Search:
Email:     Password:        
 





Obsession Awards 2020; Lifetime Achievement

By Syulianita (Editor) - 30 March 2020 | telah dibaca 383 kali

Akbar Tanjung - Politisi Senior

Naskah: Sahrudi Foto: Sutanto/Dok. OMG

 

Dari sedikit politisi senior yang masih aktif berkiprah salah satunya adalah Akbar Tanjung. Ia merupakan politikus besar tiga zaman di negeri ini yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan berpolitik dan berdemokrasi sejak masih menjadi mahasiswa hingga sekarang. Politik dan berorganisasi adalah bagian dari hidupnya. Seperti pernah ia bilang, “It’s in my blood. It’s my passion.”

 

Ketangguhan dan keseriusannya dalam dunia politik itu pula yang membuat ia dipercaya untuk duduk di berbagai jabatan prestise mulai dari menteri, ketua umum partai, dan Ketua DPR telah ia sandang. Kiprah inilah yang menjadikan alasan Akbar layak untuk mendapatkan Life Time Achievement 2020 dari Obsession Media Group.

 

Pria yang lahir di Sibolga, Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1945 ini sudah terlihat memiliki gen politik dan berorganisasi sejak mahasiswa. Ia rajin mengikuti kegiatan keorganisasian khususnya di kampusnya, Universitas Indonesia (UI). Mulai dari menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik pada tahun 1967-1968 lalu menjadi anggota Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Indonesia.

 

Selain aktivitas keorganisasian di dalam kampus, Akbar Tanjung juga aktif ikut serta sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada tahun 1973, ia ikut mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), bahkan pada tahun 1978-1981 ia menduduki posisi sebagai Ketua Umum DPP KNPI.

 

Ketika ia merasa mantap untuk masuk ke dalam dunia politik, Akbar Tanjung memilih Partai Golkar sebagai kendaraannya berpolitik. Di partai ini karirnya sangat gemilang. Misalnya pada Tahun 1983 sampai 1988, ia diberi kepercayaan menduduki posisi Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar.

 

Lalu pada 1998 sampai 2004, ia menjabat sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar. Hingga pada tahun 1999, pria yang sempat menjabat sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, pada Kabinet Pembangunan V ini dilantik sebagai Ketua DPR RI. Pada era tahun 2002-2003, ia menjabat President of AIPO (Asean Inter Parliamentary Organization).

 

Pada 2003-2004, ia menjabat President of PUOICM (Parliamentary Union of OIC Members). Dan kini, ia masih dipercaya untuk menjalankan tugas sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Pusat. Dedikasi Akbar terhadap partai yang telah membesarkannya ini memang luar biasa. Betapa tidak, ia berani “pasang badan” disaat aksi reformasi di tahun 1998-1999 merembet menjadi kemarahan massa terhadap apapun yang berbau orde baru (Orba).

 

Golkar sebagai bagian pendukung Orba menjadi yang paling disasar untuk dihancurkan. Bahkan kantor partai itu di Jawa Timur hangus dibakar massa. Tapi, Akbar Tanjung tetap tegar berdiri. Peran Akbar Tandjung dalam menyelamatkan Golkar pada massa krisis politik tahun 1998-1999 memang cukup heroik. Ia melakukan strategi politik yang mumpuni dengan mengusung jargon Golkar menjadi partai Golkar dengan paradigma baru.

 

Di mana Partai Golkar memberikan peluang dan kesempatan baru bagi para aktivis atau kelompok masyarakat yang sebelumnya menentang Golkar Orde Baru yang disebabkan oleh paradigma lama sehingga para aktivis mulai tertarik untuk masuk menjadi kader partai tersebut. Mereka gencar mensosialisasikannya saat kampanye Pemilu 1999. Strategi paradigma baru ini merupakan salah satu faktor Partai Golkar mendulang suara pada Pemilu 1999 dan berhasil menempati pemenang kedua setelah PDI-Perjuangan. Hasil perolehan suara Partai Golkar pada Pemilu 1999 membuat partai ini mampu eksis sampai sekarang.

