Search:
Email:     Password:        
 





Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc., Mencetak Intelektual Muda di Bumi Banua

By Syulianita (Editor) - 14 May 2019 | telah dibaca 55 kali

Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc., Mencetak Intelektual Muda di Bumi Banua

Naskah: Giattri F.P. Foto: Sutanto

 

Dipercaya menjadi Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) selama dua periode, Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc. mampu menjalankan amanahnya dengan baik, ia berhasil memoles ULM menjadi universitas terkemuka dan berdaya saing. Bahkan, pada 19 Maret lalu, perguruan tinggi di Kalimantan Selatan tersebut mendapat akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).

Sutarto menuturkan, apa yang diraih universitas yang dinakhodainya tersebut tidak semudah membalik telapak tangan, dibutuhkan perjuangan yang tak sebentar. “Ini dimulai sejak rektor ULM dijabat Prof. Muhammad Rasmadi (periode 2005-2010). Waktu itu, ULM belum terakreditasi. Pada 2009, untuk pertama kali, kami mengajukan akreditasi institusi. Dalam kondisi serba terbatas. Jumlah doktor dan profesor tidak lebih dari seratus orang. Penelitian dan publikasi minim. Tata kelola masih sederhana alias tidak didukung oleh sistem informasi berbasis IT,” ungkap pria murah senyum tersebut.

 

Belum lagi, sambung Sutarto, sarana dan prasaran terbatas, khususnya laboratorium. Lalu, atmosfer akademik yang kering kerontang. “Hasilnya, ULM hanya mendapatkan akreditasi C,” papar kelahiran Banjarmasin, 31 Maret 1966 itu. Capaian itu mengagetkan banyak pihak. Pasalnya, selama ini orang selalu menyebut ULM sebagai perguruan tinggi tertua dan dihormati di kawasan Kalimantan. Namun, mengapa hanya memperoleh akreditasi C. “Ini seperti melegitimasi anggapan orang selama ini bahwa benar Unlam (red. sebutan sebelum ULM) adalah universitas lambat maju. Padahal, kalau kita mau jujur, capaian akreditasi C itu merupakan prestasi tersendiri karena saat itu dari ribuan perguruan tinggi di Indonesia, hanya beberapa saja yang telah terakreditasi. Namun, masyarakat sudah kadung menganggap dapat akreditasi C adalah sebuah aib,” ujar Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) masa Bakti tahun 2018 tersebut.

 

Lima tahun berselang. Pada periode Rektor Prof. Muhammad Ruslan (2010-2014), ULM bertekad memperbaiki diri. Perjuangan kampus di bumi Banua itu berbuah manis, pada 2014, sebelum berakhirnya jabatan Ruslan, ULM meraih akreditasi B dengan skor 318. “Pada saat saya mencalonkan diri sebagai Rektor ULM periode 2014-2018, saya bertekad untuk menaikkan akreditas ULM dari B menjadi A. Target saya paling lambat pada 2019, ULM sudah sampai level itu,” ujarnya dengan penuh semangat.

 

Mengubah Universitas ‘Lambat Maju’ Menjadi Universitas ‘Lebih Maju’

 

Ketika Sutarto terpilih menjadi Rektor ULM, ia pun langsung menjuruskan berbagai program strategis. Langkah pertama adalah merumuskan visi dan misi dengan jelas yang harus dipahami serta dihayati oleh seluruh sivitas akademika ULM. “Menjadikan ULM sebagai universitas terkemuka dan berdaya saing di bidang lingkungan lahan basah, harus menjadi denyut nadi setiap insan ULM,” tegas pria yang pernah menjadi pembicara di ICME-13 (13th International Congress on Mathematics Education) di Hamburg, Jerman ini. Langkah berikutnya, memperbaiki tata kelola. Upaya penjaminan mutu harus dimulai dengan perbaikan tata kelola, yaitu good university governance. Kemudian, membangun atmosfer akademik yang kondusif, sembari membangkitkan kebanggaan sivitas akademika terhadap almamater mereka.

