Setelah Bali dan Doha, Dough Darlings Perluas Jejak di Jakarta

Editor Oleh: Redaktur - 13 January 2026

Dari dapur rumahan di Bali hingga pasar internasional, Dough Darlings terus menguji ketahanan model bisnisnya melalui ekspansi yang terukur. Jakarta kini menjadi medan penting untuk membaca apakah diferensiasi rasa lokal mampu bertahan di pasar dengan kompetisi paling ketat di Indonesia.

Dough Darlings melanjutkan fase pertumbuhan bisnisnya dengan memasuki pasar Jakarta melalui pop-up store di Gafoy, Mall Kelapa Gading. Kehadiran ini menandai langkah strategis brand donat artisan asal Indonesia tersebut setelah membangun basis kuat di Bali dan mencatatkan ekspansi internasional ke Doha. Jakarta dipilih sebagai pasar uji yang relevan untuk membaca perilaku konsumen urban dengan tingkat persaingan yang tinggi.

“Kami melihat Jakarta sebagai ruang penting untuk menguji konsistensi brand dalam skala yang lebih kompleks,” ujar Co-Founder Dough Darlings, Ivan Mario Halim. Menurutnya, keputusan hadir lewat pop-up bukan sekadar soal kehadiran fisik, tetapi bagian dari proses memahami ekspektasi pasar sebelum mengambil langkah jangka panjang. “Respons konsumen di kota ini memberi banyak pembelajaran bagi arah pertumbuhan berikutnya,” lanjutnya.

Didirikan pada 2015, Dough Darlings tumbuh dari dapur rumahan menjadi bisnis dengan positioning jelas di segmen artisan food. Sejak awal, perusahaan ini memilih jalur produksi manual dengan bahan pilihan dan tanpa pengawet, meski berarti proses yang lebih menantang secara operasional. Strategi tersebut membentuk identitas merek yang kuat sekaligus menjaga diferensiasi di tengah pasar makanan yang semakin padat pemain.

Model pop-up store yang berlangsung hingga Maret 2026 dipilih sebagai pendekatan bisnis yang fleksibel dan terukur. Selain menekan risiko investasi awal, format ini memberi ruang evaluasi menyeluruh, mulai dari pola pembelian hingga preferensi rasa konsumen Jakarta. Bagi Dough Darlings, pop-up menjadi alat observasi pasar yang penting sebelum menentukan ekspansi permanen.

Dari sisi produk, Dough Darlings menampilkan portofolio donat dengan karakter rasa yang tegas. Varian gurih seperti Donat Ayam Klungkung dan Ayam Bejek menunjukkan keberanian brand mengangkat cita rasa masakan Indonesia ke dalam format pastry. Sementara itu, varian manis seperti Klepon Mochi dan Pie Susu tetap menjadi andalan yang telah teruji di berbagai pasar.

“Bali membentuk cara kami memahami rasa dan cerita di baliknya,” kata Ivan. Ia menilai kekayaan kuliner lokal memberi ruang eksplorasi yang luas sekaligus relevan bagi konsumen modern. “Nilai ini kami jaga, bahkan saat membawa Dough Darlings ke pasar yang berbeda,” ujarnya.

Pengalaman membuka gerai di Doha pada 2025 turut memperkuat kepercayaan diri perusahaan dalam bersaing di tingkat global. Ekspansi tersebut mendorong penguatan sistem produksi, manajemen tim, serta standar kualitas yang konsisten lintas negara. Langkah internasional ini juga berdampak positif pada persepsi brand di pasar domestik.

Seluruh produk Dough Darlings dibuat secara manual dengan kontrol ketat di setiap tahap. Selain itu, perusahaan mengembangkan lini non-dairy, gluten-free, dan vegan sebagai respons terhadap perubahan preferensi konsumen. Ke depan, Dough Darlings membuka peluang pertumbuhan melalui kanal online dan kolaborasi dengan brand lokal, dengan fokus pada disiplin operasional dan diferensiasi rasa sebagai fondasi bisnis yang berkelanjutan. [Angie]