Yusril Ihza: Dakwah Berkontribusi Bagi Kehidupan Demokrasi
Caption Foto: Yusril Usai Membuka TOT Bakomubin
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menyampaikan bahwa dakwah memberikan kontribusi penting bagi kehidupan demokratis. "Karenanya, para mubaligh memiliki kesempatan untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa ketaatan beragama, tanggung jawab kewarganegaraan dan penghormatan terhadap hukum tidak harus ditempatkan sebagai hal-hal yang saling bertentangan, " ucapnya saat membuka Training of Trainers (TOT) & Coaching Instruktur Nasional Muballigh Kader Bela Negara (CINMKBN) yang digelar DPP Harakah Bakomubin, Kamis malam.
Dalam tradisi Islam, kata Yusril lagi, nilai keadilan, amanah, musyawarah dan tanggung jawab sosial memiliki tempat yang penting.”
Pada acara yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Yusril juga mengungkapkan tentang sejarah perjuangan dakwah di Tanah Air. Menurutnya, keberadaan Harakah Bakomubin tidak lahir dari ruang yang hampa, namun berakar dari kesadaran mendalam para alim ulama dan tokoh dakwah yang pada tahun 1996 yang diinisiasi melalui Silaturahmi Nasional di Asrama Haji Pondok Gede oleh tokoh-tokoh berdedikasi tinggi seperti almarhum Toto Tasmara, Anwar Sanusi, Tatang Natsir Fathuddin dan banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
“Bakomubin yang kini bertransformasi menjadi Harakah Bakomubin telah membuktikan komitmen yang konsisten pada empat pilar utamanya: berhikmat, dakwah, tarbiyah, dan islahul ummah. Perubahan nama dan penguatan struktur ini bukanlah pemutus mata rantai sejarah melainkan bentuk penyegaran ikhtiar agar senantiasa adaptif, profesional serta berada di barisan terdepan dalam menjaga ukhuwah dan persatuan nasional,” terang Yusril.
“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Harakah Bakomubin yang merawat sejarah ini dengan langkah yang lebih maju, tidak hanya menempa kapasitas retorika dakwah, tetapi juga membekali para mubaligh dengan wawasan kebangsaan, kesadaran hukum dan jiwa bela negara,” imbuh Yusril
Menko Imipas juga menyampaikan, Indonesia merupakan negara yang dibangun di atas kenyataan kemajemukan. Masyarakat kita memiliki latar belakang agama, suku, bahasa, adat istiadat dan kebudayaan yang amat beragam.
Kemajemukan tersebut merupakan bagian mendasar dari kehidupan bangsa kita, akan tetapi kemajemukan tidak dengan sendirinya menghasilkan persatuan. Perbedaan dapat menjadi sumber kekayaan apabila dikelola dengan bijaksana, tetapi sebaliknya dapat pula ia berkembang menjadi konflik apabila dipertajam untuk membangun permusuhan.
Karena itu, lanjutnya, persatuan nasional harus dipahami sebagai komitmen untuk hidup bersama di tengah perbedaan dengan berpegang pada dasar negara, konstitusi dan cita-cita kebangsaan yang sama.
“Kita perlu melihat kembali sejarah pembentukan negara kita ini. Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari keseragaman pandangan di antara para pendiri bangsa dalam proses persiapan kemerdekaan pada tahun 1945. Terdapat perbedaan pemikiran mengenai falsafah negara kita, bentuk kehidupan bernegara, dan hubungan antara agama dengan negara,” terang Yusril.
Menurutnya, perbedaan-perbedaan itu dibicarakan dan diperdebatkan dalam satu perdebatan yang sengit dan serius. Namun, harus kita pahami bersama para pendahulu kita itu, walaupun mereka berbeda pendapat begitu tajam antara satu dengan yang lain, mereka tetap menjaga etika, sopan santun, dan penghormatan terhadap saudara-saudaranya.
“Meskipun mereka berpendirian berbeda antara satu dengan yang lain, kita dapat membayangkan, misalnya, ketua partai itu harus berdialog dan berdebat dengan yang secara prinsip ideologinya saling bertolak belakang,” ujarnya.
“Zainal Abidin Ahmad mengatakan jikalau orang bisa memisahkan gula dari manisnya maka bisalah dia memisahkan Islam dari politik negara. Agama memberikan nilai-nilai luhur kepada bangsa dan negara konstitusi siapa landaskan kepada nilai-nilai luhur di dalam agama,” ujar Yusril.
Sementara Ketua Umum DPP Harakah Bakomubin KH Suhary AM mengatakan, kegiatan TOT ini telah dua kali dilaksanakan, yang pertama di Bogor pada tahun 2022, yang kedua sekarang.
“Kegiatan ini akan melahirkan para instruktur nasional Indonesia agar struktur yang dilahirkan oleh DPP Harakah Bakomubin kemudian dapat berkembang di wilayah-wilayah masing-masing,” kata Suhary. (Hru).


