Search:
Email:     Password:        
 





Hanifa Ambadar, Empowering Women Melalui Bisnis

By Syulianita (Editor) - 25 February 2018 | telah dibaca 244 kali

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto

 

 

Berawal dari seorang blogger, Hanifa Ambadar kini menjadi salah satu pengusaha wanita muda ternama di Indonesia. Melalui bisnisnya ini, Hanifa memiliki visi misi ingin empowering women to be working mothers. Ya, terbukti 95% pegawainya adalah seorang wanita.

 

Beberapa waktu lalu, Men’s Obsession berkesempatan mengunjungi kantornya di kawasan Pejaten Jakarta Selatan. Kantor yang luas nan asri sungguh terasa sangat nyaman. Sejak kali pertama memasuki ruangan, terasa kesan hangat yang menyambut siapapun yang berkunjung. Memasuki ruangan demi ruangan yang open space, tak ada sekat-sekat yang membatasi dan membedakan, semua sama, pun termasuk ruangan sang founder dan owner yang menyatu dengan siapapun. Tampak para staf yang mayoritas adalah kaum hawa sedang serius bekerja di mejanya masing-masing. “Hallo, maaf lama menunggu.Saya Hani,” sang founder dari kantor tersebut menyapa kami dengan ramah.

 

Ya, Hanifa Ambadar yang akrab disapa Hani, adalah founder dan owner dari kantor tersebut, sebuah grup media wanita di bawah payung Female Daily Network (FDG). Siapa sangka di balik perawakannya yang mungil dengan wajah ayu keibuan, Hani sejatinya menyimpan semangat dan mental baja sebagai seorang pengusaha wanita. Terbukti, ia mampu mengembangkan bisnisnya yang diawali dari keisengannnya menjadi seorang blogger.

 

Dengan ramah, Hani bercerita bagaimana ia mengawali bisnisnya hingga menjadi besar seperti saat ini. Kala itu, pada awal tahun 2000-an, Hani yang tinggal di negeri Paman Sam senang mengisi waktu luangnya dengan menulis. Di samping meneruskan pendidikan masternya dan mengurus keluarga, ia juga aktif sebagai seorang blogger. Hani melihat peluang sangat besar dari dunia maya. Ketika itu dunia blogging di Amerika Serikat memang sudah mulai bertumbuh, sementara di Indonesia belum mulai.

 

“Aku melihatnya ini sebagai sebuah peluang, beberapa tahun ke depan di Indonesia akan seperti ini. Ini juga menjadi prospek untuk mendapatkan penghasilan dari produk yang mengajak kerjasama. Akhirnya diseriusin meski awalnya sambil kuliah dan mengurus keluarga. Setelah dua tahun, saya melihat readers-nya semakin banyak dan mereka saling ngobrol. Nah dari situ saya berpikir perlu adanya fasilitas untuk mereka, akhirnya dibuat forum, semakin ramai dan obrolan pun semakin beragam, mulai dari beauty, fashion, traveling, karier, entrepreneurship, wedding, parenting, all about women,” kenang Hani sembari tersenyum manis.

 

 

Pada 2010 saat Hani kembali lagi ke negeri tercinta Indonesia, ia semakin mantap untuk mengembangkannya menjadi sebuah bisnis. Apalagi saat itu, ia sudah memiliki penghasilan dan komunitas wanita yang sayang sekali jika tidak dikembangkan menjadi lebih besar lagi. Ia benar-benar memulainya dari awal, dari hanya menyewa sebuah ruangan kecil untuk kantor, dibantu satu orang co-founder yang juga memutuskan resign dari pekerjaannya untuk membesarkan bisnisnya ini, serta satu orang sales, kini telah menjelma menjadi sebuah kantor besar dengan puluhan karyawan. “Begitulah, dari 2010 sampai sekarang berkembang sedikit demi sedikit. Tapi alhamdulillah growing, sustainable,” ucapnya penuh rasa syukur.

