Yayuk Basuki Kembali Membina Atlet, Ingin Lahirkan Juara dari Akademi

Editor Oleh: Redaktur - 16 August 2026

 

 

Nama Yayuk Basuki melekat dalam salah satu bab penting sejarah tenis Indonesia. Jejaknya terbentang dari lapangan kompetisi hingga panggung internasional. Kini, setelah melewati masa panjang sebagai petenis profesional, Yayuk memilih meneruskan pengetahuan dan kecintaannya pada olahraga tersebut lewat Tennis Academy yang dibinanya.

Akademi itu menjadi ruang bagi Yayuk untuk menanamkan pengalaman yang dulu membentuk perjalanan kariernya kepada generasi baru. Ada harapan yang lebih panjang dari sekadar melahirkan juara turnamen, yakni melihat anak didiknya tumbuh menjadi petenis yang mampu membuka pencapaian baru bagi tenis Indonesia.

Bagi Yayuk, ukuran keberhasilan akademi justru terasa ketika seorang murid mampu melewati catatan yang pernah ia ukir. Kebanggaan itu memiliki makna tersendiri karena prestasi seorang anak didik sekaligus menjadi bagian dari perjalanan yang dibangun bersama sejak awal.

"Itu menjadi suatu pencapaian, itu juga kita akan menjadi proud, bahwa one of the great tennis player lahir dari sekolah tenis kita," ujar Yayuk.

Seorang petenis besar yang lahir dari akademinya kelak akan menjadi penanda penting bagi perjalanan Yayuk setelah kompetisi. Bukan lagi tentang berapa banyak gelar yang ia kumpulkan, melainkan tentang pengetahuan yang diteruskan dan kesempatan yang ia buka bagi generasi sesudahnya. Legacy itu tumbuh dari lapangan, lalu diteruskan oleh mereka yang datang setelahnya.

Sekolah tenis yang kini dikembangkan Yayuk sebenarnya bukan gagasan yang baru muncul setelah ia pensiun. Sekitar 2010-an, ia sudah mulai merintis akademi tersebut. Rencana itu kemudian terhenti ketika perjalanan Yayuk berbelok ke ranah yang lebih luas, yakni memperjuangkan kepentingan atlet dan olahraga Indonesia.

 

"Saya waktu itu benar-benar ingin membangunnya, tapi terputus karena ternyata saya dibutuhkan bukan hanya di tenis, tapi di seluruh cabang olahraga. Semua menyuarakan harus ada yang memperjuangkan hak-hak mereka," ujarnya.

Keputusan tersebut membuat Yayuk untuk sementara meninggalkan ranah mikro, tenis, dan bergerak ke ranah makro. Akademi yang dirintisnya kemudian dipercayakan kepada sang suami, yang dalam perjalanannya berhasil membina pemain putra nomor satu Indonesia sekaligus peraih medali emas SEA Games.

Pengalaman itu sekaligus memperlihatkan tantangan pembinaan petenis putra hingga level dunia. Menurut Yayuk, prosesnya tidak sederhana karena dipengaruhi banyak aspek, mulai dari postur tubuh hingga daya tahan fisik. Sementara di sektor putri, ia melihat pembinaannya masih menghadapi ketertinggalan yang perlu mendapat perhatian lebih besar.

Pengalaman membina atlet juga pernah membawanya ke luar negeri. "Satu keputusan saya untuk waktu membina anak-anak di Tanah Air, satu lagi soal melanjutkan legacy lewat pemain dari negara lain. Saya pilih yang lebih besar, memperjuangkan hak dan aturan bagi seluruh pelaku olahraga di tanah air," katanya.

Pilihan tersebut berkaitan dengan keterlibatan Yayuk dalam penyusunan undang-undang sistem keolahragaan nasional yang baru. Peran itu membuat perhatiannya melebar dari pembinaan tenis menuju persoalan yang menyangkut ekosistem olahraga secara keseluruhan. Setelah bertahun-tahun berada di ranah tersebut, kini ia merasa waktunya kembali mendekat ke lapangan.

Kembali ke tenis bukan berarti Yayuk berhenti melihat perkembangan olahraga di kawasan. Sebagai Ambassador Singapore Tennis Open, yang kini naik level menjadi WTA 500, ia melihat penyelenggaraan turnamen tersebut bersama Singapore Tennis Invitational Cup sebagai kesempatan yang saling melengkapi. Ajang regional itu memberi ruang bagi pemain yang peringkatnya belum cukup untuk masuk level utama.

Menurut Yayuk, keberadaan kedua turnamen dapat memberi motivasi bagi pemain muda untuk mengejar level kompetisi yang lebih tinggi. Momen tersebut sekaligus ia manfaatkan untuk memantau talenta bersama rekannya, Tammy. Dari pengamatan itu, ia menemukan sejumlah pemain potensial dari Thailand dan Singapura, meski tidak semuanya memilih tenis sebagai jalan profesional.

"Ada pemain Singapura yang sebenarnya cukup qualified, tapi akhirnya mereka berpikir hanya ingin sekolah," katanya.

Pilihan tersebut tidak dipandang Yayuk sebagai kegagalan. Pendidikan justru ia tempatkan sebagai fondasi penting dalam perjalanan seorang atlet. Menurutnya, kemampuan membaca permainan dan menyusun strategi di lapangan tidak dapat dipisahkan dari kemampuan berpikir yang turut dibentuk melalui pendidikan.

"Pendidikan itu platform kita. Kalau kita tidak sekolah, tidak teredukasi, bagaimana kita bisa bicara strategi bermain," ujarnya.

Dari perjalanan panjang itu, perhatian Yayuk kini kembali mengerucut pada sesuatu yang pernah ia mulai lebih dari satu dekade lalu. Akademi tenis menjadi ruang yang lebih dekat dengan lapangan, tempat ia dapat kembali mendampingi anak-anak dan meneruskan pengetahuan yang diperolehnya sepanjang karier. Kali ini, ia ingin melihat sejauh mana warisan itu dapat tumbuh melalui generasi baru.

Lapangan yang kini ingin kembali didekati Yayuk bukan sekadar tempat untuk melatih teknik dan mengejar kemenangan. Di sana, ia ingin meninggalkan pengetahuan, pengalaman, dan keberanian untuk bermimpi lebih tinggi. Jika kelak lahir petenis besar dari akademinya, pencapaian itu akan menjadi bab baru dari legacy yang terus berjalan.