Dear Money, We Need to Talk, Cara BCA Digital Dekatkan Literasi Keuangan
Kesenjangan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah. Akses terhadap layanan keuangan yang semakin luas perlu diimbangi pemahaman masyarakat agar mampu mengelola uang dan mempertimbangkan risiko keuangan secara bijak.
Persoalan tersebut menjadi salah satu latar peluncuran buku antologi Dear Money, We Need to Talk oleh PT Bank Digital BCA (BCA Digital) dalam puncak penganugerahan bluPressAwards 2026 di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta.
Buku tersebut memuat 50 artikel jurnalistik pilihan yang dikurasi bersama pakar keuangan dari 118 karya jurnalis di berbagai daerah di Indonesia. Karya ini juga memperoleh penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Buku Literasi Keuangan Karya Jurnalis Terbanyak”.
Menurut data yang dikutip BCA Digital, indeks inklusi keuangan nasional mencapai 93,61 persen, sedangkan indeks literasi keuangan berada di angka 69,57 persen. Selisih 24,04 poin persentase itu menunjukkan bahwa kemudahan mengakses layanan keuangan belum sepenuhnya sejalan dengan pemahaman masyarakat dalam menggunakannya.
Direktur Utama BCA Digital, Lanny Budiati, mengatakan setiap orang memiliki perjalanan finansial yang berbeda. Karena itu, pengelolaan uang perlu dipahami melalui keputusan sehari-hari, bukan hanya melalui perhitungan angka.
“Setiap orang punya perjalanan finansial berbeda dan tidak ada satu formula yang berlaku untuk semua. Lewat buku ini, BCA Digital ingin menunjukkan bahwa mengelola keuangan bukan sekadar tentang angka, melainkan bagaimana kita mengambil keputusan yang lebih baik,” ujar Lanny.
Mengangkat persoalan uang yang dekat dengan anak muda
Artikel dalam buku Dear Money, We Need to Talk mengangkat beragam persoalan finansial yang dihadapi generasi muda. Topiknya mencakup perjuangan memutus rantai sandwich generation, strategi soft saving, pengaturan anggaran bersama pasangan sebelum menikah, hingga persiapan dana darurat.
Ada pula pembahasan mengenai cara mengendalikan pengeluaran harian tanpa harus menghilangkan kesempatan menikmati masa muda. Ragam topik tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keuangan tidak selalu berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga kebiasaan, prioritas, tanggungan keluarga, dan kemampuan menyusun rencana.
Bagi generasi yang mulai mandiri secara finansial, memahami kebutuhan dan keinginan menjadi langkah penting. Begitu pula dengan mengenali risiko sebelum mengambil keputusan, termasuk ketika menggunakan layanan keuangan digital atau merencanakan pengeluaran bersama pasangan.
Head of Brand & Communication BCA Digital, Duardi Prihandiko, menilai tulisan jurnalistik dapat membantu masyarakat memahami konsep keuangan melalui pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Teori keuangan di atas kertas sering kali terasa kaku, tetapi cerita nyata di media terasa jauh lebih familiar dan menggugah kesadaran,” kata Duardi.
Program ini merupakan bagian dari bluAcademy, inisiatif edukasi keuangan BCA Digital. Peluncuran buku dilakukan dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan (BIK), dengan tujuan memperluas akses masyarakat terhadap materi edukasi finansial.
Buku tersebut tidak dijual secara komersial dan disiapkan sebagai materi edukasi publik. Sejumlah eksemplar diserahkan kepada Perpustakaan Habibie & Ainun untuk menjadi koleksi, sementara distribusi ke berbagai sarana edukasi di Indonesia juga direncanakan.
Masyarakat dapat mengakses versi digital buku tersebut secara gratis melalui situs resmi BCA Digital di https://bcadigital.co.id/.
Kehadiran antologi ini menambah pilihan bacaan bagi masyarakat yang ingin memahami pengelolaan uang melalui kasus sehari-hari. Namun, peningkatan literasi keuangan tetap membutuhkan upaya berkelanjutan agar pemahaman tersebut dapat diterapkan saat menyusun anggaran, menyiapkan dana darurat, dan mengambil keputusan finansial.