 

“Saya melihat ada permasalahan besar di kampus ini. Dulu, sense of belonging dan pride terhadap lembaga tidak ada. Kalau mahasiswa ditanya, kuliah di mana, jawabannya ‘Unlam saja’, itu bukan sesuatu yang membanggakan. Dosen pun begitu, ada yang menulis di koran, dia segan mengakui kalau dia dosen di sini. Sepertinya, kami mengajar di kampus biasa-biasa saja. Saya berpikir salah satu program besar adalah mengembalikan kebanggaan civitas akademika terhadap almamaternya. Saya melakukan re-branding. Sebutan Unlam menjadi ULM,” paparnya.

 

Alasan utama lainnya, sambung Sutarto, menciptakan branding universitas, selama ini singkatan Unlam membuat banyak pihak salah paham, mengira Unlam adalah akronim dari Universitas Lampung. Bahkan, beberapa karya ilmiah dosen Unlam justru tercatat sebagai karya ilmiah Universitas yang berada di daerah berjulukan Kota Tapis Berseri tersebut. Hal ini menurutnya sangat merugikan institusi. “Saya juga membuat majalah berita ULM yang saya sebarkan ke mana-mana yang mengabarkan berbagai kegiatan kami,” tambah pemakalah terbaik pada The Third International Conference on Global Trend in Academic Research di Bandung ini.


Sutarto juga mendukung dosen yang menulis buku, artikel di jurnal, dan menghasilkan paten, dengan memberikan insentif. Lalu, tata kelola program studi pun diperbaiki. Hasilnya tidak sia-sia. Prodi-prodi mulai menuai prestasi dengan mendapatkan Akreditas A dari BAN PT. Jumlah doktor semakin banyak. Dosen-dosen yang memperoleh dana riset, khususnya dalam bidang unggulan lahan basah terus bertambah. Paten-paten mulai dihasilkan. Berbekal keberhasilan tersebut, dua tahun setelah Sutarto menjabat, tepatnya pada 2016, ULM bertekad melakukan reakreditasi. Targetnya, menaikkan akreditasi B menjadi A. Namun, ULM gagal meraih akreditasi A, hanya mendapatkan B lagi, tetapi skornya meningkat dari 318 menjadi 338.

 

“Untuk mendapatkan Akreditasi A harus memperoleh skor minimal 361 dari skala 0-400,” imbuhnya. Tidak berputus asa, Sutarto lalu meminta Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Prof. Muhammad Ahsin Rifai untuk mempersiapkan kembali akreditasi ULM. Proyek pembangunan gedung-gedung baru dan infrastruktur di lingkungan ULM sudah mendekati penyelesaian.

 

Wajah kampus berubah luar dalam. Atmosfer akademik sudah mulai terbangun. Tata kelola semakin baik. Reformasi birokrasi sudah menunjukkan hasil nyata. Pengakuan eksternal diperoleh. ULM diganjar penghargaan keterbukaan informasi publik dari Komisi Informasi Pusat (KIP) selama empat tahun berturut-turut.

 

“Mahasiswa, kami beri kesempatan untuk mendapat pengalaman di luar negeri. Dosen yang ingin meraih gelar doktor di luar negeri juga diberikan peluang besar. Saya sering memberikan rekomendasi kepada mereka. Waktu awal saya jadi rektor, jumlah doktornya kurang lebih 134, sekarang sudah 310. Dulu prodi yang akreditasinya A hanya 2, sekarang ada 23. Satu hal yang fenomenal adalah ULM mendapat dana Islamic Development Bank (IsDB) untuk membangun 12 gedung baru, antara lain gedung FISIP, Ekonomi dan Bisnis, digital library, lecture teater building, dan auditorium,” tambahnya.

 

Akhirnya, perjuangan selama lebih dari sepuluh tahun. Melalui tiga periode rektor berbuah manis. Di periode kedua kepemimpinan Sutarto, pada tahun 2019, ULM memperoleh akreditasi A. “Ini bukan prestasi pribadi saya, tapi merupakan hasil kerja bersama sivitas akademika ULM dibantu para alumni serta dukungan pemerintah pusat dan daerah. Semangat Pangeran Antasari dengan semboyan 'Haram Manyarah Waja Sampai Keputing' (semangat pantang menyerah dari awal sampai akhir) telah dibuktikan oleh kami. Semboyan tersebut menjadi jiwa dan semangat bagi kami untuk mewujudkan mimpi ULM yang terkemuka dan berdaya saing,” pungkas penghobi tenis itu.

