Kolaborasi Kenvue BPOM dan Guardian Wujudkan Gerakan Nasional #SehatTanpaRokok
Krisis ketergantungan tembakau di Indonesia kini bukan lagi sekadar isu kesehatan masyarakat, melainkan telah berkembang menjadi tantangan serius bagi produktivitas ekonomi nasional. Dengan angka perokok aktif yang menembus 70 juta orang, dampak kerugian tidak hanya membebani finansial keluarga, tetapi juga mengancam stabilitas dunia usaha akibat penurunan kualitas kesehatan angkatan kerja.
Sebagai respons konkret, kampanye nasional #SehatTanpaRokok resmi diluncurkan guna mengakselerasi penurunan prevalensi perokok melalui kolaborasi strategis lintas sektor.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari Program Upaya Berhenti Merokok yang sejalan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia menjadi panggung sinergi antara Kementerian Kesehatan, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta para pelaku industri.
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia dr. Benjamin Paulus Octavianus menegaskan pentingnya perubahan paradigma dalam sistem kesehatan nasional.
"Di Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini, saya ingin mengingatkan bahwa kita memiliki agenda Transformasi Sistem Kesehatan yang menempatkan upaya promotif dan preventif sebagai fondasi utama. Pemerintah terus memperkuat kebijakan pengendalian tembakau serta menyelesaikan regulasi yang bertujuan mengurangi daya tarik produk tembakau, terutama bagi anak-anak dan remaja," ujar Benjamin.
Dari sisi pengawasan keamanan produk, Deputi Bidang Pengawasan BPOM dr. William Adi Teja menyoroti pentingnya standardisasi penanganan adiksi. "Perlindungan konsumen adalah prioritas mutlak. Kehadiran produk farmakoterapi yang memiliki izin edar resmi dari BPOM dapat membantu masyarakat yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan nikotin," tegasnya.
Sejalan dengan visi perlindungan tersebut, Direktur Utama Kenvue Tenny Anggia Murni Pramono menegaskan bahwa masa depan kesehatan Indonesia harus dibangun melalui kerja sama yang inklusif dan berbasis sains. "Kami meyakini bahwa setiap inisiatif kesehatan harus selalu berorientasi pada dampak konkret bagi masyarakat luas," ujarnya. Menurut Tenny, sinergi yang terjalin erat ini mencerminkan kekuatan kepemimpinan kolektif ketika berbagai pemangku kepentingan bersatu dan berjalan seiring untuk menghadirkan perubahan berkelanjutan bagi kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Hal tersebut selaras dengan perspektif medis bahwa ketergantungan nikotin bukanlah kebiasaan semata, melainkan kondisi klinis. Penasihat Pengurus Pusat PDPI Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto memaparkan, "Yang perlu dipahami, ketergantungan nikotin adalah kondisi medis sehingga berhenti merokok sering kali membutuhkan bantuan profesional, bukan sekadar mengandalkan niat. Penggunaan terapi pengganti nikotin dapat meningkatkan peluang keberhasilan berhenti merokok hingga dua kali lipat, dan hingga lima kali lipat apabila dikombinasikan dengan konseling perilaku."
Tantangan di lapangan turut diamini oleh dr. Tirta Mandira Hudhi selaku dokter dan mantan perokok berat. "Sebagai mantan perokok berat selama belasan tahun, saya merasakan langsung betapa kuatnya jerat adiksi nikotin. Berhenti merokok memang butuh tekad, tetapi sering kali niat saja kalah oleh sindrom putus obat atau withdrawal syndrome," ungkap Tirta. Ia sangat mengapresiasi kampanye ini karena perokok dinilai butuh solusi medis yang terukur, bukan sekadar imbauan.
Oleh karena itu, kehadiran infrastruktur akses terapi menjadi krusial dalam ekosistem bisnis kesehatan. Marketing Director Kenvue Indonesia Fika Yolanda menyatakan, "Tujuan utama kami adalah memastikan setiap individu yang memiliki niat untuk berhenti merokok mendapatkan pendampingan yang tepat serta akses terhadap solusi medis yang terbukti secara ilmiah."
Dukungan tersebut diperkuat oleh jaringan ritel Guardian yang siap mempermudah akses masyarakat di akar rumput. "Melalui peran lebih dari 500 apoteker dan tenaga vokasi farmasi sebagai garda terdepan, kami meyakini akses pendampingan yang tepat dapat membantu masyarakat lebih percaya diri memulai perjalanan berhenti merokok," tutup Commercial Director Guardian Indonesia Karina Elisabet Wirian. Kampanye lintas disiplin ini diharapkan mampu menciptakan lanskap baru demi mewujudkan angkatan kerja yang lebih sehat dan produktif.


