Search:
Email:     Password:        
 





Batara Sianturi, Memberikan Dedikasi & Legacy Terbaik

By Iqbal Ramdani () - 21 September 2018 | telah dibaca 428 kali

Batara Sianturi, Memberikan Dedikasi & Legacy Terbaik

Naskah: Elly Simanjuntak Foto: Fikar Azmy & Dok. Citi Indonesia

 

Porfolio kredit meningkat 19% year on year menjadi Rp47,5 triliun, didorong pertumbuhan pada lini bisnis institutional banking. Kenaikan kredit ini ditunjang momentum pertumbuhan yang kuat di dana pihak ketiga (DPK) sebesar 15%.

 

Tak terasa sudah 50 tahun Citi Indonesia memberikan pelayanan maupun dedikasinya kepada masyarakat di Tanah Air. Termasuk berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia dan memajukan industri keuangan nasional. Citi sudah hadir di sini sejak tahun 1968. Bersama dengan sekitar 3000 karyawan serta 10 cabang di 6 kota di Indonesia, Citi dengan setia menyediakan berbagai layanan perbankan harian, korporasi, maupun investasi untuk para nasabah. Adalah Batara Sianturi sosok pemimpin di balik kesuksesan Citi Indonesia yang berperan sebagai CEO sejak pertengahan tahun 2015.

 

Peraih Master of Chemical Engineering dari Steven’s Institute of Technology dan Master of Business Administration in Finance dari St. John’s University ini mengawali kariernya di dunia perbankan sebagai Management Associate pada tahun 1988. Dia kemudian ditugaskan sebagai general manager-overseas mortgage Citibank Australia dengan tanggung jawab memajukan pasar pembiayaan properti di wilayah Singapura, Hong Kong, dan Indonesia. Loyalitas plus kemampuan yang mumpuni membuatnya dipercaya memegang posisi tertinggi sebagai CEO.

 

Dia pernah mengukir sejarah terpilih dalam jajaran direksi perbankan luar negeri karena termasuk pria Indonesia pertama yang diangkat sebagai CEO Citibank Hungary, sekaligus regional head Citibank Hungary and the Balkan & Baltic Regions (12 negara di Eastern Europe). Kemudian, berlanjut sebagai CEO Citibank Philippines and regional head Citibank Philippines and Guam, hingga akhirnya diminta kembali ke Tanah Air memimpin Citibank Indonesia.

 

“Menurut saya tidak semua orang mau pindah bekerja ke luar negeri dengan membawa istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Namun, saya merasa orang Indonesia itu sebenarnya mampu menjadi pemimpin perusahaan di negara lain. Sewaktu saya diminta kembali ke sini, saya datang membawa misi untuk membagikan pengalaman selama bekerja di luar negeri kepada para karyawan dan orang lain yang membutuhkannya,” ungkap Ketua Perhimpunan Bank-bank International Indonesia (PERBINA) dan salah satu Board of Governors American Chamber of Commerce (AmCham) Indonesia serta Vice Chairman of US-ASEAN Business Council (USABC) ini dengan nada bersemangat.

 

Karier bankir yang fasih berbahasa Perancis dan pernah menjadi Board of Director American Chamber of Commerce and Industry (AMCHAM) Philippines tersebut memang termasuk membanggakan. Tak terasa sudah 30 tahun, dia mengabdi di Citibank dengan masa kerja 12 tahun dihabiskan di luar negeri dan sisanya 18 tahun di Tanah Air. Pengalamannya di bidang retail marketing, finance country and regional management di berbagai negara membuatnya menjadi pemimpin yang tangguh dalam berbagai situasi ekonomi apapun.