 

Cita-cita Sebagai Presiden pun Tercapai

 

Bicara soal cita-cita, Sutarto menguntai, semenjak duduk di sekolah menengah pertama ia telah menggantungkan mimpi besarnya, yakni ingin menjadi presiden, wartawan, dan guru. “Saat bersekolah di SMPN 6 Banjarmasin, anak-anak diminta mengisi kuisioner ingin bercita-cita menjadi apa. Selepas SMP, saya masuk sekolah favorit, yakni SMA 1 Banjarmasin, biasanya yang bersekolah di sana adalah anak-anak pejabat. Lulus SMA, saya memutuskan masuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ULM. Teman-teman menertawakan saya, mereka bilang ‘Sutarto ini mau jadi guru, mau jadi Oemar Bakrie ya?’ Ya, memang pilihan menjadi guru tidak populer kala itu, rata-rata banyak yang menjatuhkan pilihan di teknik, pertanian, atau ekonomi,” kenang ayah dua anak ini.

 

Lantas kenapa ia ingin menjadi guru? Sutarto dengan lugas menjawab, “Ini adalah pilihan rasional karena saya anak yatim. Kuliah butuh biaya besar, siapa yang akan membiayai? dalam hati saya berujar, saya ingin cepat dapat kerja.” Kemudian, Sutarto memilih Prodi Pendidikan Matematika karena ia menilai guru matematika itu langka. Nasib baik  datang padanya, belum tuntas kuliah, banyak Cita-cita Sebagai Presiden pun Tercapai tawaran untuk mengajar kepadanya. “Saya mengajar di sekolah swasta, SMP, SMA, memberi les privat pada anak-anak. Jadi, citacita saya menjadi guru terkabul,” ungkapnya sembari tertawa.

 

Sutarto yang menjadi Mahasiswa Teladan (1988) dan Mahasiswa Berprestasi (1989) FKIP ULM pun ditawari oleh Ketua Jurusannya kala itu Drs. Muhammad Arsyad meraih beasiswa ikatan dinas. “Saya tanya, kalau dapat beasiswa ini nanti saya jadi apa? Beliau bilang, kamu akan terikat, setelah lulus harus menjadi dosen di sini. Dalam hati saya berkata, kebeneran berarti saya tidak perlu repot-repot mencari kerja. Setelah saya lulus pada 1991, saya langsung diangkat menjadi dosen di FKIP. Jadi, saya tidak hanya menjadi guru, tetapi menjadi dosen bagi para calon guru,” urainya bangga.

 

Tidak berselang lama, ia melanjutkan pendidikan S2 Matematika di Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM), lulus pada 1996. Pada 1999, ia memperoleh gelar MSc dalam bidang Educational and Training System Design dari University of Twente, Belanda. Tahun 2002, dari universitas yang sama, ia meraih gelar Doktor (Dr) dalam bidang pendidikan matematika dengan disertasi berjudul "Effective teacher Professional Development for the Imprementation of Realistic Mathematics Education in Indonesia". “Setelah pulang, Alhamdulillah, saya bersama teman-teman mendapat grand dari Pemerintah Belanda untuk mengembangkan pendidikan matematika realistik di Indonesia. Akhirnya, kerjalah di project itu, bersama teman-teman dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Sriwijaya (Unsri), dan dari beberapa kampus lainnya. Salah satu programnya adalah menerbitkan majalah bernama Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI), saya diminta menjadi pemimpin redaksinya. Wah cocok ini, cita-cita saya yang kedua jadi wartawan terkabul. Saya wawancara, menulis artikel, menerbitkan majalah. 8 tahun saya ikut terlibat,” bebernya.

 

Dari sana, ia sering berkeliling Indonesia bahkan dunia untuk menghadiri konferensi internasional. “Berkat itu, saya punya banyak kredit poin untuk mengusulkan kenaikan pangkat. Akhirnya pada 2007, saya menjadi guru besar dalam usia 41 tahun. Setelah itu, terbukalah jalan saya untuk menjadi anggota senat universitas. Lalu pada 2010, menjabat wakil rektor. Puncaknya, pada 2014, saya terpilih sebagai Presiden ULM karena rektor dulu di sini disebutnya presiden. Sehingga, cita-cita saya menjadi guru, wartawan, dan presiden (rektor) terkabul. Tuhan berbaik hati mengabulkan cita-cita saya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ini adalah mimpi yang menjadi nyata,” tandasnya.

