Sebelum Disematkan Gelar “Ki”, Arsjad Rasjid Memilih Pulang ke Akar: Sebuah Pelajaran tentang Kepemimpinan dan Budaya
Di tengah gemerlap panggung dan penghormatan yang menanti, Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat justru memilih langkah yang tidak biasa. Ia tidak langsung menuju pusat acara. Ia memilih berjalan ke arah sebaliknya—ke tempat yang sunyi, jauh dari sorotan.
Di kawasan Trowulan, ia bersama rombongan berziarah ke petilasan Eyang Gajah Mada. Sebuah ruang yang tidak sekadar menyimpan sejarah, tetapi juga menyimpan makna tentang bagaimana kekuatan besar lahir dari perenungan yang dalam.
Di situlah, sebelum menerima gelar kehormatan “Ki”, ia seperti “pulang” sejenak—menyentuh akar, mengingat kembali nilai yang menjadi fondasi kepemimpinan Nusantara.
“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi pengingat tentang persatuan dan pengabdian,” ujarnya pelan.
Kalimat itu mungkin singkat, tapi terasa sebagai pintu masuk untuk memahami apa yang terjadi setelahnya.
Ketika Wayang Menjadi Cermin Kepemimpinan
Malamnya, suasana berubah. Pendopo Trowulan dipenuhi masyarakat. Panggung wayang kulit hidup dengan lakon Parikesit Jumeneng Ratu—sebuah kisah tentang kepemimpinan yang tidak lahir dari kekuasaan, tetapi dari tanggung jawab.
Di tengah pagelaran itu, Padepokan Kosgoro 57 menganugerahkan gelar kehormatan “Ki” kepada tujuh tokoh nasional.
Selain Arsjad Rasjid, penghargaan tersebut juga diterima oleh Fanshurullah Asa, Mukhtar Tompo, Izhari Mawardi, Adik Dwi Putranto, Muhammad Nabil, dan Lutfil Hakim. Mereka datang dari dunia yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: kontribusi nyata bagi masyarakat.
Di panggung itu, gelar “Ki” terasa bukan sekadar simbol. Ia seperti kontrak moral.
“Ini bukan hanya penghormatan, tetapi tanggung jawab untuk menjaga nilai budaya dan pendidikan,” kata M. Ridwan Hisjam.
Dan di situlah, penghargaan berubah menjadi amanah.
Budaya yang Tidak Diam, Tapi Bergerak
Namun cerita di Trowulan tidak berhenti pada panggung. Ada langkah lain yang diambil—lebih tenang, tapi punya dampak panjang.
Padepokan Kosgoro 57 menjalin kerja sama budaya dengan Padepokan Giri Kedaton Nusantara yang dipimpin oleh Ki Semar Romo Bayu Suryoadiwinata.
Kehadiran Ki Semar sendiri membawa pesan tersendiri. Ia hadir bukan hanya sebagai tokoh budaya, tetapi juga sebagai utusan Presiden Prabowo Subianto dalam konteks kebudayaan.
Kolaborasi ini menjadi penanda bahwa budaya tidak lagi dipandang sebagai warisan yang diam. Ia harus bergerak, berkembang, dan menyentuh generasi baru.
“Budaya adalah jati diri bangsa. Kalau tidak kita hidupkan bersama, ia akan hanya menjadi cerita,” ujar Ki Semar.
Dari pagelaran rutin, pelatihan seni, hingga kegiatan sosial berbasis kearifan lokal—semua dirancang agar budaya tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam seremoni.
Trowulan, dan Ingatan yang Tidak Pernah Usang
Mengapa Trowulan? Pertanyaan itu seperti terjawab dengan sendirinya. Kawasan ini bukan sekadar situs sejarah. Ia adalah ruang ingatan kolektif tentang bagaimana Nusantara pernah dipersatukan oleh visi besar.
Di sinilah Gajah Mada dipercaya pernah bersemedi, memohon restu sebelum mengikrarkan Sumpah Palapa. Sebuah momen yang mengajarkan bahwa sebelum langkah besar diambil, ada proses hening yang harus dilewati.
Dan mungkin, itulah yang tanpa disadari diulang kembali hari itu.
Belajar dari Cara Memulai
Apa yang dilakukan Arsjad Rasjid memberi satu pelajaran sederhana, tapi dalam. Bahwa dalam dunia yang serba cepat, berhenti sejenak bukanlah kelemahan. Justru di situlah arah bisa ditemukan kembali.
Gelar “Ki” yang ia terima malam itu bukan akhir dari perjalanan. Ia adalah awal dari tanggung jawab baru—untuk menjaga, merawat, dan meneruskan nilai yang telah diwariskan.
“Ini amanah untuk terus memberi manfaat,” katanya.
Di tengah riuhnya dunia modern, pesan itu terasa jernih. Bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dari panggung, tetapi dari kesadaran untuk kembali ke akar.
Dan dari Trowulan, kita diingatkan kembali—bahwa masa depan Indonesia tidak pernah benar-benar lepas dari budayanya. (Albar - Foto Dok. Istimewa)