 

“Seiring dengan perkembangan zaman dan di tengah situasi ekonomi sekarang ini, Citi Indonesia memilih strategi kembali ke basic. Tidak ingin berinvestasi atau terlibat dengan hal-hal bersifat nonbanking. Lalu, lebih spesifik fokus sesuai kemampuannya di bidang perbankan. Tidak berambisi menjadi yang terbesar, tapi selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam dua lini bisnis utama kami, yaitu Global Consumer Banking (GCB) dan Institutional Clients Group (ICG). Simpler, smaller, stronger, dan safer, itu jauh lebih penting bagi kami sebagai bank berskala global. Syukurlah selama 50 tahun keberadaan Citi di Indonesia, kami berhasil membuat kemajuan yang signifikan,” ujar ayah dari satu putri dan dua putra ini serius.

 

Bank asing yang berpusat di New York, Amerika ini terus berkomitmen mendukung pertumbuhan Indonesia sebagaimana ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit year-on-year yang mencapai double digit. Memiliki neraca yang kokoh dengan tingkat permodalan yang sangat memadai dan likuid. Perusahaan dalam posisi yang baik konsisten mendukung aspirasi pertumbuhan nasabah, sekaligus memperdalam hubungan jangka panjang dengan mereka. Batara menerangkan, “Kami membukukan laba bersih sebesar Rp835 miliar di semester pertama 2018, serta pertumbuhan yang baik pada kredit yang diberikan dan Dana Pihak Ketiga atau DPK. Porfolio kredit meningkat 19% year-on-year menjadi Rp47,5 triliun, didorong pertumbuhan pada lini bisnis Institutional Banking. Kenaikan kredit ini ditunjang momentum pertumbuhan yang kuat di Dana Pihak Ketiga atau DPK sebesar 15% yang memungkinkan bank untuk mempertahankan rasio Lending-to-Fund (RIM) yang solid, yaitu sebesar 77,7%.”

 

Selain mencatatkan pertumbuhan aset yang tinggi, tingkat permodalan dan kualitas aset bank tetap terjaga, dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) sebesar 24,05%, rasio Non Performing Loan bruto maupun netto masingmasing sebesar 2,34% dan 0,92%. Di lini Institutional Banking, Citi Treasury and Trade Solutions (TTS) mencatat pertumbuhan yang kuat. TTS pun menyediakan layanan perlindungan penipuan, guna mencegah penggunaan commercial/corporate card secara tidak sah pada saat melakukan transaksi secara online. 

 

Sementara, dalam lini bisnis Consumer Banking, perusahaan ini sukses menyelenggarakan kampanye digital berjudul #MaafJadiManfaat guna menggalang 5000 seragam sekolah bagi siswa yang kurang mampu di Indonesia. Melalui kampanye tersebut, netizen dan para nasabah diajak untuk membagikan video #MaafJadiManfaat di laman facebook Citi Indonesia. Pada ranah Digital Banking, lebih dari 55% dari total nasabah telah mendaftar ke Internet Banking (Citibank Online) dan Mobile Banking (Citi Mobile). Khususnya, untuk Mobile Banking, pengguna Citi Mobile telah meningkat secara signifikan sebesar 70% year-on-year hingga Juni 2018. Penetrasi e-statement Citibank Indonesia juga tinggi, mencapai hampir 83%, hingga menjadi sebagai salah satu yang tertinggi di wilayah Asia Pasifik. Lalu, dari sisi Retail Banking, Citigold mengadakan Citigold Intergeneration Succesor Program khusus bagi generasi penerus nasabah ini.

 

Sebagai seorang leader, pria yang termasuk salah satu Most Admired CEOs di Indonesia dari majalah Warta Ekonomi ini sudah mengalami ‘asam garam’ kehidupan berkarier. Tantangan dan kendala memang tak bisa lepas dari kehidupan manusia, termasuk urusan pekerjaan. Ini semua menjadi pelajaran berharga bagi dirinya untuk bisa menjadi pemimpin yang mumpuni, sekaligus bijaksana. Ketika ditanya apakah kiat suksesnya selama ini, dia berkata, “Sebenarnya sederhana, ya. Pertama, memang kita harus smart dan menjadi yang terbaik. Sifat kompetensi sebagai basic mesti dimiliki. Tapi, agar kita menjadi berbeda dengan lainnya, ternyata Emotional Intelligence atau EQ berperan besar membuat seberapa tinggi karier kita nanti. Seperti ada pepatah mengatakan: ‘It’s not about your aptitude atau IQ, but it’s about your attitude or EQ, which will determine your altitude.’ Jadi, cara kita bersikaplah yang harus dijaga dalam bekerja, baik kepada atasan, bawahan, maupun partner bisnis. Batara berpendapat, mereka yang sukses adalah orang-orang yang antara lain memiliki interpersonal skill sangat bagus. 

