprediksi, kota-kota di Indonesia secara rutin dihadapkan pada tantangan peristiwa cuaca ekstrem. Kurangnya akses untuk informasi yang valid dan real time menghasilkan kemampuan bagi BNPB untuk menciptakan inovasi yang berfungsi untuk memetakan daerah bencana serta memperkirakan konflik yang akan timbul.