Search:
Email:     Password:        
 





Belu NTT yang Tak Kalah Indah

By Syulianita (Editor) - 03 December 2019 | telah dibaca 380 kali

Belu NTT yang Tak Kalah Indah

Naskah : Suci Yulianita, Foto: Dok. Kementerian PUPR

 

 

Nama Flores tentu sudah tak asing lagi bagi para traveler. Pulau Flores yang terkenal dengan kawasan wisata Labuan Bajo dan Pulau Komodo ini sudah terkenal hingga ke mancanegara. Banyak wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri datang berlibur menikmati langsung eksotisnya kawasan yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini. Namun, sesungguhnya tak hanya Flores saja yang menyimpan keindahan dan kekayaan potensi pariwisata di Indonesia. Masih ada destinasi wisata lainnya yang sama indah dan menariknya di NTT, kawasan Belu misalnya. Meski lokasinya cukup jauh, berada di bagian tengah Pulau Timor berbatasan dengan Negara Timor Leste, Kabupaten Belu menawarkan destinasi wisata yang beragam, mulai dari danau, pegunungan, wisata pantai,  hingga padang rumput Fulan Fehan yang memesona.

 

Tak perlu khawatir bagi para traveler yang ingin mencoba berwisata ke Belu selain ke Labuan Bajo dan Pulau Komodo di NTT. Belu kini sungguh tampak sangat indah, tak kalah indah dengan destinasi wisata yang lebih dulu dikenal itu. Apalagi kini peran pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang mendukung infrastruktur di daerah dengan luas wilayah kurang lebih 1.284,94 km² ini, menjadikan Belu sangat mudah dijangkau dan nyaman dikunjungi sebagai salah satu pilihan destinasi wisata di NTT. 

 

Belu menawarkan beragam destinasi wisata yang menarik. Pantai Pasir Putih Atapupu  yang terletak di Desa Kenebibi. Ada pula Pantai Sukaerlaran serta Pantai Teluk Gurita. Di pantai ini wisatawan akan terpesona pada keindahan pasir putihnya dan jernihnya air laut. Tak jauh dari Teluk Gurita ada Kolam Susuk yang tak terlalu besar, namun indah. Pemandangan sekawanan bangau yang sedang bersantai di kolam pada sore hari, melengkapi keindahan kolam tersebut. Itu belum seberapa karena ternyata masih banyak destinasi wisata menarik lainnya yang bisa disinggahi, termasuk di antaranya infrastruktur, sarana dan prasarana yang dikembangkan Kementerian PUPR beberapa tahun terakhir ini dapat menjadi pilihan destinasi wisata terbaru. 

 

 

Lembah Fulan Fehan

 

Inilah destinasi wisata yang wajib dikunjungi jika Anda ke Belu. Ada yang mengatakan, kunjungan ke Belu tak lengkap rasanya jika tak singgah ke lembah ini. Lembah di kaki gunung Lakaan ini terletak di Desa Dirun, sekitar 26 km dari Atambua, pusat kota di Kabupaten Belu. Namun ada lagi yang lebih menarik dari lembah ini, yaitu Padang Rumput Fulan Fehan yang berada sekitar 40 km dari Atambua. Anda bisa bayangkan keindahan padang rumput yang luas, lengkap dengan tanaman kaktus di sekitarnya. Disarankan datang pada saat musim hujan agar terlihat pemandangan hijau yang indah dan mempesona untuk diabadikan. Sebaliknya jika datang pada saat musim panas, khawatir gersang. Yang juga menarik, terdapat banyak kuda dan sapi yang dibiarkan berkeliaran di padang rumput ini.  

 

Memang untuk menuju padang rumput ini dibutuhkan perjuangan, pelancong harus berpetualang hiking melewati lembah dan bukit dengan waktu sekitar 2 jam berjalan kaki, bisa melalui Desa Dirun atau Desa Maudemu. Namun jangan khawatir, perjalanan tersebut tidaklah terasa karena sepanjang perjalanan Anda akan melihat pemandangan indah menyejukan mata. Apalagi jika dilakukan beramai-ramai bersama teman-teman atau keluarga. Perjalanan tak terasa melelahkan. Dan bagi yang senang mendaki gunung, bisa melanjutkan petualangan dengan mendaki Gunung Lakaan.