Lelaki yang mendapat empat gelar sarjana, dua bachelor dan dua master dari beberapa universitas ternama Amerika ini melanjutkan, “Produk bancasurrance terbaru dalam Wealth Management, yaitu Prosper Plan Assurance telah diperkenalkan dan diharapkan dapat membantu para nasabah memenuhi tujuan keuangan mereka, melalui peluang diversifikasi wealth management yang lebih besar. Lebih lanjut, Citibank meningkatkan wealth management digital advisory agar para klien bisa mendapatkan berita terbaik mengenai kondisi pasar untuk pengambilan keputusan investasi yang lebih baik.” Dalam hal kartu kredit, Citibank Indonesia dan Garuda Indonesia memperkuat kerja sama dengan memperkenalkan kampanye ‘Bring More Home’.

 

Melalui kampanye ini, pemegang kartu Garuda Indonesia Citi Card (GICC) dapat menikmati ekstra 20kg bagasi tambahan di atas ketentuan bagasi yang terdapat saat ini di kelas ekonomi dan bisnis. Selanjutnya, Citibank dan Telkomsel semakin memperkuat kerja sama dengan memperkenalkan kampanye ‘Live Large’. Nasabah kartu Citi Telkomsel dapat menikmati tambahan data hingga 20GB untuk meningkatkan gaya hidup digital mereka. Dengan misi ‘Be the Best for Our Clients’, Citibank juga menjangkau komunitas-komunitas di wilayah Citibank beroperasi. Melalui Citi PeKa (Peduli dan Berkarya) yang merupakan payung dari seluruh kegiatan sosial kemasyarakatan, diselenggarakan berbagai inisiatif kegiatan sosial sesuai fokus pada CSR-nya: literasi dan inklusi finansial, pemberdayaan ekonomi bagi generasi muda, serta pengusaha mikro. 

 

Sebagai bank berskala global yang beroperasi di lebih dari 160 negara dan yurisdiksi, kinerja Citibank Indonesia pada semester pertama 2018 diperkuat dengan berbagai penghargaan dan pengakuan dari beragam publikasi dalam skala global, regional, dan nasional. Secara total di semester I 2018, Citibank Indonesia meraih beragam penghargaan antara lain: Best International Bank in Indonesia dari Finance Asia, Best BankGlobal in Indonesia, Best Bond AdviserGlobal in Indonesia, dan Best Digital Bank in Indonesia. Termasuk, Best Retail Mobile Banking Experience dari majalah the Asset, Digital Banking Initiative of the Year dari Asian Banking and Finance, serta Innovative Company in Digital Services dalam kategori Foreign Bank dari Warta Ekonomi.

 

“Memberikan yang terbaik dari Citi kepada klien akan selalu menjadi komitmen semua karyawan di Citibank. Buat saya sendiri yang paling penting dalam sebuah perusahaan agar dapat berhasil mencapai target diperlukan adanya team work yang baik. Kita memang suka kepada sosok superstar, tapi saya lebih memilih winning team. Karena buat apa kita memiliki banyak superstar di perusahaan, tapi timya tidak solid. Memiliki jiwa winning spirit dan sikap positif akan membuat perusahaan lebih mudah maju secara bersama-sama,” tambah pria humble tersebut dengan optimis.