 

Ada yang menarik dari bisnisnya ini. Membawahi media wanita yang membahas topik seputar wanita dan parenting, Hani juga memiliki visi misi besar nan mulia, yakni, ia ingin empowering women to be working mothers. “Cita cita awalnya sih memang ingin kantornya perempuan semua, tapi nggak kesampaian karena ada beberapa bagian teknis, seperti IT, developer dan engine yang sedikit sekali talent perempuannya,” cerita wanita kelahiran Jakarta, 21 Mei 1979 ini.

 

Selain memberdayakan para kaum hawa untuk bekerja di kantornya, Hani juga melakukan empowering women melalui medianya yang diharapkan para wanita di luar sana bisa terinspirasi untuk menjadi independent women. “Perempuan itu harus berdaya. Meski ada yang tidak kerja di kantor, tapi perempuan itu harus bisa independen secara ekonomi. Perempuan itu multi tasking, banyak yang bisa dilakukan di luar perannya sebagai istri, sebagai seorang ibu. Masih bisa bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya. Bahkan dari rumah pun sebenarnyabanyak yang bisa dilakukan, usaha misalnya catering, jualan online, dan lainnya. Sayang jika tidak dimaksimalkan. Jadi aku memang ingin banget sih empowering perempuan. Jadi memang tujuannya itu,” terang Hani penuh semangat.

 

Memimpin sebuah perusahaan dimana mayoritas adalah kaum hawa, Hani menerapkan corporate culture kekeluargaan yang terbuka. Dengan begitu, menurutnya, siapapun akan memiliki sense of belonging yang tinggi pada perusahaannya ini, serta turut bertanggungjawab atas setiap permasalahan dan tantangan yang dihadapi. Dalam memimpin, Hani yang dikenal sangat terbuka dan ramah ini, lebih memilih output dengan minim supervisi. “Karena yang aku pelajari milenial itu lebih suka dikasih kebebasan dan biarkan saja dia bekerja dengan caranya sendiri. Yang penting kan hasilnya, outputnya,” tegas Hani.  

 

 

Keluarga dan ‘Me Time’

 

Di tengah kesibukannya sebagai seorang pebisnis, Hani tentu masih memiliki quality time bersama keluarganya, terutama kedua buah hatinya. Dan betapa beruntungnya ia masih bisa melihat momen demi momen berharga keduanya tanpa terlewatkan sedikit pun. Tak sulit baginya lantaran lokasi kantor dan rumah yang tak terlalu jauh sehingga ia masih bisa terus dekat dengan putra-putrinya ini. Dan jika ada event yang mengharuskannya bekerja pada hari libur atau weekend, Hani pun seringkali mengajak mereka ikut serta.

 

Ibu dari Jibran Aimar (14 tahun) dan Jehan Annura (10 tahun) ini juga masih memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Jika ada waktu luang, Hani melakukan ritual ‘me time’nya dengan melakukan banyak hal, mulai dari olahraga, membaca atau membersihkan rumah. Untuk menghindari rasa jenuh, Hani menyukai segala jenis olahraga yang biasanya dilakukan berganti-gantian, mulai dari yoga, zumba, dan lari.

 

Me time aku senangnya di rumah. Kalau bisa di rumah sendirian aku senang banget,karena aku orangnya senang beres-beres rumah, apalagi kalau lagi stres banyak pikiran, aku senang banget bongkar lemari, buang-buangin yang sudah nggak kepake. Kalau rumah rapih itu berarti lagi stress, haha. Pokoknya aku tuh kalau habis beres-beres itu berasanya lebih tenang dan nggak stress, haha…” ia tertawa.

 

Ya, ‘me time’ adalah salah satu kegiatan yang paling menyenangkan baginya. “Buat aku me time itu seru banget, terkadang aku memang senang sendiri, enjoy being alone. Aku menikmati momen-momen simpel saat sendiri, seperti ngopi sendiri di coffee shop sembari baca buku, atau bisa olahraga sendiri,” pungkas penggemar buku parenting, seperti ‘Battle Hymn of The Tiger Mother’.

 

 


Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

     

 

Popular

 

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250