 

Perjuangannya bersama partai tersebut tampaknya mendapatkan tempat di dalam hidupnya. Terbukti, ia menuangkannya sebagai disertasi dengan judul 'Partai Golkar dalam Pergolakan Politik Era Reformasi; Tantangan dan Respons' dan berhasil lulus dengan meraih predikat cum laude di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Sehingga, ia resmi tercatat sebagai Doktor ke 860 yang sudah diluluskan oleh UGM. 

 

Dalam disertasinya ini ia berani secara tegas mengkiritik kepemimpinan partai berlambang beringin pada waktu itu. Hal itu dilakukan tak lebih karena kecintaannya parda partai tersebut. Kepeduliannya untuk menciptakan kader-kader pemimpin politik berbobot ternyata menjadi obsesinya di usia yang tak lagi muda. Untuk itulah, ia masih menyisakan waktu untuk mengadakan sekolah bagi calon pemimpin politik.

 

Bersama-sama dengan sahabat- sahabatnya, ia mendirikan Akbar Tandjung Istitute (ATI) di tahun 2005. Lembaga ini akan menjadi semacam Cater Center. Kegiatannya memang tidak politik praktis, tetapi lebih banyak kearah pencerahan. Akbar ingin membuat lembaga ini menjadi tempat belajar soal-soal politik yang bersih dengan melakukan kegiatan, antara lain diskusi, penerbitan bulletin, pendidikan, dan berbagai pencerahan politik lainnya.

 

Dengan titik berat di kajian politik dan demokrasi. Karena itulah, lembaga ini juga untuk membuka kesempatan pada orang-orang muda, terutama bagi mereka yang aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan agar dapat memperkaya pengetahuan terkait dengan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. “Termasuk yang berkaitan dengan hubungan politik juga mereka mendapatkan itu dalam pendidikan kepemimpinan bangsa ini,” kata Akbar suatu ketika.

 

Dengan Akbar Institute diharapkan pula para kaum muda akan mendapatkan pengajaran soal-soal yang berkaitan dengan masalah politik, masalah partai politik, dan masalah demokrasi. Akbar sendiri tampil sebagai pengajar bersama para expert di bidang hukum, ekonomi, masalah luar negeri, masalah-masalah yang terkait dengan kebangsaan dan kenegaraan.

 

 

Emil Salim - Tokoh Nasional

 

Naskah: Sahrudi Foto: Istimewa

 

Lebih dari separuh abad dari usia Prof. Dr. Drs. Emil Salim, M.A. telah diwakafkan bagi negeri ini, baik di bidang ekonomi, lingkungan hidup, sosial, politik dan pendidikan. Ya, ia merupakan sedikit di antara tokoh nasional tiga zaman yang masih aktif berkarier hingga sekarang. Ia juga memiliki kemampuan dan dedikasi tinggi sebagai seorang ahli ekonomi, cendekiawan, pengajar, dan politisi.

 

Jam terbang pengabdian pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, 8 Juni 1930 ini kepada bangsa dan negara, antara lain ditunjukkan dengan menjadi menteri, antara lain Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara merangkap Wakil Kepala Bappenas (1971-1973), Menteri Perhubungan (Kabinet Pembangunan II 1973-1978), Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Kabinet Pembangunan III 1978-1983), dan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Kabinet Pembangunan IV dan Kabinet Pembangunan V 1983-1993).

 

Tak sampai di situ, di era Presiden keenam Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, Emil menjadi Dewan Pertimbangan Presiden sejak 10 April 2007 dan pada 25 Januari 2010 dilantik kembali untuk periode kedua sekaligus menjadi ketuanya. Di bidang lingkungan hidup, namanya tak bisa dipisahkan. Kepeduliannya pada lingkungan hidup membuat Emil Salim pernah dipercaya sebagai menteri yang mengurusi lingkungan hidup.

 

Dalam perjalanannya, World Wide Fund for Nature (WWF) sebagai sebuah organisasi non-pemerintah internasional yang menangani masalah- masalah tentang konservasi, penelitian dan restorasi lingkungan hidup menganugerahkan penghargaan 'The Leader for the Living Planet Award' kepada Prof. Dr. Emil Salim atas dedikasi, kepemimpinan, dan kontribusinya pada upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia dan dunia.