 

Bekerja dengan ‘Hati’

Membuat janji wawancara dan pemotretan khusus dengan bos tertinggi di Citi Indonesia ini bukanlah hal yang mudah. Namun, Men’s Obsession akhirnya bisa menghampiri Batara di tengah kepadatan waktunya di pagi dan siang hari yang penuh agenda meeting panjang bersama para stafnya. Dengan tampilan profesional kami diterima di lantai 9 Citibank Tower Pacific Century Place, kantornya yang baru di area SCBD Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta. Dia segera ‘beraksi’ untuk mendapatkan hasil foto terbaik dan dilanjutkan dengan wawancara untuk menggali kisah suksesnya yang berani ‘terbang jauh’ menjadi CEO Citibank di berbagai negara. Hingga akhirnya kembali ke Tanah Air, meneruskan dedikasinya sebagai bankir yang tangguh, memberikan legacy terbaik, sekaligus mencetak kader-kader yang mumpuni agar roda bisnis perusahaan tetap bisa berputar dengan baik.

 

Poin-poin penting dan keberhasilan apakah yang berhasil disumbangkan Citi Indonesia, setelah 50 tahun eksis menancapkan bisnisnya di sini?

Saya rasa kalau kita melihat 50 tahun ke belakang, Citibank telah hadir di indonesia sejak tahun 1968, kami bisa menyimpulkan dua hal penting yang menjadi kontribusi kami. Pertama adalah mengenai talent, sebagai institusi perbankan Citi Indonesia berhasil mencetak bankir-bankir handal selama 50 tahun berada di sini yang sekarang sudah banyak kerja dalam dunia profesional baik di perbankan, berbagai perusahaan swasta maupun pemerintah. Kedua mengenai innovation. Ini adalah DNA dari Citibank dan selama 50 tahun telah memberikan banyak inovasi baik di ranah Institutional Banking maupun Consumer Banking. Dalam bentuk transactional banking ataupun digital banking, ATM, kartu kredit, beragam inovasi terobosan baru akan terus hadir secara berkelanjutan tidak hanya berhenti sampai sekarang, tetapi juga hingga 50 tahun yang akan datang.

 

Dari sisi leadership dan management, strategi seperti apakah yang kemudian Bapak terapkan selama memimpin perusahaan ini sejak pertengahan tahun 2015 lalu hingga sekarang?

Waktu berjalan demikian cepatnya, tahun ini saya telah 30 tahun mengabdi di Citibank dan perusahaan kami yang beroperasi di lebih dari 160 negara dan yurisdiksi, sebetulnya memberikan banyak sekali kesempatan kepada para karyawan untuk meningkatkan karier ke jenjang lebih tinggi. Selama 18 tahun saya telah berkarya di Tanah Air dan 12 tahun dihabiskan di Citibank luar negeri, yakni Australia, Hungaria, dan Filipina. Pengalaman berharga tersebut telah memberikan saya pemahaman dan wawasan yang lebih luas lagi, mengenai dunia perbankan secara global. Saya sebagai CEO Citi Indonesia berkeinginan men-transfer dan memberikan kontribusi terhadap dunia perbankan Tanah Air, termasuk generasi muda baik dalam bentuk pengetahuan global banking, solusi, dan inovasi.

 

Bagaimana bapak bisa sampai dipercaya menjadi CEO Citibank di berbagai negara di luar negeri?

Selagi muda kita harus memiliki passion dan mimpi besar, sebab secara fisik masih enerjik atau kuat. Selain itu juga membuat kehidupan kita jadi tidak membosankan. Misalnya, saya sudah bekerja 30 tahun di Citibank, mengapa tidak merasa bosan? Karena, saya berpindah-pindah posisi kerja dari satu negara ke negara lain, dari Indonesia ke Australia, kembali ke Indonesia lalu diminta ke Hungaria, kemudian Filipina. Ini merupakan tantangan menarik dan baru untuk saya. Citibank yang sudah mendunia bisa kita manfaatkan untuk mendapatkan peluang bekerja di berbagai negara, sehingga bisa memberikan yang terbaik bagi negara kita sendiri maupun keluarga tercinta.

 

Bagaimana cara Bapak dalam beradaptasi di masing-masing negara tersebut dan mendapat kepercayaan dari para staf negara setempat?

