Search:
Email:     Password:        
 





Ketika Mimpi Bisa Diatur

By Giatri (Editor) - 22 May 2018 | telah dibaca 151 kali

Naskah: Sahrudi

Mungkin ini kabar gembira bagi Anda yang sering bermimpi buruk dan ingin mengubahnya menjadi mimpi indah. Ya, sejumlah peneliti dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) tengah merancang perangkat Dormio untuk mengeksplorasi cara-cara demi meningkatkan kreativitas seseorang melalui pemanfaatan tahap tidur Hypnagogia semi-lucid. Dormio sendiri diterangkan sebagai perangkat yang memungkinkan orang untuk mengontrol konten mimpi mereka.

Sistem ini bekerja dengan melacak keadaan transisi melalui biosignals, seperti denyut jantung dan tonus otot dengan menggunakan alat yang dikenakan tangan untuk. Pemakainya akan meninggalkan Hypnagogia dan bertransisi ke tidur nyenyak, sementara alat berupa robot ditaruh tak jauh dari tempat tidur sebagai pemicu dengan mengeluarkan suara untuk mendorong mereka kembali ke kondisi mimpi. Misalnya suara yang digunakan untuk membangunkan orang itu adalah sebuah kata, maka suara itu dapat memasuki mimpi pemakai Dormio.Contohnya, jika robot mengatakan 'garpu' atau 'kelinci', mimpi itu akan menggabungkan objek-objek ini.

Sayangnya, tidak dijelaskan kapan alat tersebut akan diperkenalkan kepada publik.

Sebenarnya, tanpa alat Dormio tersebut, seseorang bisa saja mengendalikan mimpi yang dialaminya asalkan ia ada pada kondisi lucid dream, yakni kondisi dimana saat seseorang sadar bahwa dia sedang bermimpi. Istilah  Lucid berasal dari bahasa Latin “Lux”, artinya “cahaya” dan “dream” artinya mimpi. Dalam bahasa Indonesia Lucid Dream bisa diartikan sebagai “mimpi yang jelas” atau “mimpi cerah”, atau “mimpi terang”.

Intinya, Lucid Dream bisa membuat kita menjadi kreator dan pemeran utama dari sebuah mimpi yang bersifat infinity. Jadi, tidak perlu ilmu khusus atau kekuatan supranatural untuk melakukannya, karena semua ini murni science dan logis. Fenomena lucid dream ini sebenarnya telah banyak disebutkan di masa masa lampau, hanya saja baru beberapa dekade ke belakang ini, komunitas sains mulai mengakui keberadaan fenomena satu ini.

Istilah Lucid Dream itu sendiri diperkenalkan seorang psikolog dan ilmuwan mimpi dari Belanda, Frederick Van Eeden.  Pada tahun 1913 dia menerbitkan jurnal"A Study of Dreams".  pada komunitas ilmuwan psikolog mengenai lucid dream yang merekam 352 Lucid Dream yang dialaminya dari tahun 1898 dan 1912.

Dalam hal ini ada beberapa level lucidity, dimana semakin tinggi tingkat lucidity-nya semakin bebas dan leluasa kita melakukan proyeksi untuk pemunculan objek dan sejenisnya. Artinya, ketika kita mencapai tingkat lucidity paling tinggi kita menjalani kehidupan di mimpi hampir 80% persis dengan di kehidupan nyata.

Seorang psikolog Inggris dari University of Lincoln menemukan fakta bahwa orang yang mengalami Lucid Dream umumnya memiliki kemampuan memecahkan masalah yang lebih baik. Karena Lucid Dream juga terkait dengan kemampuan menyadari antara batas mimpi dan realita. Dengan kata lain, meski tertidur biasanya mereka dapat menyadari saat mereka sedang bermimpi. Dengan kata lain, menurut ketua studi Dr Patrick Bourke, pengajar di School of Psychology di Lincoln, seseorang dapat dikatakan mengalami Lucid Dream apabila ia mampu melihat dan mengingat sebagian besar kejadian yang terjadi di alam mimpinya, dan menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi. Kemampuan inilah yang kemudian mempengaruhi kemampuan berpikir mereka saat terjaga.

Lebih lanjut Dr.Patrick Bourke menyebutkan bahwa dalam studi yang dipublikasikan di American Psychological Associaton ini, peneliti menganalisa tipe-tipe mimpi dari 68 orang yang berusia antara 18-25 tahun. Mereka juga mengukur kemampuan kognitif partisipan dengan sebuah tes. Hasilnya, partisipan yang mengalami lucid dream mampu menjawab soal 24 persen lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang belum pernah mengalami lucid dream. Orang yang mengalami lucid dream memiliki kemampuan untuk menyadari hal-hal inkonsisten yang menunjukkan bahwa yang ia alami itu tidaklah nyata, sehingga ia menyadari sedang bermimpi. Kemampuan membedakan hal-hal inkonsisten dalam sebuah kejadian non-realita inilah yang melatih otak untuk terbiasa menganalisis dan menyadari ketidakkonsistenan yang terjadi di kehidupan nyata saat seseorang terjaga. Hal ini meningkatkan kualitas kecerdasan kognitif dan kemampuan memecahkan masalah. Meski hampir semua orang mengaku pernah mengalami Lucid Dream setidaknya sekali dalam hidupnya, namun 20 persen di antara mereka mengalami Lucid Dream rutin sekali setiap bulan atau lebih.

Hasil penelitian menunjukkan, orang yang rutin mengalami lucid dream mampu menyelesaikan jauh lebih banyak dari orang yang tidak mengalami lucid dream. Ini menunjukkan bahwa kesadaran yang dialami selama di alam mimpi mungkin berhubungan dengan kognisi dasar yang sama yang dibutuhkan untuk menyadari hal-hal dalam kondisi terjaga. **


Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

   

 

Popular

 

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250