 

'The Leaders for a Living Planet Award' adalah penghargaan yang diberikan WWF bagi individu di dunia yang berkontribusi secara signifikan terhadap pelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan. Sejak pertama kali dikeluarkan 12 tahun yang lalu (2000), sudah lebih dari 100 orang yang menerima award tersebut termasuk mantan Sekjen PBB Kofi Annan, Menteri Perikanan Norwegia, Perdana Menteri China dan Menteri Bidang Pengairan Perancis, Togo dan Benin.

 

“WWF memberikan apresiasi yang tinggi atas dedikasi dan komitmen yang luar biasa dari Emil Salim. Bukan hanya menjadi inspirasi dan teladan bagi masyarakat Indonesia, Emil Salim juga membawa inspirasi bagi masyarakat global”, kata Jim Leape, Direktur Jendral WWF International saat memberikan award di Jakarta. WWF menilai Emil Salim adalah tokoh yang sangat konsisten memperjuangkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam kebijakan nasional. 

 

Selama lebih dari empat dekade, sejak tahun 70-an hingga saat ini, beliau terus mendorong agar pembangunan ekonomi dapat berjalan seimbang dengan pembangunan sosial dan lingkungan agar tingkat pertumbuhan ekonomi bisa sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan kesetaraan. Emil Salim juga berperan penting dalam membangun dan memperkuat masyarakat madani (civil society) dalam upaya mendorong pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.

 

Tahun 1996, Emil Salim menjadi salah satu pendiri Yayasan WWF Indonesia, mengantar organisasi konservasi tersebut menjadi entitas legal, independen, berbadan hukum sesuai ketentuan di Indonesia. Selain menjadi tokoh kunci dalam KTT Bumi (Earth Summit) Rio de Jeneiro pada 1992 – yang menjadi fondasi lahirnya deklarasi politis mengenai pembangunan dan lingkungan hidup - Emil Salim juga berperan penting dalam penentuan kebijakan pemerintah RI tentang mitigasi perubahan iklim global dalam berbagai forum internasional mengenai kerangka kerja perubahan iklim (UNFCCC) dan keanekaragaman hayati (CBD).

 

Di tataran internasional lainnya, Emil Salim juga telah mendapat penghargaan the Blue Planet Prize dari Asahi Glass Foundation pada 2006 dan Zayed International Prize for the Environment dari Uni Emirat Arab pada 2006 itu telah menjadi pionir yang mengembangkan konsep mengintegrasikan lingkungan hidup dalam proses pembangunan. 

 

Di bidang ekonomi, Emil Salim merupakan salah satu ekonom yang menjadi tokoh peletak dasar ekonomi Indonesia pada awal tahun 1970-an. Pemikiran-pemikiran beliau mengenai pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah pemikiran besar hingga saat ini.

 

Pemikirannya untuk mengupayakan pertemuan konsep pembangunan dengan lingkungan, dan konsep ekonomi dengan ekologi telah dituangkan dalam bukunya yang berjudul Lingkungan Hidup dan Pembangunan (Penerbit Mutiara, 1979) dan Pembangunan Berwawasan Lingkungan (LP3ES, 1986). 

 

Alumnus Fakultas Ekonomi (FE) UI yang juga Guru Besar UI dan juga tokoh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini pernah mendapat penghargaan Wirakarya Adhitama pada 2016. Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi tertinggi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) atas dedikasi dan jasanya yang tiada henti untuk membangun bangsa secara terus menerus melalui dunia pendidikan, dunia industri, dan juga pemerintahan.

  

Hingga saat ini, Emil juga masih menyalurkan pemikiran-pemikirannya yang bernas dalam mengelaola dan memajukan perekonomian nasional. Bahkan meski hampir memasuki usia kepala 9, Emil masih aktif dan menunjukkan kepedulian pada negara, terbukti suaranya masih didengar dan diundang dalam berbagai diskusi di dalam maupun luar negeri. Pemikiran yang disampaikannya adalah bentuk lain dari perjuangannya untuk memajukan bangsa dan negara.

 

 

 

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

             

Popular

   

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250