Rahma Sarita: Love behind the Scene

Oleh: Andi Nursaiful (Administrator) - 13 March 2014
Naskah: Andi Nursaiful, Foto: Dok. MO

Bangil, Pasuruan, 1982
Gadis kecil keriting berkulit gelap asyik berlarian di pematang sawah bersama bocah kampung lainnya. Meski kerempeng, dengan sigap dia memanjati pohon asam dan mengambil ancang-ancang di sebuah cabang besar. Bocah laki-laki dan perempuan menyemangati. Dia lalu melompat ke tumpukan jerami di bawahnya. Tawa lepas anak-anak kampung memecah keheningan siang di tepi hutan.

Jakarta, 2002
Duapuluh tahun berselang. Di layar kaca, seraut wajah cantik tampil penuh percaya diri menyiarkan berita ke seluruh negeri. Rahma Sarita. Hanya nama itu yang kutahu, selain seraut kecantikan yang misterius. Tak sedikit pun terlintas, kamulah gadis kampung di tepi hutan itu.


15.32 WIB
“Panggil aku Rahma saja.” katamu, kala kuculik sesaat di sebuah sore yang sibuk di sela-sela dua siaranmu. “Sarita” bukanlah nama pemberian orang tuamu yang berdarah Timur Tengah itu. Nama itu hanya bikinan teman-teman yang risau dengan namamu yang terlalu pendek.

Tapi, entah kenapa, aku lebih suka memanggilmu “Ra”. Bagiku, lebih mewakili aura misterimu. Misteri itu jua yang membuatku begitu sulit menjelajahi masa lalu dan pedalaman hatimu. Tapi, Ra, justru itulah daya tarikmu.

“Aduh, aku nggak suka diinvestigasi seperti ini,” elakmu. Aku tahu, kamulah yang biasa menginvestigasi orang. Tapi sekali ini saja, Ra!  Izinkan aku menelusuri relung-relung hatimu. Kami, laki-laki, berhak menikmati keindahanmu. Kami, kaum Adam, dikaruniai indera untuk mengagumi keutuhanmu. Kamu hanya tersenyum. Ah, senyum misterius itu lagi, Ra!

Toh, sepenggal demi sepenggal tapak masa lalumu mulai terkuak, laksana membangun kepingan-kepingan mozaik sosokmu. “Masa kecilku kurang lengkap karena ibu meninggal ketika aku masih dua tahun,” kenangmu. Kamu pun tumbuh di bawah pengawasan ketat nenek dan tujuh kakakmu hingga remaja. Sang ayah sendiri hijrah ke Surabaya.

“Yang paling aku ingat dongeng-dongeng nenek. Itu resep dia agar aku mau tidur siang, meski selalu diputus saat tegang-tegangnya. Tapi dongeng-dongeng itu banyak menginspirasi aku, prinsipku, pandangan hidupku. Semuanya bernilai kemanusiaan yang mungkin sulit diterapkan sekarang karena terlalu ideal!”

Lalu kucoba bayangkan sosok tomboy yang jago lari, voli dan renang tapi senang melukis. Gadis kecil yang tergila-gila pada Michael Jackson. Kucoba hadirkan si gadis kutu buku yang serius belajar hukum di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya. “Keluargaku agak konservatif, strict, makanya aku jarang pacaran, ha ha ha! Waktu kuliah, bapak menuntut keras selalu dapat nilai baik. Aku takut sekali dan akhirnya fokus kuliah. Waktu sudah kerja pun aku disibukkan urusan kerjaan. Jadi, apa ya, agak kuper kali?” akumu.

Ahh, Ra! Bisa kulihat dari mana asal misteri itu. Jujur saja, kamu terlalu cantik untuk diacuhkan, terlalu indah untuk dilupakan. Maka, jangan salahkan laki-laki yang tergila-gila padamu sampai nekat meneror. “Ah, dia secret adorer. Bikin cerita macam-macam di internet, kirim surat ke bosku seakan-akan ada hubungan. Padahal, I don’t even know him!  Dia sempat bikin stres. Ya, mungkin resiko pekerjaan. Waktu masih di TVRI juga pernah. Selain dia, di Metro TV ini pernah juga ada yang datang. Terus terang aku sangat terganggu. Kalau dalam batas normal aja sih aku mungkin berterima kasih, tapi kalau too far, jelas sudah menganggu pekerjaan,” tegasmu.

