Hotelier

Oleh: Iqbal Ramdani () - 19 December 2018

Naskah: Subhan Husaen Albari Foto: Sutanto

Menjadi koki adalah Impian Satrio Sulistiono sejak kecil, pria asal Jakarta 1972 ini ternyata mewarisi bakat ibunya yang pernah menjadi sekretaris eksekutif chef di Hotel Ambarukmo Plaza, Yogyakarta pada 1965. Lama bergelut dalam dunia memasak dan perhotelan, Satrio kini sukses mencapai impiannya menjadi executive chef di Swiss Belhotel Mangga Besar, Jakarta Barat. Jabatan tertinggi dalam dunia koki diraih penuh dengan lika-liku dan tantangan, tetapi ia mampu menjaga tanggung jawabnya dengan baik.

 

Kurang lebih 23 tahun lalu, Satrio mencoba keberuntungan menekuni dunia memasak. Kariernya dimulai dari seorang pembantu koki atau cook helper di sebuah restoran yang berada di Pintu Satu Senayan. Tidak lama karena tempat kerjanya terbakar, Satrio muda melanjutkan kerjanya di Hotel Sheraton Bandara Internasional Sukarno-Hattta sebagai opening team. Ia bahkan sempat dipindah di Hotel Sheraton Inn Timika, Papua. Pekerjaan yang dipegang perlahan naik, dari hanya memotong-motong bahan makanan, di Sheraton Timika Satrio sudah menjadi koki. 

 

Alumni Sekokah Tinggi Pariwisata Ambarukmo Yogyakarta ini kemudian melanjutkan kariernya ke Jakarta di sebuah restoran di Pasar Raya, Blok M sebagai chef de partie. Singkat cerita, ia juga sempat tiga kali bolak balik bekerja di Dubai, salah satunya di Hotel Madinat Jumeirah. Selama empat tahun di negeri orang dengan segudang pengalaman, Satrio kembali ke Indonesia dan mengawali kariernya sebagai executive chef di Hotel Melia Purosani, Yogyakarta, lalu balik lagi ke Jakarta di Hotel Grand Kemang pada 2015, dan Borobudur. Terakhir, ia kini memantapkan kariernya sebagai eksekutif chef di Swiss Belhotel Mangga Besar, 2017 lalu. 

 

Kepada Mens Obsession, Satrio mengungkap banyak alasan mengapa dirinya begitu mencintai pekerjaannya. Bagi ayah tiga anak ini menjadi seorang chef menyenangkan di samping kepuasan apabila masakannya disukai banyak orang, chef juga selalu dituntut untuk bisa mengkreasikan dan menciptakan makanan yang setiap saat terus berkembang. Karenanya, ia tak pernah berhenti belajar agar kemampuannya terus meningkat. “Tak kalah penting, mengasah pola pikir kreatif sehingga bisa membuat berbagai masakan dengan bahan-bahan yang ada,” tegasnya. Itulah yang kini juga dilakoni Satrio saat memegang kendali koki di Swiss Belhotel Mangga Besar.

 

“Awalnya basic saya membuat makanan western, seperti hamburger, piza, dan beberapa makanan Itali. Namun, belakangan di sini kami juga dituntut untuk bisa memasak makanan khas Asia dan tradisional Indonesia. Yang terkenal dari kami adalah gurame goreng, sop buntut dengan tiga variasi: goreng, bakar, dan original. Ada pula ayam bakar taliwang.  Kami juga setiap bulan selalu ada promo masakan baru, seperti saat ini mie tarik,” Satrio memaparkan.  Membawahi 35 staf bukanlah pekerjaan yang mudah. Di Swiss Belhotel ini, Satrio harus bisa memastikan kualitas makanan benar-benar terjaga. Di tengah persaingan hotel yang kian pesat, kualitas pelayanan menjadi hal penting yang terus ia perhatikan. Filosofi hidupnya dalam bekerja adalah berani, bersikap jujur, dan pantang menyerah.