Awas, Post Election Stress Disorder!

Oleh: Syulianita (Editor) - 19 June 2019

Naskah: Sahrudi/dari berbagai sumber Foto: Istimewa

Ketika situasi politik tak menentu pasca pemilihan umum dan berimbas pada perseteruan di media sosial yang semakin memuakkan dan Anda merasa kecemasan yang luar biasa atas kondisi itu, bisa jadi ketika itulah Anda tersengat sindroma yang dikenal sebagai Post Election Stress Disorder.  Dalam suatu kesempatan, psikolog forensik Reza Indragiri Amriel sempat menyinggung fenomena Post Election Stress Disorder (PESD) tersebut yang ditandai rasa cemas dan merasa tak punya masa depan.

 

Fenomena yang pertama kali disebut pada 2016-2017 tersebut menyasar anak dan dewasa hingga perlu bantuan profesional untuk mengatasi rasa cemas. Selain cemas, PESD ditandai perasaan masa depan tidak menentu, pupus rasa aman, enggan bersosialisasi, dan muncul rasa ketidakberdayaan. Reza juga menyebut pengalamannya yang merasakan nyut-nyutan dan nyeri pada sisi kiri kepala mulai dari belakang lubang mata hingga tengkuk, akibat narasi, dan klaim yang mudah ditemui di berbagai media. Narasi politik yang berbeda dengan segala argumennya masing-masing, ditambah dengan informasi yang berseliweran di media sosial (medsos) bisa membikin orang menjadi stres. Sekadar untuk perbandingan, di Amerika pernah ada suatu diskusi politik di media sosial (medsos) yang ternyata mampu membuat 40 persen warga dewasa di negara itu stres. Hal itu terjadi akibat benturan narasi politik ditambah lagi informasi berseliweran di medsos yang sulit ditelusuri kebenarannya. 

 

Dan memang, data yang dikeluarkan The American Psychological Association menemukan fakta bahwa warga negara berjuluk Paman Sam itu menderita lonjakan kecemasan sejak tahun 2016. Dari situlah muncul istilah Post Election Stress Disorder ini. Sementara, masyarakat Inggris mengalami peningkatan kecemasan sejak tahun 2014. Nah, di Indonesia juga demikian. Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 telah cukup menguras tenaga dengan benturan narasi yang deras dan berseliweran dari masingmasing kubu yang berhadap-hadapan. Kondisi itu bukan tidak mungkin bisa membuat masyarakat Indonesia mengalami PESD itu.

 

Memang, setelah Indonesia melangsungkan pesta demokrasi Pilpres dan Pileg 2019, pada 17 April lalu, kini baik tokoh politik maupun masyarakat dihadapkan dengan berbagai konflik mengenai hasil penghitungan suara, baik melalui quick count maupun real count. Situasi ini menjadi sangat mengganggu, terutama sejak munculnya berbagai upaya saling serang melalui media sosial.

 

Menyerang Fisik dan Mental

 

Dilansir dari phsychologytoday tingkat stres yang tinggi akan mengganggu kesehatan fisik dan mental, seperti sakit kepala, perasaan kewalahan, cemas, dan depresi. Banyak orang yang merasa berkecil hati, bingung, dan tertekan oleh iklim politik yang terjadi. Akibatnya, timbul gejala stres yang dapat menyebabkan masalah potensial dalam fungsi pribadi, sosial, dan pekerjaan mereka. Sekadar catatan, gejala PESD, antara lain sebagai berikut:

- Perasaan bahwa masa depan tak menentu.

- Pupusnya rasa aman.

- Keengganan untuk bersosialisasi.

- Ketidakberdayaan.