Mungkin aku salah, tapi rasanya kamu seorang pemarah sekaligus gampang menangis. Maka luruskan anggapanku, Ra! “Jujur,  iya! Tapi sekarang udah berkurang. Mungkin karena aku orangnya tak bisa pura-pura. Jujur kalau tidak suka. Tapi di Jakarta aku mulai berubah, karena di sini kita harus pintar bersandiwara.” 

Sandiwara Ra? Itu jugakah yang kau lakukan saat berbicara datar soal almarhumah ibumu yang tak pernah kau kenal? Kamu hanya terdiam. Lalu meluncurlah pengakuanmu bersama dua butir kristal bening dari mata indah itu. “Ada peristiwa yang mengubah hidupku. Waktu melahirkan Inas, aku memilih persalinan normal, karena … aku ingin tahu bagaimana perjuangan ibu … ah maaf, aku benci kayak gini! Aku nggak pernah diwawancara kayak gini!” Kristal itu pun jatuh tak terbendung lagi.

15.50 WIB
Menangislah, Ra! Menangislah! Jangan biarkan beban itu menyiksamu. Izinkan aku berbagi laramu. Dengan terbata kau meneruskan, “Ya, ibu dan adik meninggal waktu persalinan… Karena itu aku berkeras ingin melahirkan normal… Aku ingin tahu bagaimana perjuangan ibu… Nah, sekarang kamu tahu kan aku sangat emosional!”

Tapi, bagiku itu kian menambah keindahanmu! “Ya, ini yang paling mengispirasi aku sekarang,” katamu sejurus kemudian, seraya menunjukkan gambar gadis cilik usia 2,5 tahun yang lucu dan cantik dari dalam dompetmu. Aku turut bersedih bahwa inspirasimu itu direnggut dari pelukmu dan entah berada di mana kini bersama ayahnya.

“Aduh! Dari mana kamu tahu itu? Aku nggak suka ceritain ini. It’s so private. Dan aku nggak mau dikasihani…” Ra!, bukankah sejak tadi aku mendekatimu dengan hati? Bukankah sudah kukatakan persuaan kita ini adalah sebuah kontemplasi? Maka jangan lagi kau ragu membagi kisah kelam perkawinanmu yang gagal dengan sang polisi dua tahun lampau. Izinkan aku ikut merasakan perihmu. “Ya, mungkin dulu karena pacarannya hanya sebulan lalu menikah. Itu kesalahan, ha ha ha ! Ternyata pacaran itu penting!”

Setuju Ra, teramat setuju! Tapi kenapa kau masih juga menutup diri? Sebagai wanita matang, tidakah kau terganggu dengan hasrat itu? “Aku membiarkan semua berjalan apa adanya. Bahkan what happen with me in the past aku anggap memang sudah seperti itu jalannya, tak perlu disesali. Kalau memang saya meet someone, wonderful one, ya, it’s okay. Kalau nggak, ya it doesn’t matter! Biarkan semua berjalan apa adanya!” 

Apa adanya, katamu. Seperti itu pula kau gambarkan dirimu: sederhana, simple, apa adanya. “Orang lain pun pasti akan menilai begitu. Bagiku, kekurangan sekaligus kelebihan. Aku bisa tampil apa adanya, itu kelebihan. Tapi aku sering tak bisa tampil pura-pura, itu kekurangan!” 

16.20 WIB
Katamu lagi, kau begitu mudah tersentuh melihat ketidakberdayaan, terutama anak-anak dan orang tua. Bagimu, tak ada anak-anak yang tidak menyenangkan, sebab mereka polos, tidak seperti orang dewasa. “Aku lebih cepat tersentuh melihat anak-anak dan orang tua yang tidak berdaya. Menurutku, mereka butuh perlakuan khusus.”