Dengan percaya diri saya membawa anak dan istri ‘berpetualang’ ke berbagai negara. Salah satu kriteria yang penting untuk menjadi seorang global banker yang profesional kita harus bisa menyesuaikan diri maupun beradaptasi terhadap kultur lokal dengan baik. Kalau kita melihat ekspatriat-ekspatriat yang sukses, biasanya mereka juga akan bersikap demikian, sehingga kami bisa diterima dengan baik dan cepat oleh para karyawan setempat.

 

Seperti apakah pandangan Bapak terhadap dunia perekonomian dan pasar perbankan Indonesia hingga akhir tahun 2018 ini?

Indonesia adalah pasar yang sangat menantang dengan peluang besar, karena memiliki 250 juta penduduk tersebar di 17.000 kepulauan. Tahun ini ekonomi Indonesia telah berskala satu triliun dollar Amerika dan masuk dalam kategori investment grade country, baik itu lewat analisa lembaga pemeringkat dunia Fitch, S&P maupun Moody’s. Ini memberikan satu peluang bagi menjadi economic power house baik di ASEAN maupun Asia, sehingga Indonesia menjadi tujuan investasi yang menarik. Pada saat yang bersamaan kita juga berharap perusahaan lokal bisa berekspansi keluar menjadi New Indonesian Champion atau perusahaan membanggakan di luar negeri, seperti Huawei atau Samsung. Indonesia merupakan pasar yang sangat besar bagi Citibank untuk kawasan ASEAN dan Asia. Kami memiliki lini Consumer Banking dan Institutional Banking, dan juga memberikan banyak inovasi baru, konten dan solusi, apalagi dalam era digital sekarang ini. Diharapkan ke depannya kami akan memberikan lebih banyak lagi nilai tambah untuk dunia perbankan di Indonesia.

 

Produk atau program apakah yang menjadi urat nadi bagi Citi Indonesia dan menjadi sumber pemasukan terbesar?

Saya rasa konsep Citibank sudah berpindah dari product-centric menjadi client-centric, sehingga yang penting adalah menjadi be the best for our clients. Di era sekarang ini yang namanya nasabah baik itu klien maupun regulator definisinya bergeser menjadi lebih besar, karena bukan lagi sebagai shareholder, tapi stakeholder. Kita harus terus memberikan yang terbaik dan nilai tambah dari sisi konten maupun solusi terhadap seluruh nasabah kami di sini, baik di Institutional Banking maupun Consumer Banking.

 

Dengan adanya kemajuan dan kecanggihan teknologi digital sekarang ini, terobosan seperti apakah yang akan diterapkan Citibank ke depannya?

Kita melihat ada evolusi dalam teknologi m-banking. Kalau dulu disebut sebagai era kompetisi, masing-masing bank berlomba dan saling bersaing, membuat ATM maupun membuka cabang sendiri. Kemudian, berkembang masuk ke era coopetion, yaitu compete and cooperate. Mulai masuk ke open system, seperti adanya ATM Network, masing-masing sharing. Lalu, beralih ke era yang disebut collaboration. Bukan hanya kerjasama antar bank, tapi juga dengan fintech maupun bank dengan e-commerce. Bagaimana masing-masing bisa memberikan kontribusi sesuai dengan core kompetensinya masing-masing. Sehingga, kolaborasi ini apakah bank dengan players seperti Gojek atau Traveloka, semua saling bersinergi secara optimal dan ujung-ujungnya memberikan yang terbaik untuk nasabah kami.

 

Jadi maraknya perkembangan alat transaksi digital e-money atau mobile wallet, seperti Go-Pay, T-Cash, atau Ovo tidak menjadi ancaman dunia perbankan?

Saya rasa itu akan lebih menjadi complimentary. Kalau kita melihat di Indonesia tentang penetrasi perbankan terhadap seluruh penduduk di Indonesia, kami tidak mungkin bisa bekerja sendiri. Sehingga, kita memerlukan partisipasi dari segala sektor, klien-klien e-commerce maupun fintech. Jadi, masing-masing saya rasa mempunyai perannya sendiri-sendiri dan saling berkontribusi, karena nobody can do it alone.

