Empat Tren Kuliner Global Dorong UFS Perkuat Strategi Industri Makanan di Indonesia

Editor Oleh: Angie (Editor) - 20 July 2025

 

Tekanan biaya operasional, shifting selera konsumen, dan makin tajamnya persaingan membuat pelaku industri makanan tak bisa lagi hanya mengandalkan resep yang enak. Dibutuhkan strategi yang lebih adaptif dan berbasis tren nyata untuk menjaga keberlanjutan bisnis. Menjawab hal itu, Unilever Food Solutions (UFS) resmi meluncurkan Future Menu 2025 di Indonesia, sebuah panduan strategis berbasis riset global untuk membantu chef dan pengusaha kuliner merespons tantangan hari ini dan membuka peluang baru lewat inovasi rasa.

Setelah diperkenalkan di kawasan Asia Tenggara dalam ajang Future Menu 2025 SEA di Bangkok pada Mei lalu, versi lokal dari panduan ini kini diperkenalkan ke pasar Indonesia melalui peluncuran resmi dan serangkaian kegiatan yang ditujukan bagi pelaku industri kuliner di berbagai kota. UFS juga menerjemahkan riset dan tren global tersebut ke dalam e-book dan berbagai inisiatif yang bisa langsung diakses dan diterapkan oleh pebisnis makanan dan minuman di Tanah Air.

Raditya Beer, Country Marketing Manager Unilever Food Solutions Indonesia, menyebut bahwa pelaku industri kuliner kini dituntut untuk lebih tangkas dalam menyikapi perubahan. “Tantangan seperti kenaikan biaya operasional, shifting preferensi konsumen, dan kompetisi yang makin ketat mendorong industri untuk bukan hanya fokus pada rasa, tapi juga efisiensi, orisinalitas, dan daya saing jangka panjang,” ujarnya.

UFS, yang menaungi merek-merek seperti Knorr Professional, Bango, dan Royco, mengangkat empat tren utama sebagai arah eksplorasi:

 

Street Food Couture
Tren ini mengelevasi konsep street food menjadi pengalaman kuliner yang lebih premium. Berdasarkan data Rakuten Insight, 79 persen konsumen Indonesia memilih street food saat makan di luar, menjadikannya lahan subur untuk inovasi. Chef dan pelaku bisnis bisa memanfaatkan tren ini dengan menghadirkan versi lebih sophisticated dari sajian kaki lima, lengkap dengan teknik memasak yang lebih presisi dan presentasi yang lebih menarik.

Culinary Roots
Minat terhadap sajian lokal terus tumbuh, apalagi di tengah tren konsumen yang mencari koneksi emosional dengan budaya. Culinary Roots mendorong eksplorasi resep tradisional yang jarang tersentuh, termasuk penggunaan teknik memasak khas daerah dan kekayaan rempah nusantara. Tujuannya bukan sekadar menghadirkan nostalgia, tetapi memperkuat identitas rasa yang relevan dengan pasar masa kini.

Borderless Cuisine
Konsumsi lintas budaya makin menjadi kebiasaan baru. Masyarakat urban, terutama generasi muda, makin terbuka dengan kolaborasi rasa antar negara. Di sinilah pelaku kuliner bisa menghadirkan menu fusion yang tetap setia pada esensi otentik, bukan hanya sekadar mix and match rasa.

Diner Designed
Pengalaman makan kini tidak lagi sebatas soal rasa. Personalisasi jadi kunci, terutama bagi konsumen muda yang melihat makanan sebagai bagian dari ekspresi diri. Chef ditantang menciptakan pengalaman bersantap yang imersif—terintegrasi dengan gaya hidup dan preferensi personal konsumen.

E-book Future Menu 2025 yang berisi ringkasan tren, ide resep, hingga teknik memasak kini sudah tersedia melalui situs resmi UFS Indonesia. Semua isi e-book telah disesuaikan dengan lanskap industri kuliner lokal agar bisa langsung diimplementasikan oleh pelaku bisnis di berbagai segmen.

Untuk memperluas dampak dari peluncuran ini, UFS menggelar kompetisi memasak daring yang mengundang para Chef dan pelaku kuliner untuk mengembangkan kreasi berdasarkan empat tren tadi. Kompetisi yang berlangsung sepanjang Juli–Agustus ini menawarkan hadiah puluhan juta rupiah dan melibatkan juri dari kalangan profesional, seperti Chef Ronald Tokilov dari Balicooks dan Chef Gun Gun Handayana dari UFS Indonesia. Informasi lengkap tersedia di akun Instagram resmi UFS Indonesia.

Tak hanya kompetisi, UFS juga menggulirkan rangkaian kegiatan luring di Jakarta, Semarang, dan Bali. Di ketiga kota ini, para pelaku bisnis makanan diajak mencicipi langsung menu yang terinspirasi dari tren global yang sudah diadaptasi dengan bahan dan pendekatan lokal. UFS juga tengah menjajaki kolaborasi dengan restoran-restoran besar untuk menghadirkan menu khusus Future Menu 2025 yang bisa dinikmati konsumen secara luas.

Raditya menutup dengan menegaskan bahwa Future Menu tidak sekadar soal menu baru, melainkan upaya strategis untuk mendorong daya saing industri kuliner nasional melalui inspirasi yang kontekstual dan bisa dieksekusi langsung di dapur bisnis. “Kami percaya Indonesia punya banyak potensi rasa yang belum tergali maksimal. Future Menu bisa jadi salah satu alat untuk membuka potensi itu ke panggung yang lebih luas.”