Maka bocah pengamen di lampu merah mampu membuatmu menangis. Bahkan nonton film pun bisa menguras air matamu. “Kalau nonton bareng teman-teman, aku selalu jadi bahan tertawaan karena mudah sekali menangis. Buat aku sih, itu salah satu sifat feminim, karena kebanyakan perempuan kan seperti itu?”
Ra, tahukah kau bahwa air mata empati itu jauh lebih mulia dari tangis feminim wanita? Itu berkah, Ra! Percayalah! 

Kini, izinkan kutambah satu lagi predikat untuk pribadimu: Tangguh! “Ah, nggak lah. Buktinya, tadi nangis. Aku sih merasa selalu kurang. Mestinya bisa melakukan yang lebih ketimbang seperti sekarang ini,” ujarmu bijak. Toh, kamu berharap kelak menemukan sosok pria cerdas, tangguh dan punya fighting spirit. “Laki-laki itu harusnya misterius. Kalau ganteng, perfect, justru tidak menarik, karena tidak ada misterinya kan? Sudah jelas semua, ha ha ha! Kalau ada yang masih misterius, misalnya, oh dia menarik dari sisi ini, sisi itu, menurutku itu nilai tersendiri buat dia!”

Terserah, Ra, terserah! Tapi sadarkah kau betapa cantik dan seksinya sosokmu? Tidakkah kau baca pendapat publik di internet yang menyebut dirimu penyiar paling cantik? “Ha ha ha! Lucu, dulu waktu kecil aku saya tidak suka tubuhku. Kerempeng sekali, tinggi kurus. Hitam karena suka main di luar rumah, rambutku aslinya keriting. Aku benci hidungku, karena menurutku terlalu mancung, aku benci tubuhku yang kurang seksi, kurang berisi. Tapi lama-lama aku merasa bukan itu indikasi cantik dan seksi. Karena, seseksi apapun penampilan fisik, kalau kurang pintar, semua akan terhapus!”

Tak heran, kau tak suka tampil seksi, karena sering salah tingkah diperhatikan orang banyak. Tapi bukankah kamu sudah terlanjur milik publik? “Tapi kan di TV, aku tidak tahu orang memperhatikan, ha ha ha!”

16.40 WIB
Lantas apakah juga kau tak tahu di mana letak sex appeal-mu? “Jujur, I don’t have any idea. Buat aku, ini kesatuan, this is me!” Hmmm, mungkin saja kau jujur. Kini mari bicara tentang cinta dan seks! “Hmm, love itu menerima, mengerti, menyayangi. To feel and to give! Kalau kita mencintai seseorang, kita harus bisa menerima semua kekurangannya, menyayangi dan memberikan yang terbaik untuknya!”

Termasuk menyerahkan kehormatan, Ra? “Oh kalau seks hanya bumbu, bukan ekspresi, tidak wajib dibutuhkan. You still can love someone without doing that. Bisa dengan seks, tapi tanpa seks pun bisa. Kita bisa mengekspresikan cinta dengan cara lain. Orang bisa having sex many times without love kan?”
    
Kini aku paham kenapa kau tak tersiksa hidup sendiri selama dua tahun. Terlebih, pekerjaan memang menghabiskan waktumu. Lantas apa yang kau perbuat di kala senggangmu? “Nonton DVD. Kebanyakan waktu senggang aku habiskan nonton. Aku suka semua jenis film kecuali action karena tidak membawa pesan selain ketegangan. Belakangan ini aku suka dan kagum film Iran dan non Hollywood, karena film-film itu maknanya sangat dalam meskipun digarap sederhana.”

Karena alasan itu pulakah kau lebih gemar membaca buku-buku karya Jalaluddin Rumi? “Nggak juga sih. Kalau baca aku musiman. Kadang baca sastra seperti karya Pramudya Ananta Toer. Yang pasti aku suka betul dengan penulis feminisme mesir Nawal L. Sadawi.”

Yang aku tahu juga, selera musikmu cukup konservatif. Hanya suka Elton John dan Sting, juga lantaran syairnya. Dan, berenang dan melukis adalah kegiatan lain yang kau suka. Bahkan kau sempat belajar pada pelukis impresionis Srihadi dan ikut sanggar sejak SD hingga SMA. Semua hobi itu kau rasa lebih bermanfaat ketimbang menghabiskan waktu dengan dugem.