 

Sabtu-Minggu pun Saya ke Kampus

Selasa, 22 April lalu, Men’s Obsession mendapat kesempatan untuk mewawancarai Rektor ULM Sutarto Hadi. Dari Jakarta kami bertolak ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sekitar Pukul 14.00 WITA, kami tiba di universitas kebanggaan Kalimantan Selatan tersebut. Sebelum memulai perbincangan, Sutarto mengajak kami untuk menjajal sayur asam ikan patin Kalimantan di Depot Sari Patin yang pernah disambangi Presiden Joko Widodo. Selepas menyantap kelezatan kuliner khas itu, kami memulai sesi wawancara dengan memilih lokasi di Digital Library ULM. Kurang lebih selama satu jam, kami berbincang mengenai banyak hal inspiratif, termasuk sisi menarik pria berjiwa egaliter, enerjik, dan hangat tersebut. Berikut petikannya:

 

Bisa diungkapkan apa filosofi hidup Bapak dan motivasi Bapak untuk menjadi Rektor ULM?

Filosofi hidup saya, kerja adalah ibadah. Jadi, ketika saya pertama kali mencalonkan
diri menjadi rektor. Motivasi saya adalah ingin mengabdi kepada negara dan lembaga ini yang sudah memberikan banyak kepada saya. Saya sekolah S1, S2 di Yogyakarta juga Belanda, serta S3 di negeri kincir angin mendapat beasiswa. Saya hidup dengan gaji yang diberikan oleh pemerintah. Lalu sekarang apalagi? Saatnyalah saya untuk mengembalikan apa yang sudah didapat kepada almamater. Itu adalah amal jariah sepanjang kita ikhlas mengajar. Kalau ilmu itu bermanfaat, memberikan kemaslahatan bagi banyak orang, Insyaallah menjadi pahala yang tidak ada henti-hentinya. Hidup itu gampang saja bagi saya, sepanjang menjalaninya dengan baik, memberikan ilmu pengetahuan yang dimiliki kepada orang banyak, dan beramal, Insyaallah rezeki datang dari mana saja, tapi jangan sampai lupa untuk menyisihkan kepada orang lain. Itu membuat hidup kita lebih tenang.

 

Adakah program yang belum tercapai?

Kami membuat milestone, tahun 2015-2019 mempersiapkan SDM yang unggul dan berdaya saing. Kemudian tahun 2019-2023, kami sudah memiliki Pusat Unggulan IPTEK Nasional di bidang kajian lahan basah. Lalu pada 2023-2027, kami harus menjadi pusat unggulan IPTEK dalam bidang lahan basah di Asia Pasifik. Saat ini kami sedang memantapkan diri untuk membentuk pusat unggulan IPTEK di bidang lahan basah ini.

 

Kerja sama dengan kampus dari luar?

Kami bekerja sama dengan University of Colorado, Denver, Amerika Serikat. ULM bersama University of Colorado, Universitas Padjadjaran (Unpad), dan beberapa perguruan tinggi dalam negeri menerima hibah untuk mendirikan sebuah pusat penelitian kolaboratif (Center for Collaborative Research/CCR), dari program kerja sama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dan US Agency for International Development (USAID), yakni The Sustainable Higher Education Research Alliances (USAID SHERA). Jadi, kami melakukan riset dalam bidang medical science untuk tropical diseases yang akan melahirkan publikasi internasional.

Selain itu, kami juga bekerja sama dengan Sangji University Korea Selatan, mereka belajar mengenai tropical forest management. Dengan Universiti Kebangsaan Malaysia, kami sering mengadakan join seminar, publication, hingga student exchange.

Lalu, Philippine Women’s University mengirimkan mahasiswanya ke sini, saya berikan full scholarship kepada mereka. Sekarang ada 9 mahasiswa yang belajar di ULM dalam bidang farmasi, pertanian, ekonomi, dan sebagainya. Ke depan kami juga akan memberikan beasiswa untuk Palestina, sudah ada komunikasi dengan Dubes Palestina di Jakarta. Ini merupakan salah satu upaya ULM untuk merambah internasional.

