Obsession Awards 2020; Best Entrepreneurs

Oleh: Syulianita (Editor) - 13 April 2020 | telah dibaca 678 kali

Naskah: Arief S. Foto: Istimewa

 

Sandiaga Salahudin Uno atau yang akrab disapa Sandiaga Uno merupakan pengusaha muda sukses di Indonesia. Betapa tidak, pada usia 40 tahun, majalah Forbes mencatat Sandi sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia. Pada usia 42 tahun, ia kembali masuk daftar Forbes sebagai orang terkaya peringkat ke-37 di Indonesia dengan total kekayaan USD660 juta. Apa yang ia capai tersebut, ternyata dibutuhkan perjuangan, kerja keras, dan sikap pantang menyerah dalam menghadapi tantangan.

 

Sandi merupakan salah satu sosok pengusaha yang memiliki pendidikan cukup tinggi dengan dua gelar dari dua kampus berbeda di luar negeri. Gelar sarjana Administrasi Bisnis Sandiaga sendiri didapat dari Wichita State University di Amerika tahun 1990 dengan predikat cum laude. Sedangkan, gelas masternya didapat dari George Washington University di Amerika dengan IPK 4,00 kumulatif.

 

Sebelum menjadi pengusaha, pria kelahiran Riau ini bekerja sebagai karyawan kantoran, di antaranya bergabung dengan Investasi Seapower Asia Limited di Singapura dan pada 1994 menjadi manajer investasi di MP Grup Holding Limited. Setahun kemudian, ia menjadi wakil presiden eksekutif, pindah ke NTI Resources Ltd di Kanada dengan gaji fantastis USD8.000 dolar per bulan.

 

Saat krisis moneter 1997, NTI Resourches Ltd, tempat ia bekerja bangkrut. Tabungan yang diinvestasikan dipasar saham dengan susah payah ikut terdampar seiring runtuhnya pasar global. Ia pun memutuskan untuk kembali ke Tanah Air.

 

Kondisi perekonomian di Indonesia yang sama buruknya membuat Sandi dipaksa menghadapi situasi sulit. Menjadi pengangguran dalam waktu yang cukup lama membuat dirinya defisit dan tak bisa membayar uang sewa rumah. Ia pun terpaksa pindah dari rumah sewa ke rumah orangtuanya.

Di tengah situasi yang sulit tersebut, Sandi terpikir untuk terjun ke dunia usaha, maka di tahun saat krisis masih mendera, ia bersama Rosan Roeslani mendirikan perusahaan penasehat keuangan bernama PT Recapital Advisors. Dari profesi barunya ini, ia banyak belajar tentang seluk beluk bisnis. William Soeryadjaya adalah orang yang paling berjasa dalam mengasah naluri bisnis Sandi. Menurut William, Sandi adalah pengusaha yang tidak pelit untuk membagi pengetahuan dan ilmu bisnisnya. Seiring dengan kecerdasan bisnis Sandi yang semakin berkembang, maka pria yang hobi bermain basket dan lari ini mulai melakukan ekspansi bisnis. Hal ini terbukti dari kehadiran perusahaan-perusahaan lain yang didirikan dan dipimpinnya. Perusahaan baru yang didirikan dan dipimpin setelah PT Recapital Advisor adalah perusahaan investasi bernama Saratoga Capital.

 

Di perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur dan sumber daya alam ini Sandi menjadi CEO bersama Edwin Soeryadjaya. Selain dua perusahaan tadi, ia juga memimpin perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, yaitu PT Adaro Energy Tbk. Namun, ia melepas berbagai jabatan di beberapa perusahaan tersebut karena ingin fokus mengabdi lebih banyak kepada masyarakat sebagai politisi. 