 

Bagaimana cara Citibank mengantisipasi kejahatan dunia maya, agar para nasabah terproteksi nyaman dan aman dalam bertransaksi online?

Cyber security merupakan sesuatu yang akan terus menjadi fokus Citibank, karena ujung-ujungnya nasabah menginginkan jaminan kenyamanan dan keamanan, sekaligus dimudahkan dalam segala hal transaksi digital. Itulah sebabnya, bidang ini menjadi investasi besar Citibank secara global dan berkesinambungan. Mengingat, teknologi yang berkembang semakin canggih, demikian pula kejahatan dunia maya tak mau ketinggalan lihai mengimbanginya. Jadi, kami selalu ter-update dengan teknologi digital terbaru, agar para nasabah kami tetap dapat terproteksi.

 

Perusahaan Bapak menaruh perhatian besar kepada kaum generasi muda, termasuk arah kebijakan program CSR peduli akan pengembangan dan pemberdayaan para millenials. Mengapa ini perlu dilakukan dan legacy apakah yang diwariskan Citi Indonesia kepada mereka?

Program CSR Citibank memang sangat fokus kepada generasi muda yang diarahkan pada edukasi dan literasi finansial, youth economic opportunities, dan microentrepreneurship. Khusus, untuk kemajuan perekonomian pemuda-pemudi, ini menjadi sangat penting karena mereka adalah generasi sangat produktif yang jumlahnya cukup besar. Jika, mereka tidak mempunyai pekerjaan yang baik, kontribusinya terhadap perekonomian bangsa pun tidak signifikan dan akan menjadi permasalahan sosial negara kita. Itulah sebabnya, youth economic opportunities menjadi bagian dalam program Citi PEKA (Peduli dan Berkarya). Berkolaborasi dengan para mitra pelaksana kita, yaitu NGO membantu youth economic recovery dan youth economic opportunities untuk Indonesia, termasuk dalam hal entrepreneurship, pelatihan, dan kesempatan mempersiapkan diri sebelum bekerja. Jadi, kalau di Citi PEKA yang diluncurkan sejak 1998, kami sudah berkontribusi lebih dari US$10 juta dollar dan 90% staf kami sudah menjadi volunteer. Itu merupakan satu hal yang ingin kami terus lakukan, yaitu meningkatkan bagaimana hubungan kami menjadi semakin erat dan nyata dalam komunitas ini.

 

Faktor tersulit yang pernah dialami dan berhasil mengatasinya, setelah 30 tahun fokus di dunia perbankan menjadi bankir yang profesional dan tangguh?

Dalam pekerjaan masalah memang akan selalu ada dan ini menjadi tantangan untuk diatasi sebaik mungkin. Ketika menemui kesulitan yang penting adalah paradigmanya, yaitu apakah kita melihat crisis in opportunity atau opportunity in crisis? Jadi, kalau mau berpikir positif, kita lebih akan menganggapnya sebagai sebuah tantangan, agar diri kita menjadi semakin baik dan tangguh ke depannya. Ada satu buku yang berjudul ‘A Complaint is a Gift, tujuannya tak lain adalah untuk peningkatan kualitas diri, bagaimana mengubah yang negatif kemudian menjadi positif.

 

Lalu, bagaimana agar kita juga bisa meraih kesuksesan di masa tua nanti?

Nikmatilah setiap dekade perjalanan usia kita, baik di umur 20-an, 30-an, 40-an, dan seterusnya. Just enjoy the journey, agar kita bisa menjalaninya dengan sebaik mungkin. Karena masing-masing masa memiliki keunikan tersendiri. Setiap dekade itu, pasti selalu ada impian yang ingin kita wujudkan. Begitu pun saat memasuki usia tua. Tapi, yang pasti kita harus menjaga pola makan maupun kesehatan, agar tidak panen penyakit dan to live life to the fullest.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

       

 

   

Popular

 

Photo Gallery

     

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250