Oleh: -

Mengawal Bukopin  Hadapi Tantangan Zaman

 

Naskah: Giattri F.P. Foto: Sutanto/Dok. Bukopin

 

“Fungsi kami di Direktorat Keuangan adalah sebagai navigator. Untuk menjadi navigator yang baik, tentu kita harus tahu arah perusahaan mau ke mana dan apa tujuan akhirnya.”

 

Di usianya yang terbilang muda, yakni menginjak kepala empat, ia dipercaya menjadi Direktur Keuangan & Perencanaan PT Bank Bukopin Tbk kepada Men’s Obsession, peraih gelar Bachelor Degree di bidang Electrical Engineering dari Massachusetts Institute of Technology dan Master of Business Administration dari Stanford University ini pun menguntai perjalanan karirnya hingga berlabuh di bank yang berdiri sejak 10 Juli 1970 tersebut.

 

Ayah tiga anak ini mengisahkan, pernah menduduki jabatan sebagai Managing Director/Chief Financial Officer PT Cardig Air Service (2009-2011). Kemudian, menjadi Group Chief Financial Officer di PT Amstelco Indonesia Tbk (2011-2012), Vice President/Chief Rep. Officer for Indonesia di Baring Private Equity Asia (2012-2014). Lalu, dipercaya menjabat Direktur Keuangan PT Bosowa Corporindo (2014-Mei 2018) dan Komisaris Bank Bukopin  (2014-2018).

 

“Di tahun 2018, saya diminta oleh teman-teman juga pemegang saham untuk fulltime di bank. Akhirnya, pada bulan Mei, saya diamanahi menjadi Direktur Keuangan & Perencanaan Bank Bukopin. Sebagai bagian dari pimpinan, fungsi saya di Direktorat Keuangan adalah navigator. Jadi, direktur utama adalah nakhodanya. Sedangkan, kami navigatornya sehingga kami harus tahu arah perusahaan mau ke mana dan apa tujuan akhirnya,” tutur sosok humoris tersebut. 

 

Lebih lanjut kelahiran 15 April 1979 ini menguraikan, arah kebijakan yang akan dijalankan Bank Bukopin untuk pengembangan bisnis dan pencapaian Rencana Bisnis Tahun 2019-2021 dalam jangka pendek, yakni pengembangan bisnis yang fokus dan disiplin pada segmen ritel, baik kredit maupun sumber daya. Perbaikan kualitas kredit, baik penyelesaian kredit bermasalah dan penurunan AYDA. Perbaikan struktur sumber dana dilakukan dengan perbaikan komposisi deposan inti, peningkatan CASA, penguatan struktur dana jangka menengah panjang, serta pengembangan sumber dana non simpanan nasabah. Peningkatan produktivitas feebase non core, pengembangan new product, dan product bundling.

 

Kemudian, re-organisasi untuk meningkatkan volume bisnis jaringan outlet, penajaman fokus segmen ritel dan penguatan bisnis proses. Peningkatan produktivitas outlet, electronic channel, dan produk untuk meningkatkan struktur sebaran bisnis yang lebih kuat. Strategi lainnya adalah pengembangan bisnis proses yang efisien, kompetitif, dan prudent, baik proses perkreditan maupun layanan nasabah, dengan didukung pengembangan teknologi informasi dan digitalisasi. Dan, penguatan permodalan juga strategi pengembangan bisnis yang fokus pada biaya modal yang efisien.

Ketika ditanya, strategi Bank Bukopin dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, dengan lugas ia mengatakan, “Kami akan terus memperkuat produk dan layanan berbasis digital, dengan selalu mengikuti tren, berinovasi menciptakan produk dan layanan yang up to date, tentunya kami melibatkan generasi milenial untuk memberikan masukan. Jadi, kami melakukan investasi di teknologi dan juga listen to our customer, where are they going, kami harus ke sana,” imbuh Rachmat.

 

Beragam inovasi bisnis perseroan pun telah diluncurkan, seperti Layanan Flexy Bill, bekerja sama dengan PT PLN (Persero), untuk membiayai tagihan listrik nasabah yang memenuhi persyaratan sesuai analisa kelayakan. Tabungan digital Wokee, yaitu tabungan perorangan berbasis elektronik yang dapat digunakan sebagai rekening transaksi tanpa kartu, melalui aplikasi dengan beragam fitur yang dapat diakses, dalam satu aplikasi. “Selama tahun 2018, kami mengembangkan Wokee dengan mengakuisisi berbagai merchant untuk kemudahan nasabah bertransaksi,” tambahnya. Sepanjang 2018, Bank Bukopin juga fokus dalam menyalurkan pembiayaan kendaraan bermotor, baik kendaraan beroda dua maupun empat. Pembiayaan tersebut menggunakan skim Joint Financing antara perseroan dengan PT Bukopin Finance selaku entitas anak. 

 

Lalu, Bukopinet merupakan ReBranding dari Payment Point Online Bank (PPOB) Bukopin, dengan sistem kerja sama kemitraan layanan, sistem pembayaran tagihan, pembelian secara tunai, maupun realtime bagi masyarakat serta pelanggan biller melalui mitra resmi perseroan di seluruh Indonesia, dengan pilihan penggunaan aplikasi berbasis web atau mobile. Dalam rangka peringatan HUT ke-49 Bank Bukopin pada 10 Juli 2019 lalu, sambung Rachmat, pihaknya pun menggelar serangkaian kegiatan untuk memperkuat bisnis konsumer dan digitalisasi, antara lain relaunching Digital Lounge Bukopin, kesepakatan kerja sama antara Bank Bukopin dengan layanan aplikasi digital OVO dan LinkAja, peluncuran USSD Kartu Kredit, Kredit Pensiunan, Kredit Konsumer, VICA (Video Authentification), peresmian fasilitas Data Center yang baru, serta meluncurkan program ASTRID (Artificial Intelligence) Video Banking.

 

“Program ini sejalan dengan strategi bisnis yang telah ditetapkan perseroan untuk memperkuat pertumbuhan di bisnis ritel,” ujar pria yang hobi membaca, membuat kue, dan lari ini. Selain itu, manajemen Bank Bukopin juga telah melakukan kajian mendalam atas Visi dan Misi perusahaan agar senantiasa relevan dalam berkompetisi di industri keuangan global. Hasilnya, perseroan telah merumuskan budaya perusahan baru, yaitu ICCAN. “Budaya ICCAN ini berupa kumpulan nilai yang perlu diterapkan oleh seluruh jajaran perusahaan dalam rangka mencapai visi perseroan menjadi lembaga keuangan terkemuka pilihan masyarakat,” ungkapnya. Menutup pembicaraan, Rachmat membeberkan tips sukses untuk generasi milenial, yaitu pertama memiliki skill atau sesuatu di atas rata-rata. 

 

Kedua, menjaga silaturahmi. “Karena rezeki yang kita dapat terkadang tidak dari yang kita sangka, bisa dari teman atau kenalan yang ingat kepada kita. Ketiga, harus bisa menjadi orang yang bisa dipercaya, integrity harus kita jaga,” pungkas pria yang memiliki filosofi hidup ‘always be a better person of myself’ itu.