Generasi Muda Makin Jauh dari Dapur, Kampus Coba Hadirkan Kesadaran Baru
Ketergantungan generasi muda pada makanan instan dan layanan pesan antar kian menguat seiring ritme hidup urban yang serba cepat, terutama di kalangan mahasiswa. Kepraktisan sering menjadi alasan utama, ditambah keterbatasan waktu dan minimnya keterampilan memasak yang membuat dapur terasa asing. Memasak pun kerap dipersepsikan sebagai aktivitas yang rumit dan tidak relevan dengan gaya hidup modern.
Padahal, dapur sejak lama memiliki makna yang jauh melampaui fungsi memasak dalam budaya keluarga Indonesia. Di ruang ini, nilai, cerita, dan tradisi diwariskan lintas generasi melalui resep dan kebiasaan yang dijalani bersama. Ketika dapur mulai ditinggalkan, koneksi emosional dan kultural yang terbangun di dalamnya ikut memudar.
Kondisi tersebut mendorong munculnya berbagai inisiatif yang mengajak generasi muda kembali memaknai dapur sebagai ruang kebersamaan. Memasak dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap diri sendiri, mulai dari pilihan bahan hingga kesadaran akan nutrisi. Lebih jauh, dapur bisa menjadi ruang sosial yang menguatkan relasi, baik dengan keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie melihat permasalahan ini dan meluncurkan kampanye Public Relations bertajuk #KembaliKeDapur sebagai proyek menyambut Hari Ibu. Kampanye ini dirancang untuk mengajak generasi muda melihat dapur sebagai ruang pelestarian tradisi sekaligus respons atas tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi yang mencapai 1,01 juta orang pada Februari 2025. Tiga mata kuliah, yakni Relasi Media, Produksi Konten Visual, dan Cyber PR, digabungkan dalam simulasi kerja nyata di bawah bimbingan dosen Octaviniant Aspary dan praktisi VERO Agency, Diah Andrini Dewi.
Dalam rangka memperkaya perspektif, mahasiswa juga berdialog dengan sejumlah tokoh melalui talkshow, salah satunya Fery Farhati, Ketua TP PKK DKI Jakarta periode 2017–2022. Ia menekankan bahwa dapur memiliki peran penting dalam menjaga memori dan identitas keluarga, terutama dalam konteks peran ibu. "Dapur lebih dari sekadar tempat memasak, ia adalah ruang untuk melestarikan nilai, tradisi, dan cerita keluarga," ujar Fery.
Perspektif lain datang dari Anne, pendiri Seroja Bake, yang menjalankan misi untuk mempopulerkan kembali jajanan pasar di tengah dominasi tren pastry luar negeri. Melalui strategi akulturasi rasa, ia mengemas bahan lokal seperti tepung sagu dan beras menjadi hidangan modern, salah satunya Sagumisu yang memadukan konsep tiramisu dengan cookies sagu. Konsistensi dan narasi yang dibangun Anne menunjukkan bahwa kuliner tradisional Indonesia tetap bisa tampil relevan dan berkelas.
“Tantangan terbesar kami adalah bagaimana membuat generasi yang terbiasa dengan croissant bisa jatuh cinta kembali pada resep zaman dulu; itulah alasan kami menghadirkan Sagumisu, cara kami mengenalkan kekayaan tepung lokal melalui rasa yang sudah familiar,” ujar Anne. Pengalaman tersebut memberi gambaran bahwa dapur juga dapat menjadi ruang inovasi tanpa harus meninggalkan akar budaya. Bagi mahasiswa, sudut pandang ini membuka pemahaman bahwa tradisi dapat tumbuh berdampingan dengan selera generasi baru.
Penutup kampanye ini menegaskan bahwa proses belajar tidak berhenti pada perancangan ide, tetapi berlanjut pada kesiapan mental dan keterampilan praktis yang dibutuhkan di dunia profesional. Dapur kembali hadir sebagai ruang belajar, ruang relasi, sekaligus ruang ingatan yang membentuk karakter generasi muda. Lewat pengalaman memasak dan berbagi, kampanye ini mengajak anak muda menyadari bahwa tradisi hidup dijalani dan diteruskan melalui tindakan sehari-hari. (Angie)


