Obsession Awards 2020; Lifetime Achievement

Oleh: Syulianita (Editor) - 30 March 2020 | telah dibaca 785 kali

Naskah: Sahrudi Foto: Sutanto/Dok. OMG

 

Dari sedikit politisi senior yang masih aktif berkiprah salah satunya adalah Akbar Tanjung. Ia merupakan politikus besar tiga zaman di negeri ini yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan berpolitik dan berdemokrasi sejak masih menjadi mahasiswa hingga sekarang. Politik dan berorganisasi adalah bagian dari hidupnya. Seperti pernah ia bilang, “It’s in my blood. It’s my passion.”

 

Ketangguhan dan keseriusannya dalam dunia politik itu pula yang membuat ia dipercaya untuk duduk di berbagai jabatan prestise mulai dari menteri, ketua umum partai, dan Ketua DPR telah ia sandang. Kiprah inilah yang menjadikan alasan Akbar layak untuk mendapatkan Life Time Achievement 2020 dari Obsession Media Group.

 

Pria yang lahir di Sibolga, Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1945 ini sudah terlihat memiliki gen politik dan berorganisasi sejak mahasiswa. Ia rajin mengikuti kegiatan keorganisasian khususnya di kampusnya, Universitas Indonesia (UI). Mulai dari menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik pada tahun 1967-1968 lalu menjadi anggota Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Indonesia.

 

Selain aktivitas keorganisasian di dalam kampus, Akbar Tanjung juga aktif ikut serta sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada tahun 1973, ia ikut mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), bahkan pada tahun 1978-1981 ia menduduki posisi sebagai Ketua Umum DPP KNPI.

 

Ketika ia merasa mantap untuk masuk ke dalam dunia politik, Akbar Tanjung memilih Partai Golkar sebagai kendaraannya berpolitik. Di partai ini karirnya sangat gemilang. Misalnya pada Tahun 1983 sampai 1988, ia diberi kepercayaan menduduki posisi Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar.

 

Lalu pada 1998 sampai 2004, ia menjabat sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar. Hingga pada tahun 1999, pria yang sempat menjabat sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, pada Kabinet Pembangunan V ini dilantik sebagai Ketua DPR RI. Pada era tahun 2002-2003, ia menjabat President of AIPO (Asean Inter Parliamentary Organization).

 

Pada 2003-2004, ia menjabat President of PUOICM (Parliamentary Union of OIC Members). Dan kini, ia masih dipercaya untuk menjalankan tugas sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Pusat. Dedikasi Akbar terhadap partai yang telah membesarkannya ini memang luar biasa. Betapa tidak, ia berani “pasang badan” disaat aksi reformasi di tahun 1998-1999 merembet menjadi kemarahan massa terhadap apapun yang berbau orde baru (Orba).

 

Golkar sebagai bagian pendukung Orba menjadi yang paling disasar untuk dihancurkan. Bahkan kantor partai itu di Jawa Timur hangus dibakar massa. Tapi, Akbar Tanjung tetap tegar berdiri. Peran Akbar Tandjung dalam menyelamatkan Golkar pada massa krisis politik tahun 1998-1999 memang cukup heroik. Ia melakukan strategi politik yang mumpuni dengan mengusung jargon Golkar menjadi partai Golkar dengan paradigma baru.

 

Di mana Partai Golkar memberikan peluang dan kesempatan baru bagi para aktivis atau kelompok masyarakat yang sebelumnya menentang Golkar Orde Baru yang disebabkan oleh paradigma lama sehingga para aktivis mulai tertarik untuk masuk menjadi kader partai tersebut. Mereka gencar mensosialisasikannya saat kampanye Pemilu 1999. Strategi paradigma baru ini merupakan salah satu faktor Partai Golkar mendulang suara pada Pemilu 1999 dan berhasil menempati pemenang kedua setelah PDI-Perjuangan. Hasil perolehan suara Partai Golkar pada Pemilu 1999 membuat partai ini mampu eksis sampai sekarang.

 

Perjuangannya bersama partai tersebut tampaknya mendapatkan tempat di dalam hidupnya. Terbukti, ia menuangkannya sebagai disertasi dengan judul 'Partai Golkar dalam Pergolakan Politik Era Reformasi; Tantangan dan Respons' dan berhasil lulus dengan meraih predikat cum laude di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Sehingga, ia resmi tercatat sebagai Doktor ke 860 yang sudah diluluskan oleh UGM. 

 

Dalam disertasinya ini ia berani secara tegas mengkiritik kepemimpinan partai berlambang beringin pada waktu itu. Hal itu dilakukan tak lebih karena kecintaannya parda partai tersebut. Kepeduliannya untuk menciptakan kader-kader pemimpin politik berbobot ternyata menjadi obsesinya di usia yang tak lagi muda. Untuk itulah, ia masih menyisakan waktu untuk mengadakan sekolah bagi calon pemimpin politik.

 

Bersama-sama dengan sahabat- sahabatnya, ia mendirikan Akbar Tandjung Istitute (ATI) di tahun 2005. Lembaga ini akan menjadi semacam Cater Center. Kegiatannya memang tidak politik praktis, tetapi lebih banyak kearah pencerahan. Akbar ingin membuat lembaga ini menjadi tempat belajar soal-soal politik yang bersih dengan melakukan kegiatan, antara lain diskusi, penerbitan bulletin, pendidikan, dan berbagai pencerahan politik lainnya.

 

Dengan titik berat di kajian politik dan demokrasi. Karena itulah, lembaga ini juga untuk membuka kesempatan pada orang-orang muda, terutama bagi mereka yang aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan agar dapat memperkaya pengetahuan terkait dengan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. “Termasuk yang berkaitan dengan hubungan politik juga mereka mendapatkan itu dalam pendidikan kepemimpinan bangsa ini,” kata Akbar suatu ketika.

 

Dengan Akbar Institute diharapkan pula para kaum muda akan mendapatkan pengajaran soal-soal yang berkaitan dengan masalah politik, masalah partai politik, dan masalah demokrasi. Akbar sendiri tampil sebagai pengajar bersama para expert di bidang hukum, ekonomi, masalah luar negeri, masalah-masalah yang terkait dengan kebangsaan dan kenegaraan.