Mahasiswa dari Newcastle University kalau summer course, pergi ke ULM untuk belajar tentang kajian lahan basah, konservasi lahan rawa, dan bagaimana konservasi fauna. Sementara dengan China University of Mining and Technology, kami menjalin kerja sama untuk kajian reklamasi lahan bekas tambang.

 

Setelah ULM mendapat akreditasi A. Lalu, what's next?

Target saya, di periode kedua ini ULM mendapat akreditasi internasional, seperti dari AUN-QA (Asean University NetworkQuality Assurance).


 

Secara implisit ULM dicita-citakan oleh pendirinya menjadi agent of development, khususnya di Kalimantan. Lantas langkah apa saja yang Bapak lakukan untuk mewujudkannya?

Kalimantan Selatan kan memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah dan lahan basah kami juga sangat luas. Jadi, tanggung jawab untuk menggali potensi itu, para akademisi yang ada di perguruan tinggi berkewajiban menggarap dan mengembangkannya. Kami harus menjaga kelestarian lingkungan karena SDA yang berlimpah jangan sampai menjadi bencana buat masyakarat. Batu bara dieksploitasi, tapi jangan ditinggalkan begitu saja. Harus ada upaya-upaya konservasi, kami mengadakan program riset berkaitan dengan itu, pengabdian masyarakat, dan sebagainya.

Sekarang ULM memantapkan diri sebagai pusat unggulan lahan basah nasional, harus bisa memanfaatkan lahan basah ini untuk kemaslahatan masyarakat. Saya agak kaget ketika Prof. Dr. Emil Salim ke sini,  beliau mengatakan, masa depan dunia itu ada di ULM karena beliau membaca tulisan saya di majalah yang menyatakan dunia semakin panas, air laut akan naik, bumi semakin basah, banyak daerah yang akan tergenang. Jadi, saat ini harus banyak kajian tentang lahan basah, pertanian lahan basah, serta ekonomi lahan basah. Kajian-kajian tersebut ada di ULM.

 

Bagaimana Bapak membangun komunikasi dengan dosen dan mahasiswa?

Kadang orang menganggap jabatan sebagai rektor itu tinggi sekali, orang segan bertemu. Jangankan mahasiswa, dosen ingin menghadap rektor berpikir 2-3 kali. Namun, kalau rektor dijauhi oleh dosen, bawahannya, mahasiswa, akan susah mendapatkan informasi dan masukan yang bagus untuk sebuah kebijakan. Sehingga, pintu saya terbuka lebar kalau mereka ingin bertemu dan berdiskusi, saya juga tak segan untuk datang jika diundang ke acara-acara mahasiswa. Kalau tidak bisa bertemu, bisa komunikasi lewat WA, facebook messanger, dan medsos lainnya.

 

Contohnya terhadap dosen?

Misalnya, beberapa ketua prodi yang ingin prodinya mendapat akreditasi A datang kepada saya, mereka menyampaikan kesulitan mendapatkan dana, menyusun borang, menyiapkan barang bukti. Banyak di antara mereka yang harus keluar uang sendiri. Mengetahui itu, keluarlah kebijakan, setiap prodi yang melakukan akreditasi akan diberi intensif Rp25 juta. Kalau mereka bisa mendapatkan akreditasi A, saya akan tambah lagi Rp25 juta. Itu bukan sekadar memotivasi karena saya tahu mereka ada kesulitan dalam penyusunan dan dananya susah mereka dapatkan. Jadi, dengan solusi seperti itu menunjukkan rektorat itu hadir, memerhatikan, dan mendampingi mereka. Itu bisa terjadi karena ada komunikasi. Kalau kami jaga jarak, kami akan sulit mendapat masukan yang konstruktif untuk lembaga ini.

 

Bagaimana dengan dukungan Bapak terhadap mahasiswa?

Rektorat selalu mendukung mahasiswa untuk berkarya. Misalnya, datang sekelompok mahasiswa teknik mesin kepada saya, ingin ikut kontes mobil hemat energi di Universitas Brawijaya (Malang), dana kami berikan. Mereka berhasil menjadi juara dalam bidang desain. Tahun berikutnya, mereka bilang, ingin berkancah di internasional, mereka pun ikut Shell Eco-marathon Asia di Singapura. Tahun berikutnya mereka ikut lagi.