Tentu beralasan pula kenapa kau lebih suka gaya busana sportif dan kasual, dipadu aroma segar parfum Aqua di Gio dari Giorgio Armany. “Gaun sih suka, cuma teman-teman suka menertawakan, katanya jalanku aneh kalau pakai gaun. Sebetulnya suka sekali. Aku ingin tampil anggun, tapi orang pasti tahu kalau sebetulnya memaksakan diri. Aku sebenarnya sangat feminim. Aku ingin sekali tampil feminim, tapi ketika mencoba tampil perempuan seperti itu, semua orang tertawa!” Aku yakin mereka salah, Ra! Maka, jangan lagi gaya feminim hanya kau pakai untuk underwear yang tak tampak!

17.00 WIB
Persuaan kita kian dihantui deadline siaranmu. Tapi, bagimu, hidup terus dikejar waktu tak membuatmu tersiksa. Sebaliknya, kau begitu menikmati hidupmu sekarang, termasuk kesendirianmu. “Aku cukup puas, meskipun tidak berarti harus berhenti dan tidak berusaha lebih baik. Aku enjoy kehidupanku saat ini.” Terlebih setelah meliput bencana mengerikan di Bumi Aceh. Sepulang dari sana, kamu merasa hidupmu sangat berharga. Aku pun yakin, di Aceh kau menangis.

“Aku sudah berusaha menahan tangis. Rasanya malu dan kalah sama para korban yang penuh ketabahan. Dari situ aku menyimpulkan, tidak layak untuk mengatakan hidupku tidak bahagia. Aceh sangat mempengaruhi hidupku. Aku kira semua orang harus pergi ke Aceh agar bisa memperoleh pesan yang disampaikan yang Maha Kuasa!”

Katamu lagi, hidup itu sulit tanpa sebuah pegangan. Dan, pegangan yang paling utama adalah agama. Aku pun yakin kau pastilah sangat fasih membaca Alquran dan selalu ingat ibadah lima waktu. “Kalau ritual sih aku berusaha tidak bolong-bolong. Mungkin karena dari kecil sudah terbiasa, karena nenek selalu bawa rotan kalau aku lupa sholat. Tapi dulu itu kan ritual. Kalau makna, aku baru tahu manfaatnya setelah dewasa. Misalnya, jadi penguat hati kalau sedang ada masalah atau sedang ketakutan.”

Ah, aku benci waktu yang berlari ini! Kini ceritakan obsesi dan mimpi-mimpimu sebelum kau kulepas. Kau yakin, presenter bukanlah pelabuhan terakhir karirmu. Maka kau berencana melanjutkan kuliah S-2 bidang hukum kelak. “Atau mungkin bidang media massa karena sejak dulu aku memang berobsesi jadi penyiar TV. Yang pasti bukan kerja kantoran di belakang meja!” Terlibat dalam pembuatan iklan kreatif atau film termasuk mimpimu. “Tapi bukan artisnya lho! Dari dulu aku tidak kepikir, meski dulu ikut teater dan sempat ada teman yang ngajak.

Waktu benar-benar tak bersahabat untuk kita, Ra. Maka kusudahi saja perenungan kita. Kurelakan kau pergi. Puluhan juta pasang mata menantimu di layar kaca, kotak ajaib tempat pertama kali kau kutemukan.

Rahmagrafi
Nama Lengkap
Rahma Sarita Al Jufri Nama Populer Rahma Sarita Lahir Surabaya, 7 April 1975, anak bungsu dari delapan bersaudara pasangan Ahmad Joepri-Anisa (keduanya almarhum) Pendidika Formal: Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, 1997  Pekerjaan/Profesi Penyiar/presenter/wartawan TVRI (2000-2001), Metro TV (2001-sekarang) Prestasi: 3rd Winner Debate Competition Asean Law Student Association Hobi Berenang, melukis, nonton film Penulis Favorit Nawal L. Sadawi  Parfum Favorit Aqua di Gio dari Giorgio Armany


Artikel ini dimuat di majalah Men's Obsession edisi Mei 2005


Update

Dari Metro TV, Rahma pindah ke TVOne pada Februari 2008, dan kini bergabung ke stasiun TV JakTV.