Obsession Awards 2020; Best Institution Leaders

Oleh: Syulianita (Editor) - 01 April 2020 | telah dibaca 1031 kali

Naskah: Arief Sofiyanto Foto: Istimewa

 

Panglima TNI Marsekal TNI Dr. (HC) Hadi Tjahjanto S.I.P. merupakan tokoh nasional yang selalu memikirkan kepentingan bangsa dan negara, tidak menuai kontroversi yang berefek meresahkan publik dan membahayakan pertahanan negara. Sistem dan strategi yang dijalankan dalam menangani masalah kebangsaan dan konflik sosial, menggunakan pendekatan santun, beradab, humanis, dan profesional. Sosok Hadi Tjahjanto juga sangat dekat dengan banyak tokoh agama, adat, dan tokoh-tokoh lainnya, serta berhasil menjaga netralitas TNI sekaligus mampu membangun sinergi dengan Polri. Yang paling menonjol saat pengamanan Pemilu 2019.

 

Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 November 1963 ini merupakan perwira tinggi TNI Angkatan Udara lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1986 dan Sekolah Penerbang TNI AU 1987. Kariernya dimulai sebagai pilot, kemudian pada tahun 2015 menjadi Komandan Lanud Abdurachman Saleh, Malang. Pada tahun yang sama, ia sempat menjabat Sekretaris Militer Presiden hingga 2016.

 

Sebelum diangkat sebagai KSAU, Hadi sempat menjabat Irjen Kementerian Pertahanan RI hingga 2017. Marsekal Hadi Tjahjanto dipilih menjadi Panglima TNI oleh Presiden Joko Widodo lantaran ia dinilai mampu dan cakap dalam memimpin institusi TNI.

 

Soal karier di tubuh TNI, Hadi Tjahjanto sangat cemerlang. Sangat sebanding dengan prestasi yang telah diraihnya sejak muda. Hadi begitu masa kecil ia akrab disapa, dikenal sebagai sosok yang cerdas, terutama saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA Negeri Lawang, Kabupaten Malang. Ketika itu, Hadi yang mengambil jurusan IPA dianggap mudah mencerna mata pelajaran di kelas. Saking cerdasnya, tak jarang, teman-teman Hadi menyebutnya sebagai si “otak setan”.

 

Selama di TNI, rekam jejak Hadi sebagai KSAU juga sangat bagus seperti keberhasilannya merevitalisasi alutsista TNI AU lebih modern dan tangguh sesuai perkembangan zaman. Karier cemerlangnya dibuktikan sukses menjabat Danlanud Adi Soemarmo Solo, Pamen Sesmil Kementerian Sekretariat Negara, Direktur Operasi dan Latihan Badan SAR Nasional, Kepala Dinas Penerangan TNI AU. Selain itu, Komandan Lanud Abdulrachman Saleh Malang, Sekretaris Militer Presiden, Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan (2016-2017), Kepala Staf TNI AU (2017), Panglima TNI.

 

Hadi Tjahjanto lahir dari keluarga TNI AU. Ayahnya berpangkat Kopral dengan pangkat terakhir Sersan Mayor (Tek). Ibunya penjual rujak cingur. Ia bersekolah di SMP Negeri 3 Singosari (dulunya adalah SMPN 7 Malang), lulusan 1979, lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (SMPP) Malang angkatan 1982, yang kini bernama SMAN 1 Lawang.

 

Semasa menempuh pendidikan di tingkat SMA, ia memilih jurusan IPA dan dikenal cerdas oleh teman-temannya. Pemilihan jurusan ini untuk mempermudah dalam merintis karir sebagai penerbang TNI AU. Hadi merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 1986 dan Sekolah Penerbang TNI AU 1987. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Udara.

 

Setelah lulus dari AAU dan dilantik sebagai perwira TNI AU dengan pangkat Letda oleh Presiden Soeharto pada 20 September 1986, Hadi mengawali kariernya di Skadron Udara 4 yang bermarkas di Pangkalan Udara Abdul Rachman Saleh, Malang, Jawa Timur. Tugas Skadron Udara 4 adalah mengoperasikan pesawat angkut ringan untuk Operasi Dukungan Udara, SAR terbatas, dan kursus penerbang pesawat angkut. Adapun tugas Hadi saat itu adalah menjadi pilot pesawat angkut Cassa. Pada tahun 1993, kariernya meningkat menjadi Kepala Seksi Latihan Skadron Udara 4 Pangkalan Udara Abdul Rachman Saleh.

 

Selepas itu, pada tahun 1996 Hadi tidak lagi mengurusi pesawat angkut ringan. Dia berganti memimpin pesawat angkut berat sebagai Komandan Flight Ops “A” Flightlat Skadron Udara 32 Wing Udara 2 Pangkalan Udara Abdul Rachman Saleh. Kemudian, memimpin pendidikan penerbang sebagai Komandan Flight Skadron Pendidikan 101 Pangkalan Udara Adi Soemarmo tahun 1997.

 

Kemudian, tahun 1998, Hadi menjadi Kepala Seksi Bingadiksis Dispers Lanud Adi Soemarmo. Pada tahun yang sama, ia menjabat sebagai Komandan Batalyon III Menchandra Akademi TNI. Setahun kemudian, tahun 1999, menjadi Instruktur Penerbangan Lanud Adi Sucipto. Memasuki tahun 2000 dipercaya menjadi Kepala Seksi Keamanan dan Pertahanan Pangkalan Dinas Operasi Lanud Adi Sucipto.

 

Berkat prestasinya, Hadi Tjahjanto telah memperoleh sejumlah brevet dari luar negeri, yakni Brunei Wing (2017), RTAF Wing (Thailand)(2017), RSAF Wing (Singapura) (2017). Nampaknya, nasib baik Hadi Tjahjanto sebagai pimpinan tertinggi di TNI bisa dirunut dari riwayat kariernya. Menurut Mantan Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI (Purn) Dwi Badarmanto, soal karier Hadi yang sempat ditugaskan TNI AU sebagai Komandan Pangkalan Udara Adi Soemarmo Solo.

 

Padahal, saat itu Hadi sempat ditempatkan di Pangkalan Udara Hussein Sastranegara. Dwi mengatakan, Hadi sempat berontak dalam hati. “Saya kok dikesinikan (Hussein Sastranegara), tapi jadinya ke sana (Adi Soemarmo),” kata Dwi mengutip Hadi. Namun, ia melihatnya sebagai takdir. Sebab, saat Hadi menjabat Danlanud Adi Soemarmo, Joko Widodo menjabat Wali Kota Solo. Menurut dia, cerita saat ini mungkin akan berbeda jika saat itu Hadi ditempatkan di Hussein Satranegara.

 

“Ini kehendak Tuhan juga. Kenapa Presiden (Jokowi) saat itu menjabat Wali Kota Solo,” ungkapnya. Hadi Tjahjanto pun akhirnya sempat menjadi Sekretaris Militer Presiden 2015-2016 era Presiden Joko Widodo.