Mahasiswa teknik pertambangan ikut mining competition kami support, Alhamdulillah juara nasional. Mahasiswa kedokteran juga langganan juara di tingkat Asean. Saya pikir, mahasiswa ULM potensinya besar, sepanjang kami memberikan dukungan yang konstruktif, mereka bisa tumbuh menjadi SDM yang unggul dalam bidangnya masing-masing.

 

 

Obsesi Bapak?

Sudah jadi guru, wartawan, dan presiden universitas. Saya pikir cukup sudah hidup kita ini, kalau orang mengatakan saatnyalah kita bertafakur. Mendekatkan diri pada Allah SWT. Sebenarnya pengabdian itu tidak dibatasi oleh usia apalagi seorang profesor usia pensiunnya 70 tahun. Kalau saya kan masih 50 tahun. Jadi, masih panjang kariernya. Setelah jadi rektor, kembali menjadi dosen, saya akan memberi training yang banyak, kepada guru-guru matematika karena matematika penting bagi bangsa ini untuk menciptakan SDM yang unggul, berkualitas, berpikir kreatif, sistematis, serta akan mendorong bangsa ini semakin kompetitif. Ke depan saya ingin lebih banyak berjuang dalam bidang pendidikan pengajaran. Kebetulan saya juga memiliki hobi menulis. Dengan menulis, buku kita dibaca orang lain, Insyaallah bisa memberikan inspirasi. Bulan Juni nanti  buku saya berjudul “Membingkai Bayangbayang” akan terbit.

 

Buku tersebut berkisah tentang apa?

Saya kan sering traveling keliling dunia. Jadi, pengalaman saya berjelajah itu saya tuangkan dalam buku ini sekaligus menceritakan perjalanan saya sebagai mahasiswa, dosen, rektor, trainer di beberapa negara Asia, Eropa, Amerika, Australia. Banyak pengalaman yang didapat dan banyak juga yang dilihat.

 

Ada yang bilang Bapak itu sangat cinta ULM. Bahkan, hari libur saja ke sini?

Saya kalau tugas keluar daerah dua-tiga hari kan tidak ke ULM, pikiran saya itu selalu ke kampus. Jadi, kalau tiba hari Sabtu, Minggunya, saya ke kampus karena kangen. Apalagi saat itu ada pembangunan, setiap Minggu saya keliling untuk melihat progresnya. Saya di ULM juga pelihara angsa, bebek, dan burung merpati. Kalau tidak lihat sehari saja bisa rindu. Saya suka memberi makan merpati. Dulu jumlahnya hanya 20 ekor, sekarang 300 ekor. Jadi ramai, saya senang.

 

Hobi yang Bapak ditekuni?

Dulu saya sering sepeda alias gowes karena saat menempuh pendidikan di Belanda juga kerap melakoni hobi ini. Saya juga gemar jalan kaki setiap pagi. Lalu setelah menjadi rektor, waktu kian padat, saya tenis di kampus, seminggu 1-2 kali. Ini membuat rileks karena lepas bisa tertawa lepas dengan dengan kawan-kawan. Jadi, tidak ada jarak antara rektor, dosen, dan mahasiswa. Selain itu, saya juga suka traveling. Kalau ke luar daerah atau negeri, kita bisa rileks. Saya merasakan, kalau melihat suatu daerah atau wilayah yang baru membuat pikiran menjadi fresh.

 

Tips sukses untuk generasi milenial?

Satu harus fokus terhadap tujuan hidup karena untuk sukses tidak semudah membalik telapak tangan. Dulu saya masih S1 belum menjadi doktor, saya sering nulis di kertas, di depan nama saya diberi gelar Dr. Itu memacu saya untuk harus jadi doktor. Ingin sekolah ke luar negeri, syaratnya apa? Harus bisa bahasa Inggris kan? Ya, harus kursus bahasa Inggris. Akhirnya dapat beasiswa. Ingin menjadi profesor saya tulis gelar profesor di nama saya. Dengan menulis itu, saya berjanji kepada diri saya sendiri bahwa cita-cita tertinggi sebagai dosen adalah menjadi guru besar, Alhamdulillah dalam usia 41 tahun, saya bisa menjadi profesor. Jadi pesan saya untuk anak-anak muda, Jangan segan-segan untuk menempatkan cita-cita setinggi langit. Namun, harus fokus, konsisten dengan tujuan, dan realistis.

