Habitat for Humanity Indonesia dan Pemkab Sragen Kolaborasi Tingkatkan Kualitas Rumah 101 Keluarga

Editor Oleh: Redaktur - 21 October 2026

Akses terhadap hunian layak masih menjadi tantangan bagi keluarga berpenghasilan rendah. Di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, persoalan ini mendorong Habitat for Humanity Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Sragen untuk memperkuat kolaborasi melalui Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Sepanjang 2026, kerja sama tersebut telah menyelesaikan peningkatan kualitas rumah bagi 101 keluarga.

Program ini menggabungkan dukungan pemerintah, pendanaan pendamping, dan pendampingan teknis untuk membantu keluarga memperoleh hunian yang lebih aman, sehat, dan nyaman. Melalui skema tersebut, bantuan BSPS sebesar Rp20 juta per keluarga dipadankan dengan tambahan dukungan Rp20 juta melalui Habitat for Humanity Indonesia, sehingga total dukungan pendanaan mencapai Rp40 juta per keluarga.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Sragen yang disampaikan dalam program ini, sebanyak 13.945 keluarga dari kelompok desil pendapatan 1 dan 2 masih menempati rumah tidak layak huni. Dari jumlah tersebut, terdapat 3.229 rumah tangga yang dikepalai perempuan dan 1.912 keluarga dengan anggota penyandang disabilitas. Sebanyak 2.151 keluarga juga tercatat dalam kategori backlog perumahan.

Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan perumahan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan tempat tinggal, tetapi juga dengan kualitas bangunan dan kemampuan keluarga untuk melakukan perbaikan secara mandiri. Keterbatasan pendapatan membuat banyak keluarga harus menunda renovasi, meskipun kondisi rumah sudah tidak memadai.

Dalam kolaborasi ini, Habitat for Humanity Indonesia berperan dalam menghubungkan dukungan pendanaan dari para donatur dan mitra korporasi dengan kebutuhan keluarga di lapangan. Pendampingan juga diberikan dalam perencanaan perbaikan, pengawasan konstruksi, pengelolaan material, serta penyesuaian pembangunan berdasarkan kondisi rumah dan kebutuhan penghuninya. Keluarga penerima manfaat turut berpartisipasi melalui kontribusi tenaga selama proses perbaikan.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah retrofitting, yakni memperbaiki dan memperkuat bangunan yang telah ada agar memenuhi kebutuhan kelayakan hunian. Pekerjaan dilakukan sesuai kondisi masing-masing rumah, termasuk perbaikan atap, dinding, lantai, dan fasilitas sanitasi. Program ini juga dilengkapi dengan pelatihan Building Back Safer untuk meningkatkan pemahaman keluarga mengenai konstruksi yang lebih aman dan pertimbangan risiko bencana.

Dampak program terlihat dari perubahan yang dialami Sri Wahyuni dan ibunya, Samiyati. Sebelum menerima bantuan, keduanya tinggal di rumah dengan atap miring dan dinding anyaman bambu yang telah lama digunakan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa rumah akan roboh, sementara keterbatasan biaya menghambat upaya renovasi.

“Seandainya tidak dibangun, rumahnya pasti akan ambruk, roboh semua. Atapnya sudah benar-benar miring, dan dindingnya juga masih menggunakan gedek dari bambu yang sudah lama,” ungkap mereka.

Setelah rumah diperbaiki, keduanya merasakan hunian yang lebih kokoh, rapi, dan mudah dibersihkan. Lantai yang sebelumnya becek kini lebih nyaman digunakan. Perubahan tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas fisik rumah, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan dan motivasi untuk terus memperbaiki hunian secara bertahap.

Perubahan serupa dirasakan Suyadi, yang sebelumnya tinggal di rumah berdinding dan beratap bambu dengan lantai tanah. Hujan kerap membuat lantai basah, sementara genteng bocor menambah ketidaknyamanan. Setelah memperoleh bantuan, rumahnya menjadi lebih kokoh dan fasilitas sanitasi lebih sesuai dengan kebutuhannya.

“Alhamdulillah, bantuan yang diberikan sangat membantu kami. Kloset yang sekarang duduk dan ada pegangannya di dinding. Dulu, waktu menggunakan kloset jongkok, susah sekali dan khawatir terpeleset. Sekarang sudah nyaman, lebih mudah digunakan dan kami lebih tenang,” tuturnya.

Perbaikan fasilitas sanitasi tersebut juga mencerminkan pentingnya pendekatan hunian yang inklusif. Kelayakan rumah perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan penghuni, termasuk keluarga yang memiliki anggota penyandang disabilitas serta rumah tangga yang dikepalai perempuan.

Meski peningkatan kualitas rumah bagi 101 keluarga telah diselesaikan, kebutuhan hunian layak di Sragen masih memerlukan perhatian berkelanjutan. Dalam data program, sebanyak 904 keluarga tercatat sebagai prioritas Pemerintah Kabupaten Sragen. Kondisi ini membuka ruang bagi penguatan kemitraan antara pemerintah, organisasi kemanusiaan, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat.

Kolaborasi Habitat for Humanity Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Sragen memperlihatkan pentingnya penyatuan sumber daya untuk menjawab persoalan sosial yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat. Dukungan pendanaan menjadi lebih bermakna ketika disertai pendampingan teknis, keterlibatan keluarga, serta perhatian terhadap keamanan dan kebutuhan penghuni.

Pada akhirnya, hunian layak bukan hanya persoalan fisik bangunan. Rumah yang aman dan sehat merupakan fondasi bagi keluarga untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik, sekaligus bagian penting dari upaya memperluas kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.