BRI JF3 Fashion Festival 2026 Perluas Ekosistem Fashion Indonesia Lewat Kolaborasi Internasional

Editor Oleh: Redaktur - 09 August 2026

Jakarta – Dua dekade lebih perjalanan Indonesia Fashion Festival (JF3) menunjukkan bagaimana sebuah fashion show dapat berkembang menjadi ekosistem yang mempertemukan kreativitas, bisnis, retail, komunitas, hingga jejaring internasional. Memasuki penyelenggaraan ke-22, BRI JF3 Fashion Festival 2026 kembali menegaskan peran tersebut melalui tema “Recrafted: Shaping the Future”.

Sejak pertama kali digelar oleh Summarecon pada 2004, JF3 terus membuka ruang bagi desainer dan brand untuk tidak hanya mempresentasikan karya, tetapi juga mendapatkan akses yang lebih luas terhadap pasar dan jejaring industri. Tahun ini, penguatan tersebut terlihat melalui sejumlah program kolaborasi lintas negara yang mempertemukan talenta Indonesia dengan desainer dan brand dari Prancis hingga Korea Selatan.

Bagi JF3, masa depan fashion tidak hanya ditentukan oleh kreativitas di atas runway. Pertukaran pengetahuan, craftsmanship, material, identitas budaya, serta kemampuan membangun koneksi dengan ekosistem yang lebih luas turut menjadi bagian penting dalam perkembangan industri.

Advisor JF3 Fashion Festival, Thresia Mareta, mengatakan bahwa Indonesia memiliki modal kreatif yang besar, mulai dari craftsmanship hingga kekayaan material dan pengetahuan tradisional. Namun, potensi tersebut membutuhkan ekosistem yang tepat agar dapat berkembang lebih jauh.

“Indonesia memiliki kekayaan craftsmanship, material, pengetahuan, dan identitas budaya yang sangat besar. Namun semua itu tidak cukup jika hanya berhenti sebagai potensi. Ia perlu diolah, diarahkan, dan dihubungkan dengan sistem yang tepat. Di JF3 Fashion Festival, kami ingin membuka ruang agar desainer tidak hanya tampil, tetapi juga berkembang, bertukar, dan menemukan peluang untuk melangkah lebih jauh.”

Fondasi inilah yang kemudian diperluas melalui kolaborasi internasional pada penyelenggaraan tahun ini. Tidak sekadar menghadirkan desainer asing ke Indonesia, sejumlah program dirancang untuk menciptakan pertukaran pengetahuan dan proses kreatif antara pelaku fashion dari berbagai latar belakang.

Mempertemukan Indonesia dan Prancis Lewat Streetwear

Salah satu kolaborasi yang hadir dalam BRI JF3 Fashion Festival 2026 adalah TAREET x DENIMITUP. TAREET merupakan brand asal Prancis milik Etienne, sementara DENIMITUP merupakan salah satu peserta program akselerator PINTU.

Keduanya menghadirkan pertunjukan bertajuk “Fas Delman”, yang menerjemahkan pertemuan budaya Indonesia dan Senegal ke dalam pendekatan streetwear kontemporer.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bagaimana pertukaran budaya dapat diterjemahkan menjadi bahasa desain yang lebih modern. Siluet dan pendekatan kontemporer digunakan untuk mempertemukan referensi budaya dengan karakter streetwear, sekaligus membuka ruang bagi karya Indonesia untuk masuk ke percakapan kreatif yang lebih luas.

 

PINTU Residency: Empat Desainer, Dua Negara, Satu Ruang Eksplorasi

Pertukaran kreatif Indonesia-Prancis juga dilanjutkan melalui PINTU Residency yang memasuki penyelenggaraan keduanya.

Program residensi ini mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam proses kreatif selama empat bulan, sejak April hingga Juli 2026. Program tersebut dikurasi oleh Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer.

Alih-alih sekadar menghasilkan koleksi, para desainer menjalani proses riset bersama, mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja dengan komunitas artisan, serta bertukar pengetahuan dan perspektif budaya.

Di Lombok, desainer Prancis Mickaël Nana berkolaborasi dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica untuk mengembangkan koleksi GARUDA. Koleksi tersebut mempertemukan pendekatan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok, sekaligus menginterpretasikan simbol Garuda melalui perspektif kontemporer.

Sementara itu, di Mojokerto, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella mengembangkan koleksi AU LARGE. Terinspirasi dari tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi ini menggabungkan batik, struktur tailoring, serta referensi seragam dalam siluet yang lebih modern.

Kedua hasil residensi tersebut kemudian dipresentasikan untuk pertama kalinya di JF3 Fashion Festival 2026.

Lebih dari sekadar menghasilkan pakaian, proses residensi tersebut mempertemukan desainer, artisan, material, teknik, dan latar budaya yang berbeda. Pertukaran semacam ini menjadi salah satu cara untuk membangun proses kreatif yang memiliki nilai jangka panjang bagi para pelaku yang terlibat.

 

Kolaborasi LAKON Indonesia dan euneun Perkuat Jejaring Fashion Indonesia-Korea Selatan

Hubungan internasional JF3 tahun ini juga menjangkau Korea Selatan melalui presentasi LAKON Indonesia Supported by euneun.

Dalam koleksi bertajuk “Harsa”, LAKON Indonesia di bawah arahan Creative Director Irsan menghadirkan 36 look yang mengeksplorasi batik dan bordir tangan Indonesia melalui pendekatan desain modern.

Koleksi tersebut menggunakan sejumlah material seperti katun poplin, katun voile, satin duchess, dan organza. Eksplorasi dilakukan melalui proporsi, konstruksi, serta permainan material untuk menerjemahkan kekayaan teknik tradisional ke dalam bahasa desain yang lebih kontemporer.

Kolaborasi ini turut melibatkan euneun, brand tas asal Korea Selatan. Kehadiran pendirinya, Hahm Eun-jung, yang juga dikenal sebagai idol dan aktris Korea Selatan, menjadi bagian dari semakin terbukanya ruang pertukaran antara industri fashion Indonesia dan Korea Selatan.

 

Rangkaian kolaborasi internasional tersebut memperlihatkan perubahan peran JF3 dalam ekosistem fashion Indonesia. Jika sebelumnya fashion show identik dengan panggung untuk memperkenalkan koleksi, JF3 kini membawa pendekatan yang lebih luas dengan mempertemukan talenta, pengetahuan, komunitas artisan, brand, retail, serta jejaring internasional.

Tema “Recrafted: Shaping the Future” menjadi relevan dalam konteks tersebut. Masa depan fashion tidak hanya berbicara tentang menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga bagaimana kekayaan yang sudah ada—mulai dari teknik tradisional, material, craftsmanship, hingga identitas budaya—dapat diolah kembali dan ditempatkan dalam konteks yang lebih relevan.

Melalui kolaborasi lintas negara, BRI JF3 Fashion Festival 2026 berupaya membuka lebih banyak ruang bagi desainer dan brand Indonesia untuk membangun koneksi dengan ekosistem global. Dari runway, proses kreatif bergerak menuju pertukaran pengetahuan, akses pasar, dan peluang kolaborasi yang lebih luas.

Setelah lebih dari dua dekade menjadi bagian dari perjalanan fashion Indonesia, JF3 terus memperluas definisinya sebagai platform. Bukan hanya tempat karya dipresentasikan, tetapi ruang tempat kreativitas bertemu dengan craftsmanship, bisnis, komunitas, dan jejaring internasional untuk membentuk arah baru bagi fashion Indonesia.