 

Selain padang rumput, di tempat ini pun terdapat beberapa objek wisata lainnya yang menarik perhatian para wisatawan, seperti keindahan Air Terjun Sihata Mauhale yang terletak di antara Desa Aitoun dan  Air Terjun Lesu Til di Weluli. Selain itu, ada pula objek bersejarah Benteng Ranu Hitu atau Benteng Lapis Tujuh di Puncak Bukit Makes, desa dan kuburan bangsa Melus yang menjadi peninggalan sejarah, hingga kuburan tua Kikit Gewen yang konon sangat sakral. Tak ketinggalan wisata budaya yang menarik perhatian para wisatawan yaitu Festival Fulan Fehan yang digelar setiap tahun bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober.

Bendungan Rotiklot

 

Nusa Tenggara Timur yang memiliki curah hujan lebih sedikit dibanding daerah lain di Indonesia menjadi perhatian penuh bagi pemerintah, khususnya Kementerian PUPR. Menurut Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting bagi pembangunan di NTT. “Kunci kemajuan di NTT adalah air. Ketersediaan air dibutuhkan untuk air minum, pertanian, peternakan dan lainnya,” ungkap Basuki.

 

Sementara itu karena curah hujan yang rendah di NTT maka Kementerian PUPR berupaya untuk memenuhi kebutuhan air di NTT, salah satunya dengan membangun beberapa bendungan di NTT. Selama periode 2015 – 2019 tercatat kurang lebih 49 bendungan baru yang dibangun pemerintah. Salah satunya adalah Bendungan Rotiklot yang terletak di Kabupaten Belu, NTT. 

 

Agar berfungsi maksimal, pembangunan bendungan dengan kapasitas hingga 3,3 juta meter kubik ini juga diikuti pembangunan jaringan irigasi. “Dengan demikian, bendungan yang dibangun dapat bermanfaat karena airnya dipastikan mengalir sampai ke sawah-sawah milik petani,” ucap Basuki. Dengan adanya bendungan tersebut, diharapkan dapat memenuhi air baku masyarakat dan kegiatan Pelabuhan Atapupu sebesar 14 liter/detik, suplai irigasi seluas 139 hektar, hingga kegiatan pariwisata.

 

Seperti yang disampaikan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, “Untuk menuju sebuah kemakmuran dan kesejahteraan, NTT membutuhkan air. Oleh sebab itu, di NTT dibangun banyak bendungan, antara lain Bendungan Rotiklot. Bendungan Rotiklot bisa mengairi lahan sekitar kurang lebih 139 hektar, lahan yang sangat luas yang bisa diairi dari Bendungan Rotiklot ini. Ini juga nantinya bisa dipakai pembangkit listrik tenaga air, bisa juga untuk tempat wisata, bisa juga untuk air baku seluruh penduduk di Kabupaten Belu,” ujar Presiden Joko Widodo dalam kata sambutannya saat meresmikan Bendungan Rotiklot. Gayung bersambut, masyarakat Kabupaten Belu pun merasakan betul manfaat dari pembangunan Bendungan Rotiklot, seperti yang disampaikan Fernando, perwakilan dari masyarakat Desa Fatuketi, yang mengatakan bahwa bendungan ini sangat bermanfaat untuk masyarakat. “Dengan adanya bendungan ini, kami jadi bisa bekerja, panen lancar, dalam satu tahun bisa dua sampai tiga kali panen,” ungkapnya. 

 

Hal senada diungkapkan Lurah Rinbesi, Sophia Lina yang berharap dengan adanya Bendungan Rotiklot, masalah ketersediaan air yang selama ini menjadi keluhan warga bisa teratasi. “Tentu dengan adanya Bendungan Rotiklot ini, bisa membawa kecerahan, membawa banyak berkat buat kami masyarakat Kabupaten Belu,” kata  Ibu Lurah.

 

 

PLBN Motaain

 

Sejalan dengan program Nawa Cita Presiden Joko Widodo ‘Membangun Indonesia dari Pinggiran’, maka dilakukan pembangunan infrastruktur dan renovasi Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain. PLBN yang kini telah menjadi salah satu ikon Indonesia ini, tak hanya berfungsi sebagai pos lintas batas, tapi juga menjadi salah satu destinasi wisata menarik di Kabupaten Belu. Hal itu lantaran pos ini kini telah direnovasi, dari yang sebelumnya hanya berupa rumah biasa, kini direnovasi menjadi sebuah bangunan megah bergaya rumah tradisional masyarakat Belu. Dengan demikian PLBN Motaain menjadi sebuah lokasi menarik untuk disinggahi para wisatawan yang berwisata ke Kabupaten Belu.

