PINTU Incubator Berkolaborasi dengan Lakon Indonesia Hadirkan Keindahan Wastra Indonesia ke Skala Global
Lakon Indonesia melalui inisiatif internasionalnya, PINTU Incubator, dengan bangga mempersembahkan koleksi kapsul hasil kolaborasi di Premiere Classe Paris, salah satu ajang pameran mode paling berpengaruh di dunia. Kehadiran ini menandai langkah penting dalam memperkenalkan kekayaan wastra Indonesia ke panggung global, sekaligus memperkuat dialog lintas budaya antara Indonesia dan Prancis.
Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan Dinas Pariwisata & Ekonomi Kreatif DKI Jakarta. Dari 10.062 brand yang tertarik dan 12 student ecole duperre, akhirnya terpilih 64 brand Indonesia terinkubasi dan 2 residency dengan melibatkan 129 mentor, termasuk 44 ahli mode Prancis. Kabar gembira di ajang ini lil public mendapatkan buyer dari Jepang dan Belanda. Sementara, Denim It Up dilirik oleh buyer dari Yunani dan India, lalu Fuguku memperoleh buyer dari Italia (Naples, Leuca, Roma), Belanda (Amsterdam) dan Prancis (Paris).

Platform Fashion Bilateral
PINTU Incubator - sebuah inisiatif yang digagas oleh Lakon Indonesia, JF3 Fashion Festival, dan Kedutaan Prancis di Indonesia melalui Institut Français d’Indonesie, didirikan untuk mendukung talenta muda Indonesia agar dapat berkembang dan terhubung dengan pasar internasional. Sejak awal, PINTU menghadirkan program pendampingan, akses industri, dan eksposur global, sehingga kreativitas Indonesia dapat bersaing secara kontemporer dan profesional.
“PINTU Incubator lahir dari keyakinan bahwa warisan budaya Indonesia tidak hanya harus dilestarikan, tetapi juga diberi ruang untuk bertransformasi dan bersaing di tingkat internasional. Premiere Classe memberi kami kesempatan untuk menunjukkan bahwa karya dari Indonesia memiliki kualitas eksekusi, relevansi pasar, dan daya saing global,” ujar Thresia Mareta, Founder Lakon Indonesia & Co-initiator PINTU Incubator.

Koleksi Residency di Premiere Classe
Dalam edisi Paris kali ini, PINTU menampilkan hasil Residency Program, yaitu program yang mempertemukan desainer internasional dengan pengrajin lokal Indonesia: Priscille Berthaud, lulusan École Duperré Paris, berkolaborasi dengan penenun di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ia menerjemahkan struktur tenun tradisional menjadi siluet elegan dengan sentuhan arsitektural.
Kozue Sullerot, desainer dari Enamoma (École Nationale de Mode et Matière – PSL Paris), bekerja sama dengan pembatik di Tegal, Jawa Tengah. Bersama-sama, mereka menghadirkan motif dan teknik baru yang memberi energi segar pada tradisi batik. (ES | Foto: PINTU Incubator)