Apa Kata Mereka?

Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor

Tahun ini, ULM meraih akreditasi A. Tentunya, ini tidak hanya membanggakan bagi ULM sendiri, tapi juga bagi masyarakat Kalsel, terutama kami, Pemprov Kalsel, juga sangat bangga. Harapan saya, lulusan ULM akan semakin berkualitas, banyak berperan dalam hal pembangunan di Kalsel. Sampai hari ini di Pemprov Kalsel, banyak lulusan ULM yang berperan untuk membangun Banua. Saya juga gembira, melihat istri tercinta sukses yudisium dari ULM dengan predikat cumlaude. Secara personal, saya menilai Pak Sutarto sangat baik, beliau sahabat baik saya. Saya lihat beliau ini fokus dan mau berkolaborasi dengan siapa saja.

 

Hj. Ermina (Istri Rektor)

Sebagai suami, sejak awal pernikahan, Bapak itu termasuk orang yang sangat gigih, kerja keras, tanggung jawab kepada keluarga, masyarakat, dan kehidupan orang banyak. Di dalam keluarga, Bapak bisa menjadi figur yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Bapak juga hidupnya selalu ingin berbuat yang terbaik untuk orang banyak karena seperti dalam agama itu kan dikatakan, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Itulah mungkin yang menjadi visi misi Bapak di dalam kehidupannya. Mudah-mudahan itu menjadi amal ibadah untuk bapak.

 

Sekretaris Senat ULM Dr. H. Harpani Matnuh, M.H.

Terpilihnya Pak Sutarto sebagai rektor yang kedua kalinya, ini membuktikan Pak Sutarto Hadi membawa kemajuan yang sangat pesat bagi ULM, baik itu bangunan dari segi sarana dan prasarana. Kemudian, peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas kelembagaan ini kan di bawah kepemimpinan beliau, baik di tingkat prodi, fakultas, maupun universitas, dapat meraih prestasi yang terbaik dengan nilai akreditasi A sebagai sebuah kebanggaan warga ULM dan masyarakat Kalsel pada khususnya.

 

Prof. Dr. H. Rizali Hadi, M.M. (Dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan program studi pendidikan ekonomi). 

Pak Sutarto Hadi dalam memimpin itu kalem, mengatasi masalah dengan tenang, dan keputusan-keputusan yang diambilnya relatif tepat dalam memajukan SDM serta fasilitas-fasilitas yang ada di ULM.

 


Prof. Dr. Ir. Emmy Sri Mahreda, M.P. Dari Fakultas Perikanan dan Kelautan.

Kami melihat banyak terjadi perubahan yang mendasar, kemajuan terutama akhirakhir ini, yaitu akreditasi dari B menjadi A. Demikian juga di prodi-prodi, semua banyak meningkat yang dari B menjadi A, dari C sudah menjadi B semua. Selain itu, kami mendapat dana dari IsDB untuk membangun infrastruktur baru, seperti beberapa lab. Guru besarnya sekarang sudah banyak, meningkat dua kali lipat. Kemudian yang meraih gelar doktor juga meningkat jauh sekali.

 

Hurul Firda, SKM 

ULM ini sangat memfasilitasi mahasiswanya yang berprestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Apalagi dosen ULM sangat membimbing mahasiswanya dengan sangat baik sehingga bisa mencapai gelar sarjana. Sebagai mahasiswa saya menilai Pak Sutarto Hadi itu sangat dekat dengan mahasiswa. Beliau juga sering mengikuti kegiatan-kegiatan mahasiswa baik yang di lapangan, secara akademik dan non akademik. Beliau juga sering membimbing mahasiswa. Harapan saya tentunya semoga ULM menghasilkan wisudawan yang mampu bersaing dengan universitas di luar sana dan juga mampu menghasilkan wisudawan yang memiliki kemampuan hardskill dan softskill sehingga bisa berkompetisi di dunia kerja.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

                  

Popular

       

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250