 

Diresmikan pada tahun 2016, PLBN Motaain kini sudah ramai dikunjungi wisatawan, dan menjadi objek wisata selfie karena memang banyak spot-spot menarik untuk mengabadikan gambar. Tak hanya wisatawan yang datang berkunjung, warga sekitar, seperti dari Atambua juga menjadikan PLBN Motaain sebagai destinasi wisata pilihan. Karena keunikannya, banyak yang datang hanya untuk berswa foto di lokasi tersebut, apalagi tempat itu menjadi sesuatu yang baru bagi mereka. 

 

PLBN berdiri megah di atas lahan seluas 8,8 hektar. Bangunannya terbagi menjadi beberapa bagian, zona inti yang meliputi bangunan utama PLBN, gedung pemeriksaan kendaraan, dan power house. Bagi para wisatawan tak sulit mencari kawasan ini. Dari kejauhan sudah tampak bangunannya yang berbeda dari bangunan sekitar. Keunikan bentuk atap rumah Matabesi yaitu rumah tradisional masyarakat Belu menjadi salah satu daya tarik bangunan ini. Selain itu, corak tenun yang diaplikasikan pada salah satu atap bangunan menambah kentalnya nuansa budaya NTT.

 

Untuk menarik perhatian wisatawan yang ingin berkunjung ke situ, dilakukan pembenahan infrastruktur jalan raya dari PLBN Motaain menuju ibukota Kabupaten Belu, Atambua yang kini sudah bagus. Bahkan rencananya akan dilengkapi terminal terpadu di kawasan tersebut sehingga memudahkan akses transportasi. Sementara itu, untuk saat ini sudah ada pasar perbatasan yang meliputi pembangunan mess pegawai, Wisma Indonesia, tempat pencucian mobil, x-ray mobile, lapangan olahraga, hingga pos pengaman perbatasan (pamtas) TNI dan Polri. Untuk itu, Menteri PUPR, Basuki meminta agar pasar tersebut segera dimanfaatkan dengan baik agar aktivitas ekonomi di wilayah perbatasan bisa bergerak dengan lebih baik lagi. “Bangunanbangunan tersebut harus segera dimanfaatkan untuk bisa menjalankan kegiatan ekonomi masyarakat,” tegasnya.

Jalan Sabuk Merah

 

Selain PLBN Motaain, Kementerian PUPR juga membangun infrastruktur lain untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan di NTT. Hal tersebut dilakukan sebagai wujud nyata membangun Indonesia dari pinggiran. “Pembangunan jalan perbatasan merupakan implementasi dari Nawa Cita Presiden Joko Widodo untuk membangun Indonesia dari pinggiran dalam rangka menjaga kedaulatan NKRI,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Melalui Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) X Kupang Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR juga membangun Jalan perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan dengan Timor Leste sepanjang 179,99 kilometer dari Kabupaten Belu hingga Kabupaten Malaka. 

 

Jalan perbatasan yang dikenal dengan nama Jalan Sabuk Merah Sektor Timur ini bukan sekadar jalan penghubung tetapi lebih dari itu. Memiliki makna yang lebih penting karena menjadi akses ke garis perbatasan. Dengan demikian bisa mempermudah pengawasan garis perbatasan antar dua negara tersebut. Rencananya akan dibangun sebanyak 44 buah jembatan rangka baja dengan panjang 1600 meter di sepanjang Jalan Sabuk Merah Sektor Timur tersebut. Sedangkan Sabuk Merah di Sektor Barat di daerah Timor Tengah Utara (TTU) sepanjang 130,88 kilometer akan dilakukan penanganan apabila Jalan Sabuk Merah di Sektor Timur telah seluruhnya tersambung. 

 

Dengan adanya Jalan Sabuk Merah Sektor Timur, akses menuju Fulan Fehan juga menjadi mudah. Sehingga otomatis akan meningkatkan sektor pariwisata di Kabupaten Belu. Apalagi jika mengingat sebelum ada Jalan Sabuk Merah, akses menuju Fulan Fehan sangatlah sulit, tapi kini lebih mudah dijangkau. Selain itu, Jalan Sabuk Merah juga akan mendukung perekonomian masyarakat setempat. Produksi komoditas perkebunan seperti pohon kayu putih, kelor dan jambu mete yang berada di kawasan Fulan Fehan tentunya akan lebih meningkat karena sudah ada jalan ini. Dengan demikian tentu akan menjadi nilai tambah bagi produk lokal. 

 

 

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

                 

Popular

     

Photo Gallery

   

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250