Heni Maryanti, Meniti dan Mandiri

Oleh: Syulianita (Editor) - 06 April 2016

Naskah    : Suci Yulianita

Foto        : Sutanto


Seorang wanita harus bisa mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri. Prinsip itulah yang selalu dipegang teguh oleh Heni Maryanti. Meski sang suami memberinya lebih dari cukup, namun ia tak ingin berpangku tangan hanya mengandalkan itu saja. Dengan penuh perjuangan dan mengalami jatuh bangun, Heni pun berbisnis, mulai dari bisnis berlian, salon, kuliner hingga produk kesehatan.

 

Itulah Heni, sosok wanita mandiri yang sedari muda sudah mulai bekerja paruh waktu mencari pendapatan sendiri. Saat ditemui Men’s Obsession di kawasan Depok, beberapa waktu lalu, ia menceritakan masa mudanya di kota kembang, Bandung yang ia gunakan untuk kegiatan modeling sejak SMA hingga ia menikah. “Sejak muda sampai menikah saya itu model di Bandung. Saya mencari uang dari situ, jadi dari masih gadis saya sudah punya uang dari hasil keringat sendiri,” kenang ibu dua anak ini.

 

Ya, sang bunda yang juga seorang pengusaha catering, menjadi salah satu inspirasi dalam hidupnya. Heni mengatakan, sang bunda jualah yang sejak kecil selalu menanamkan pada dirinya untuk bisa menjadi wanita mandiri. Terlebih, Heni merupakan putri sulung dari tiga bersaudara, sehingga harus bisa menjadi wanita tangguh yang mandiri, serta menjadi panutan bagi adik-adiknya.

 

Heni melihat begitu banyak manfaatnya dengan menjadi wanita mandiri secara finansial. Selain karena untuk kebutuhan dirinya sendiri sebagai seorang wanita, ia pun bisa berbagi pada orang yang membutuhkan dari hasil keringatnya sendiri. “Itulah motivasi saya. Lagipula ada kebanggaan sendiri ya kalau kita punya penghasilan sendiri,” ungkap Heni sembari tersenyum manis.

 

Profesinya sebagai seorang model, terpaksa ia tinggalkan saat ia menikah dengan pria pujaannya. Namun bukan berarti ia berhenti berkarya. Sembari menjadi ibu rumah tangga, ia mulai berbisnis. Berawal dari bisnis berlian ia kemudian mengembangkannya lagi membuka sebuah salon kecantikan di kawasan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Hobi memasaknya pun ia jadikan ladang bisnis. Ia membuka catering dengan menu spesialis Somay.

 

Lucunya, untuk memudahkan mengingat somay buatan Heni, para pelanggan menyebutnya ‘Somay Barbie’. “Usaha catering sudah lama sekali sejak menikah. awalnya hobi yah kemudian dari teman-teman suka masakan saya, terutama somay. Disebut somay Barbie karena yang bikin cantik,” katanya tersipu malu.

 

Heni juga sempat berbisnis café & resto namun karena satu kendala, salah satunya kurang fokus dalam mengelola, dengan berat hati ia pun tak melanjutkan restonya itu dan memilih mengembangkan catering di rumah. Mengembangkan bisnis dari rumah dengan pemasaran jaringan teman-teman sosialita dan orangtua murid sekolah putra-putrinya, kemudian dari mulut ke mulut diakuinya justru lebih menguntungkan serta lebih menyenangkan lantaran bisa sembari mengurus keluarga.

 

Heni mengakui, pesanan catering, terutama somay Barbie buatannya itu, cukup membuatnya kewalahan. Dalam satu bulan ia bisa menerima pesanan lebih dari 2000 potong somay. Terutama pada bulan ramadhan hingga Idul Fitri, pesanan somay membludak berkali-kali lipat, “Alhamdulillah rezeki buat saya,” ucapnya penuh rasa syukur.

 

Perjalanan bisnis Heni tak selalu mulus. Selain bisnis resto yang kemudian gulung tikar, Heni ternyata pernah mengalami rugi besar ketika berbisnis berlian, ia pernah ditipu dengan nilai yang fantastis. “Dari kejadian itu, bisnis berliannya kemudian saya stop. Ya mau bagaimana. Ya sudahlah, saya anggap uang yang hilang itu mungkin ada sedekah saya yang kurang,” Heni berkata bijak.

 

Selain itu, bersama sang suami, Heni juga mengelola bisnisnya dalam bidang pendidikan, yakni sebuah sekolah swasta di kawasan Depok, Jawa Barat dengan nama YAPEMRI (Yayasan Pendidikan Masyarakat Republik Indonesia). Sekolahan yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu itu, menyediakan pendidikan berkualitas mulai dari tingkat TK (Taman Kanak Kanak) hingga SMU dan SMK.  

 

Kesibukannya memang luar biasa padat. Selain sibuk mengurus bisnis, menerima pesanan catering siomay, Heni bahkan masih menyempatkan aktif berbisnis MLM di bidang kesehatan. Tak hanya itu, Heni yang memang hobi menyanyi sejak muda ini pun, masih menerima tawaran manggung hingga ke luar kota. Ya, menyanyi juga menjadi salah satu hobi dan pelepas penat atau stress yang ampuh baginya.

 

Namun di sela-sela kesibukannya itu, wanita kelahiran Bandung, 20 Oktober 1974 ini, tentunya masih menyempatkan diri mengisi quality time bersama keluarga tercinta, khususnya sang buah hati. Biasanya saat weekend tiba, ia meluangkan waktu khusus untuk berkumpul bersama keluarga. “Biasanya kita jalan, makan, nonton. Atau kadang hanya kumpul di rumah, yang penting kebersamaannya, dan saya sangat menikmati moment kebersamaan itu,” pungkas Heni.

 

Dalam membesarkan dan mendidik putra-putrinya itu, Heni tak ingin terlalu memanjakan mereka. Heni mengajarkan anak-anaknya itu untuk bisa hidup mandiri minimal untuk mengurus kebutuhan masing-masing, tak bergantung pada dirinya atau pada asisten rumah tangga. “Apalagi tahun depan putra saya ada rencana untuk melanjutkan pendidikan di Jerman. Jadi harus bisa mandiri,” selorohnya.

 

Sebagai seorang Ibu, mimpi dan obsesinya ke depan hanya satu, yakni ingin mengantarkan putra-putrinya itu menjadi seseorang yang sukses kelak di kemudian hari. “Kalau untuk saya Alhamdulillah saya sudah merasa cukup. Sekarang saya fokus ke anak-anak. Saya ingin membesarkan anak anak dengan baik, ingin melihat anak saya sukses sekolahnya, dan bisa mencapai cita-citanya setinggi mungkin,” Heni menutup pembicaraan.