Muslim Indonesia Kian Mobile, TAZA IMPACT Angkat Tantangan Hidup di Negara Minoritas Lewat Forum dan Peluncuran Buku
Jumlah warga Indonesia yang menempuh pendidikan, bekerja, hingga menetap di luar negeri terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Bersamaan dengan meningkatnya mobilitas tersebut, muncul beragam tantangan baru bagi Muslim Indonesia untuk menjalankan kehidupan beragama di negara yang populasi Muslimnya relatif sedikit.
Persoalan itu menjadi tema forum "Becoming Muslim in Borderless World" yang digelar TAZA IMPACT di Jakarta, Sabtu (25/7). Kegiatan tersebut juga menjadi momen peluncuran buku Kompas Muslim di Negeri Minoritas karya Ustadz Abdurrahman Zahier yang diterbitkan bersama Fitya Center Indonesia.
Forum menghadirkan Budhi Dharma, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, serta CEO KitaBisa Vikra Ijas. Diskusi membahas berbagai pengalaman Muslim Indonesia saat tinggal di luar negeri, mulai dari menjalankan ibadah hingga berinteraksi dengan masyarakat yang memiliki latar budaya dan agama berbeda.
Founder TAZA, Ashila Ramadhani, mengatakan forum tersebut dibangun sebagai ruang bertukar gagasan mengenai kehidupan Muslim di tengah dunia yang semakin terhubung.
"Melalui TAZA IMPACT, kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi yang relevan dengan tantangan umat saat ini. Becoming Muslim in Borderless World menjadi salah satu upaya kami mendukung lahirnya karya yang membekali Muslim Indonesia agar tetap percaya diri menjalankan nilai-nilai Islam di mana pun mereka berada," kata Ashila.
Mobilitas lintas negara membuat persoalan yang dihadapi Muslim tidak lagi terbatas pada urusan administrasi atau adaptasi budaya. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga dihadapkan pada kebutuhan menemukan tempat ibadah, memperoleh makanan halal, hingga menjalankan ibadah di lingkungan yang belum akrab dengan praktik keislaman.
Situasi tersebut menjadi titik tolak penyusunan Kompas Muslim di Negeri Minoritas. Buku ini mengulas berbagai persoalan yang kerap ditemui Muslim Indonesia ketika tinggal atau bepergian ke negara dengan populasi Muslim yang kecil. Selain membahas panduan fikih, buku tersebut juga mengangkat cara membangun hubungan sosial yang baik tanpa meninggalkan prinsip-prinsip keislaman.
Penulis buku, Ustadz Abdurrahman Zahier, mengatakan kehidupan di negara minoritas menuntut Muslim memiliki pemahaman yang memadai agar dapat menjalankan ajaran agama sekaligus hidup berdampingan dengan masyarakat setempat.
"Menjadi Muslim di negeri minoritas bukan berarti menjadi Muslim yang lebih sedikit, melainkan belajar menghadirkan Islam dengan hikmah, akhlak, dan kebijaksanaan. Saya berharap buku ini dapat menjadi teman perjalanan yang membantu setiap Muslim tetap menjaga prinsip agamanya sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya," ujarnya.
Menurut penyelenggara, forum ini merupakan bagian dari program TAZA IMPACT yang berfokus pada bidang spiritual, pendidikan, sosial, dan lingkungan. Melalui kolaborasi dengan Fitya Center Indonesia, penyelenggara berharap buku tersebut dapat menjadi salah satu referensi bagi Muslim Indonesia yang menjalani aktivitas lintas negara, baik untuk belajar, bekerja, maupun bepergian.
Diskusi juga menyoroti bahwa kehidupan di tengah masyarakat multikultural tidak hanya menuntut kemampuan beradaptasi, tetapi juga pemahaman terhadap nilai-nilai keberagaman. Dalam konteks tersebut, identitas keagamaan dipandang dapat berjalan beriringan dengan keterbukaan terhadap lingkungan sosial yang berbeda.


