Dr. Alan Cheung Mengupas Mitos Bedah Robotik dan Bahaya Tersembunyi Cedera Olahraga
Cedera olahraga sering dianggap sebagai risiko yang tak terelakkan bagi mereka yang aktif bergerak. Namun, banyak dari kita cenderung mengabaikan sinyal awal dari tubuh, membiarkan nyeri kecil menetap hingga akhirnya membatasi ruang gerak di masa depan. Memahami batasan fisik dan mengetahui kapan harus mencari bantuan ahli menjadi kunci agar hobi tetap menjadi sumber kebugaran, bukan justru pintu menuju meja operasi.
dr. Alan Cheung, seorang spesialis bedah ortopedi yang berpraktik di Mount Elizabeth Novena Hospital, memahami urgensi ini dengan sangat baik. Namanya telah dikenal luas di kalangan atlet profesional maupun pasien yang ingin kembali bergerak aktif tanpa dibayangi nyeri. Keahlian utamanya berfokus pada penanganan cedera olahraga serta operasi penggantian panggul dan lutut dengan pendekatan yang mengutamakan presisi.
Keunggulan tersebut didukung penguasaan teknologi bedah terkini. dr. Alan termasuk sedikit konsultan ortopedi di Asia yang memiliki sertifikasi dan pelatihan untuk mengoperasikan tiga sistem robotik canggih, yaitu MAKOplasty, Robodoc, dan NAVIO. Teknologi ini membantu meningkatkan akurasi tindakan sekaligus mendukung proses pemulihan pasien.
Perjalanan profesionalnya ditempa di sejumlah pusat medis terkemuka dunia. Setelah menyelesaikan pelatihan bedah trauma dan ortopedi di London, ia melanjutkan fellowship di Royal Prince Alfred Hospital dengan fokus pada rekonstruksi sendi dan onkologi muskuloskeletal. Pengalaman tersebut membentuk pendekatan medis yang menggabungkan inovasi, ketelitian, dan upaya berkelanjutan untuk membantu pasien mendapatkan kembali kualitas hidup yang optimal.
Mitos Mesin Pengganti Dokter
Lewat sentuhan teknologi, ia menawarkan tingkat akurasi tinggi yang meminimalkan sayatan sekaligus mempercepat masa pemulihan. Namun, bedah robotik sering memunculkan bayangan fiksi ilmiah seolah-olah mesin pintar mengambil alih seluruh proses di ruang operasi. Pandangan ini segera ditepis oleh dr. Alan. Baginya, secanggih apa pun instrumen medis, posisinya tetap sebagai alat bantu yang menyempurnakan keahlian ahli bedah.
"Anda bisa mengibaratkannya seperti ini, mengapa masih memakai sempoa jika sudah ada komputer?" kelakar dr. Alan saat menjelaskan transisi dari metode konvensional.
Menurutnya, robotika sekadar mengambil peran 30 hingga 40 persen dari keseluruhan operasi, khusus untuk membantu bony cuts atau pemotongan tulang. Sementara itu, pendekatan jaringan lunak, penanganan otot, hingga penutupan luka tetap berada seratus persen di bawah kendali tangan dokter.
Karakteristik interaksinya pun sangat intim. dr. Alan menjelaskan bahwa ia mendapatkan haptic feedback berupa sensasi sentuhan langsung, ditambah panduan auditori dan visual secara bersamaan. Ia berada tepat di dekat layar dan pasien, sangat kontras dengan robot bedah umum di mana dokter sering kali duduk terpisah di sebuah console. Teknologi presisi ini terus didorong demi satu tujuan esensial, yaitu meningkatkan persentase keberhasilan jangka panjang dan menjaga kualitas mobilitas pasien.
Beda Olahraga, Beda Tingkat Risiko
Wawasan tajam dr. Alan dalam menangani cedera bukanlah sebatas teori dari balik meja bedah. Ia sendiri merupakan seorang atlet yang sangat aktif. Sejak muda, ia telah menjadi pemain andalan untuk Cambridge Rugby Club. Kecintaannya pada aktivitas fisik tidak pernah pudar hingga kini. Ia rutin berlatih Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) di Evolve Mixed Martial Arts, bahkan kerap berkompetisi dan sukses merebut medali emas di berbagai turnamen bergengsi di Singapura hingga Jepang. Saat tidak bergulat di atas matras, ia menikmati golf, bersepeda, bermain ski, dan terjun langsung sebagai peserta aktif dalam kompetisi kebugaran intens seperti Hyrox.
Latar belakang personal inilah yang menjadikannya sangat peka terhadap psikologi pasien dan variasi cedera fisik yang ia tangani. Berbicara mengenai tingkat keparahan, orang awam mungkin mengira atlet bela diri profesional rentan mengalami kerusakan fisik fatal. Kenyataannya, pengalaman dr. Alan sebagai tim medis di ajang One Championship membuktikan bahwa cedera parah di arena laga justru terminimalisasi berkat regulasi ketat.
Sebaliknya, ia mencatat tingginya tingkat cedera dari pasien asal Indonesia yang aktif dalam olahraga rekreasi. Ia kerap menangani kerusakan sendi parah seperti robekan ligamen ACL, cedera meniscus, hingga dislokasi bahu akibat olahraga populer seperti basket, sepak bola, dan Jiu Jitsu. Tingginya angka cedera amatir ini sering dipicu oleh kebiasaan mengabaikan sinyal tubuh.
"Memang sangat wajar mengalami delayed onset muscle soreness atau DOMS jika Anda baru mulai berolahraga. Namun, jika rasa sakit itu tidak hilang setelah satu atau dua hari beristirahat, terasa sangat menyiksa hingga Anda tidak bisa berjalan, Anda harus segera mencari bantuan medis," paparnya.
Menurutnya, menerobos batas toleransi nyeri bukanlah sebuah kebanggaan. Mengabaikan peringatan tubuh dan memaksakan diri berlatih justru berpotensi merobek jaringan lebih luas. Sebuah rutinitas kebugaran seharusnya diimbangi dengan waktu pemulihan memadai dan cross-training ringan. Langkah preventif ini sangat penting agar antusiasme berolahraga tidak berujung pada kerusakan otot parah yang mewajibkan tindakan operasi.
Di balik presisi sub-milimeter teknologi robotik dan keahlian tangan dingin seorang ahli bedah, pesan dr. Alan menggemakan satu prinsip fundamental. Tubuh manusia adalah alarm paling canggih yang wajib didengarkan. Euforia gaya hidup aktif sudah selayaknya menjadi bentuk perayaan atas vitalitas, bukan ajang pembuktian ego yang berisiko mengorbankan mobilitas di masa depan.
Menjaga kesehatan sendi dan otot tidak hanya dilakukan saat cedera terjadi. Pemahaman yang tepat mengenai pemulihan serta dukungan teknologi medis yang terus berkembang membantu banyak orang tetap aktif menjalani rutinitas dan hobi yang mereka cintai. Tubuh merupakan investasi jangka panjang yang perlu dirawat secara konsisten. Semakin dini perhatian diberikan, semakin besar peluang untuk tetap bergerak nyaman dan menikmati kualitas hidup yang baik di masa mendatang.