 

Selain memimpin beberapa perusahaan, Sandi juga aktif dalam beberapa organisasi, di antaranya pada periode 2005 hingga 2008, ia menjadi ketua umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Selama masa kepemimpinannya, jumlah pengusaha yang tergabung di HIPMI meningkat dari 25.000 orang menjadi 35.000 orang. Ia juga sempat menjadi wakil ketua bidang usaha mikro kecil menengah dan koperasi pada Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN). Kecintaannya pada dunia bisnis dan ekonomi ini juga mengantarkannya menjadi anggota KEN (Komite Ekonomi Nasional).

 

Pengalaman dan Kesuksesan dalam bisnis yang dilakoni Sandi membuat dirinya diganjar penghargaan “Indonesian Entrepreneur of the Year” pada ajang Enterprise Asia, tahun 2008. Pada tahun yang sama, ia juga mewakili Indonesia dalam sebuah program kegiatan bernama Asia 21.

 

Apa yang diraih Sandi tak semudah membalikkan telapak tangan, ia pun membagikan kunci menjadi pengusaha sukses di usia muda. Ia menuturkan, banyak generasi milenial berangan-angan untuk bisa menjadi pengusaha yang sukses tanpa mau improve diri dan melawan kemalasan. Padahal menurutnya, seorang wirausahawan yang sukses butuh tiga hal. Pertama, harus pro aktif.

 

“Maksudnya harus mau belajar ke sana sini dan meninggalkan rasa ‘mager’ alias malas gerak,” ungkap Sandi. Kedua, harus bisa berinovasi. “Inovasi itu adalah doing things cheaper, better, faster. Jadi, membuat sesuatu lebih murah, efisien, dan bagus hasilnya,” papar Sandi. Terakhir, Sandi meminta agar generasi milenial tidak takut mengambil risiko dan tidak takut gagal. “Kita harus berani risk taking, mumpung masih muda. Gagal tidak masalah, ini anak tangga menuju kesuksesan. Saya juga sering gagal. Tahun lalu saja saya gagal total,” ungkap Sandi.

 

Terkait wabah virus corona, yang diprediksi dapat menggerus ekonomi bangsa, Sandi menuturkan dirinya telah melakukan simulasi dampak virus corona atau COVID-19 terhadap pertumbuhan ekonomi. Ia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi global akan turun 0,5-0,9 persen dan angka itu bakal berdampak simetris terhadap perekonomian Indonesia.

 

“Jadi kalau pertumbuhan kita 4,9 persen, bisa turun ke antara 4,5 sampai 4,3 persen, tergantung perkembangan dari virus corona ini, penanganannya seperti apa,” ujar Sandi usai diskusi Corona dan Kondisi Kebutuhan Pokok Kita di The Maj Senayan, beberapa waktu lalu. Karena itu, pelaku usaha mikro kecil dan menengah harus mengencangkan ikat pinggang.

 

Sedangkan pemerintah, harus segara melakukan policy response atau kebijakan yang memastikan ekonomi bergerak. Sandi melihat, saat ini sudah terlihat sektor yang terdampak, yaitu pariwisata, transportasi, manufaktur, dan konsumsi. Adapun menurutnya, sektor pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang 50 persen lebih dari konsumsi. Padahal, ia memperkirakan konsumsi akan turun karena ada disrupsi pada supply.

 

“Karena sebentar lagi juga akan ada dampak perusahaan merasionalisasi karyawan atau PHK. Ini akan ada dampaknya juga ke penerimaan daripada penghasilan masyarakat,” tandasnya. Ia juga menganjurkan kepada pemerintah agar dapat memberikan instensif kepada masyarakat, termasuk pengusaha kelas menengah.

 

“Yang terkena dampak terbesar adalah masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah. Maka Anda harus berikan insentif agar mereka tetap bisa berbelanja. Anda harus perbaiki sistem perbankan untuk memberikan cara baru,” terangnya.

 

Intensif tersebut diungkapkan Sandi sangat perlu, merujuk pada kemampuan keuangan sejumlah perusahaan kelas menengah. “Karena beberapa perusahaan sudah tidak mampu untuk memenuhi bunga pinjaman, penurunan suku bunga. Ini lah yang harus lebih diperhatikan,” pungkas Sandi.